Wednesday, July 16, 2014

My First....

Cinta gak cuman sekedar kata-kata aku kamu, aku cinta kamu, aku sayang kamu, aku dan kamu bersama dan sebagai-bagainya.
Cinta bukan hanya tentang kita berdua dan hati kita yang telah terikat satu sama lain, ini bukan hanya tentang hati kita.

Cinta juga tentang seberapa besar kita saling memahami, seberapa besar kita saling mengerti dan seberapa besar rasa toleransi kita atas segala halnya
Cinta juga tentang bagaimana kita menjalaninya dan orang-orang yang disekitar kita, menikmati semua moment kisah kita.

Inilah Cinta bukan hanya tentang aku dan kamu, tapi juga tentang pandangan kita terhadap kehidupan, pandangan kita terhadap masa depan dan pandangan kita terhadap cinta ini sendiri.

Kisahku tepat dimulai dua tahun yang lalu, beranjak dari bukan siapa-siapa, beranjak dari siapa sih dia.. sampai pada akhirnya hati menautkan kami, membuat kami bersatu. Ya, dialah kado terindah bagiku.. dialah cinta pertamaku.. dan dialah yang sampai kini berhasil membuatku kacau.. dia juga yang berhasil membuatku lupa tertawa dan tersenyum.


Cinta pertama adalah yang termanis bagi sebagian orang, bagiku itu pun menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan, membuat duniaku semakin berwarna. Meski kuakui aku belum bisa membiasakan diri pada seseorang yang kini berdiam dihatiku. Aku tak bisa seperhatian sebagaimana mestinya, aku bukan lelaki yang membuat wanita merasa spesial meski dalam hatiku dialah satu-satunya, dialah yang terus berada dalam bayanganku, dialah yang hadir dalam setiap mimpiku. Aku tak bisa menyejukkan telinganya dengan serentetan kata-kata manis, aku tak bisa menyejukkan hidupnya dengan memberinya kejutan-kejutan, aku tak bisa membuat kenangan-kenangan semanis madu seperti dia dengan mantan-mantannya terdahulu.
Sungguh benar ku tak bisa, tapi aku selalu bisa membuatnya menjadi satu-satunya dalam kehidupanku.
Kesendirianku selama ini mungkin membuatnya tersiksa, tingkahku yang sulit berubah mungkin membuatnya muak, tapi dia tetap menungguku, menunggu aku dengan kesabarannya, menunggu aku dengan dirinya, menunggu aku dengan cintanya.

Sisi lain hati ini selalu mengatakan menjaga apa adanya, menjaga dia, menjaga segala tingkahku. Aku tak ingin sangat intens dengannya, karena tiap harinya aku bertemu dengannya. Dalam hati ini ada ketakutan yang besar, ketakutan akan terkikisnya rindu karena seringnya pertemuan kami. Pertemuan keseharian kami. Aku takut kepada rasa cinta yang hilang, aku tak ingin itu terjadi hingga inilah yang menjadi sebagian besar alasanku memperlakukannya seperti itu, dan dengan segala tingkahku dia masih tetap setia menungguku. Menunggu diriku yang begini adanya, yang urung berubah.
"Cinta adalah sesuatu yang sulit, bukan perkara siapa yang berubah, tapi kalian harus mengerti untuk saling berubah."
 Hingga tiba saat ini, ketika aku merasakan bahwa diriku sudah terlewat jenuh, bahwa aku merasa sudah berkurang rasaku padanya, bahwa aku merasa segalanya sudah berubah. Pandangan kami sudah berbeda jalur, kami sudah tidak bisa bersama.
Awalnya kuhanya mengatakan ingin rehat sejenak hingga kemudian aku bersikeras meninggalkan dirinya. Dia menangis tersedu kubayangkan itu, dia membenciku kupahami itu, dia menyumpahiku kumaklumi itu. Tapi dia tidak melakukannya. Dia tidak melakukan apapun yang kubayangkan untuknya.
Dia hanya tertunduk, tak berani menatapku. Dia tak membenciku.. Dia tak menyumpahiku...
Beberapa teman-temanku yang tak biasanya mengingatkanku kepada tugas-tugas berubah menjadi mengingatkanku, dan sering kudengar ada selipan semangat dari Dia hanya untukku.

Hatiku sedih memikirkannya, gundah menyerangku. Ya, aku memang memutuskan untuk berpisah dengannya. Meski hati ini masih menyayanginya, meski diri ini masih membutuhkannya. Tapi cukup, aku telah memutuskan untuk tidak lagi bersamanya karena berbedanya pandangan kami.
Kami sudah tidak lagi se-visi. Ini membuatku sedih memang, hingga membuat jiwaku tak lagi senyaman dahulu, perasaan yang dengan kejam kumatikan berbuah kepada kesedihan yang tak terlihat ujungnya padaku.
"Kadang sesuatu yang terlihat kejam untuk cinta bisa berarti sesuatu yang memang harus dilakukan."
 Dia masih terus menyemangatiku melalui teman-temanku, dia masih terus mengingatkanku pada hal-hal yang harus kulakukan melalui teman-temanku.

"Mungkin ini sms terakhirku, mungkin juga nanti adalah pertemuan terakhir kita. Kita tidak akan saling berkomunikasi lagi, tapi kalau kamu mengubah nomormu tolong kasih tau aku ya"
Kulelehkan air mata ini dalam setiap baris kata-katanya, kubayangkan bagaimana dia dengan susah payah mengetik kata per kata, menyakiti hatinya. Dia sepenuhnya sadar akan konsekuensi atas perbuatannya ini, tapi Dia memutuskan ya lakukan atau tidak sama sekali. Aku pun kembali mengenangnya seiring hujan yang mulai membasahi dunia.

Bagaimana dulu aku dan dia berada dibawah payung yang sama, menikmati hujan bersama, mendendangkan rintikan hujan dengan cinta yang kami punya..
Bagaimana dulu aku dan dia berjalan bersama, tertawa bersama dan menjalani hari dengan sedikit bumbu cinta, pertengkaran. Pertengkaran yang pada akhirnya membuat kami tertawa.
Kenangan-kenangan itu muncul begitu saja, membuatku tersenyum miris.
Ini memang menyakitkanku... Ini memang menyakitkan dirinya... Aku telah menyakiti diriku sendiri dan juga dirinya.
Tapi aku sadar bahwa harus ada yang dilakukan, meski aku yakin bahwa jodoh adalah kepunyaan hati yang sepaham, tapi aku tau bahwa sebagian hati ini masih menginginkannya kembali.

Karena itu kubuatkan secarik surat hanya untuk dirimu yang ada disana, yang masih setia menantiku dengan kebodohanku.

Kamu memang bukan gadis tercantik yang kutemui
Kamu juga bukan gadis termanis yang kutemui 
Kamu tidak lebih dari gadis biasa
Yang luar biasa darimu adalah kamu berhasil merebut hatiku
Aku tahu aku tidak lebih dari lelaki bodoh yang menyia-nyiakan hati tulus yang selalu menyambutku dengan damai, membuatku tak pernah beranjak dalam mimpi.
Aku tahu aku tidak lebih dari lelaki tolol yang membuat hidupmu tidak lebih indah dari yang seharusnya.
Tapi kamu dengan setia mendampingiku dengan segala egoku, 
Tapi kamu dengan setia menungguku untuk berubah, 
Tapi kamu dengan sabarmu memahamiku apa adanya.
Kamu dan cemburumu, membuatku kepayahan tapi juga membuatku merindu
Kamu dan sifatmu, membuatku sulit.. sulit untuk melupakanmu
Hingga kini, setiap malam yang kuhabiskan hanya untuk menanti pagi yang datang dengan segala sepi yang tersirat didalamnya
Hingga kini, kujalani hari dengan hampa. Dan aku makin tersadar bahwa aku semakin membutuhkanmu. Bahwa diri ini tidak bisa kalau tidak ada kamu.
Tapi aku sadar, aku paham... bahwa ini bukan hanya untuk saat ini, bahwa sekarang bukan segala-galanya..
Aku dan kamu sudah berbeda, ini adalah untuk kebaikan kita bersama kedepannya. Aku paham bahwa kini kita tersakiti, bahwa kini kita yang tak lagi bersama sedang mencoba menata hati menjadi lebih baik. Bahwa nantinya apapun keputusan Yang Kuasa akan dengan lapang diterima. 
Akhirnya aku hanya bisa berkata, selamat tinggal.
 



No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi