Thursday, July 31, 2014

Mimpi 1

Aku berlari dalam pekatnya gelap, terus berlari.. terengah-engah.. namun tak pernah membiarkan kaki berhenti berlari, sampai lelah kakiku, sampai lemas badan ini, aku tak membiarkan kakiku berhenti bergerak. Aku tak takut menabrak dalam kegelapan itu, aku hanya takut hingga terus berlari sampai tidak tau harus berlari sampai mana, harus berlari kemana.. tidak tentu arah dan tidak pernah sadar apakah aku hanya berlari disatu tempat saja atau memang benar-benar berlari…

Hingga akhirnya terang datang dan aku hadir dalam sebuah tempat, tempat ini pernah kudatangi. Entah apa yang dikehendaki alam sadarku hingga aku kembali kesini, tempat yang diselimuti ketakutan dan aku pun takut..

Aku berjalan dan menemui banyak orang yang meski asing bagiku tapi aku mengenal mereka, aku merasa dekat dengan mereka, begitu pun dengan mereka. Melegakan namun juga menakutkan, teringat bahwa tempat ini adalah tempat yang paling kutakuti.

Aku masuk kedalam sebuah ruangan yang terasa sangat akrab, tapi kemudian lelaki yang berada disana tersenyum lalu berkata

“yaah non, lagi gak bisa lewat sini. Lagi dibenerin, lewat sebelah saja yaa..” aku kemudian segera keluar dari ruangan itu dan berjalan keluar, melewati pintu samping yang kemudian makin lama makin mengecil, membuat tubuhku sesak, jalan ini menghimpitku sampai akhirnya aku berkata

“aku hendak kesana” dan kemudian jalan itu menjadi lengang dan aku bisa menuju kesana. Diseberang ruangan itu seorang wanita melihatku sinis tidak menyukai kehadiranku.

Aku berjalan keluar menemui kota yang dirundung gelap, matahari belum tenggelam tapi awan hitam sudah hampir menutupi seluruh kota, tidak hujan hanya awan hitam saja yang mampir lewat.

Aku menemui banyak orang yang tersenyum ataupun melihatku dengan aneh, aku hanya terus berjalan, sesekali menunduk dan berharap bahwa mimpi ini segera berakhir.

“ya, begitulah..” didepanku tiba-tiba saja ada sekelompok anak-anak yang berbicara, mereka habis bermain.. membicarakan sesuatu yang sangat seru hingga aku pun mengomentari pembicaraan mereka. Aku tak ingat jelas apa yang kukatakan, tapi aku ingat bahwa setelah aku mengatakannya mereka semua tertawa, lalu berbelok. Meninggalkan aku sendiri didepan sebuah gerbang kecil. Entah kemana jalan itu, yang pasti aku berkeinginan melewatinya.

Aku melewatinya, berjalan terus berjalan lalu masuk lagi kedalam kegelapan, kali ini aku tidak berlari meski aku masih takut.

Aku berjalan dengan tenang, berjalan dengan mantap terus berjalan sampai akhirnya aku dibawa kesebuah gedung tua, gedung itu kini rumah sakit.

Ya, aku tau gedung itu rumah sakit. Dari baunya dan dari petugas-petugas yang melewatiku, mereka mengenakan baju putih layaknya seorang suster dan dokter.

Gedung ini gedung tua, begitu tua hingga harus direnovasi ulang. Dahulu gedung ini adalah gedung penyiksaan, banyak aura gelap yang berada dalam gedung ini. Setelah gedung penyiksaan gedung ini kemudian digunakan untuk mengungsikan mereka yang terluka dalam perang, banyak kematian yang terjadi disini.

Gedung ini memiliki aura yang menakutkan dan aku pun merinding. Aku ingin menyudahi mimpi ini namun seperti ada seseorang yang menahanku untuk terus melanjutkan mimpi ini.

Aku terus berjalan, banyak lukisan-lukisan indah dipajang. Aku tau ini dibalik lukisan itu, dibalik keindahan-keindahan cat di gedung ini ada tumpahan darah, ada teriakan kesakitan, ada banyak kematian yang menghiasinya. Tembok ini adalah saksi bisu dari gedung tua ini.

Aku terus berjalan hingga sampai gerbang keluar, hatiku bahagia.. hendak aku berlari ke gerbang itu namun kakiku tertahan untuk berjalan saja. Aku seperti dipaksa berjalan dan mataku dipaksa untuk melihat-lihat ruangan berjendela yang kulewati. Ada banyak orang sakit disini, ada begitu banyak senyum ramah para suster dan senyum para orang-orang yang sembuh. Begitu melegakan tapi bagiku ini sebuah ketakutan.
Gedung ini memiliki terror dan aku tidak menyukainya.

Gerbang didepan mata, beberapa langkah lagi aku akan terbebas. Namun itu sepertinya sia-sia, kepala suster memegang tanganku, aku tidak tahu mengapa aku tau dia kepala suster, tapi ya dia memang kepala suster.

“jangan pergi, tetaplah disini” dia menahanku dengan wajah yang tak bisa kugambarkan, entah dia meminta entah dia memohon. Aku hanya terkejut, kulebarkan mataku dan kugelengkan kepalaku.

“kamu harus disini, sudah terlalu banyak biaya untuk gedung ini…” dan aku diam menunduk, rasanya begitu sesak ingin menangis..

Kemudian aku melihat keruangan yang tepat dibelakangnya, melihat ada gambar pemujaan setan disana, dibalik wallpaper warna warni..

Tiba-tiba aku seperti dilempar kepada sebuah penglihatan..

Gedung ini bukan hanya memiliki terror tapi juga memiliki pemujaan.

Aku melihat dalam sebuah ruangan, terdapat kepala rumah sakit dan pemilik tanah beserta ajudan-ajudan mereka dan juga orang-orang lain yang aku sendiri tidak tahu.

Mereka sedang mendiskusikan persembahan untuk pemujaan mereka, setan… mereka menyembah setan dan persembahan itu adalah manusia..

Setan itu yang menghuni gedung ini, setan itu yang memaksa orang-orang itu melakukan persembahan. Kepala rumah sakit dan pemilik tanah sudah terikat sumpah dengan setan itu. Mereka harus melakukan persembahan agar mereka tetap bisa hidup, anak-anak mereka telah dikorbankan untuk memperpanjang hidup, meninggalkan satu anak yang akan menjadi generasi selanjutnya. Istri pun menjadi korban demi hidup mereka.

Setan itu terus meneror mereka dalam mimpi-mimpi mereka hingga mereka sama seperti mayat hidup, setan membutuhkan mereka untuk memberikan persembahan kepadanya, untuk kerajaannya, untuk kehidupannya.

Dalam diskusi mereka, tidak ada lagi anak yang bisa dikorbankan, bahkan tidak ada lagi yang siap berkorban. Mereka harus mencari orang, mereka harus mencari korban untuk persembahan hingga akhirnya diskusi yang berlangsung lama itu membuat seorang lelaki mengajukan diri untuk menjadi persembahan.

Sekali lagi kukatakan, aku tak mengenalnya namun aku tau siapa dia, aku merasa sangat mengenalnya meski dia asing bagiku.

Wajahnya tampan, dia adalah salah satu dokter dengan predikat terbaik, dia dokter terbaik yang dimiliki oleh rumah sakit ini, dia adalah harapan semua orang. Ramah dan mempesona. Dan dia mengajukan diri untuk menjadi persembahan. Dengan berat hati, dia tau bahwa waktunya akan segera tiba. Ingin ku berteriak jangan, ini bukan takdirmu, aku ingin berteriak dan membawanya lari dari ruangan diskusi itu, membawanya lari dari orang-orang biadab yang dengan senyum angkuhnya bangga bahwa ada yang bersedia untuk dipersembahkan.

Kemudian lelaki itu berganti baju dan berjalan ke ruang persembahan. Ruangan isolasi dengan kaca yang satu sisi. Kaca itu untuk memastikan bahwa sesembahan tidak akan kabur, aku mau menangis, hatiku perih. Dia tak boleh mati dengan cara seperti ini.
Dia berjalan ketempat persembahan.

“Dia (-setan) akan lebih menghargai bila kamu memilih sendiri kematianmu, entah mau dipotong-potong badanmu seperti yang kemarin dilakukan oleh anakku, atau potong dulu lidahmu. Yang pasti disitu telah tersedia peralatannya. Dia (setan) akan lebih senang bila kamu melakukannya dengan kebanggaan sebagai persembahan untuk Dia (setan)” sahut pemilik tanah dengan speaker yang menyambung dari ruang dibalik kaca keruang pemujaan.

Aku tak sanggup lagi menahan air mata, ini semua terasa nyata.. aku ingin menangis tapi seperti ada yang menahan air mata ini..

Lelaki itu mengiris pergelangan tangannya.. namun pemilik tanah berkata Dia (setan) tidak puas..

Lelaki itu memotong jari-jarinya, pemilik tanah berkata Dia (setan) tidak puas..

Lelaki itu memotong kupingnya, pemilik tanah berkata Dia (setan) tidak puas..

Sampai kemudian dari atas kepala lelaki itu ada pedang yang turun dengan cepat lalu membelah badannya..

Dan kemudian gue terbangun, tersengal-sengal..

“Aku harus tinggal dalam gedung itu dan hanya akulah yang bisa menyelamatkan mereka.”

Itulah kata-kata yang terngiang waktu gue bangun dari tidur gue pagi ini, agak sesek juga..

Hal pertama yang gue pikirin adalah kenapa
Hal kedua yang kemudian gue pikirin adalah kenapa gue bisa mimpi kayak gitu?
Hal ketiga adalah kenapa mesti tempat itu lagi…

Well ini bukan pertama kalinya gue dateng di tempat yang gue mimpiin ini, tapi ini pertama kalinya semenjak beberapa tahun terakhir gue dimintai misi dari mimpi gue..

Dan tempat itu seperti ketakutan terbesar dalam kehidupan gue..

Dikenyataannya gue sendiri lagi bergulat dalam menghadapi ketakutan gue,

gue takut ketinggian meski gue sering banget manjat-manjat tapi turun adalah sesuatu yang buat gue ketar ketir

gue takut sama hewan melata karena menurut gue mereka sok seksi jalan sambil liuk-liukin pinggul mereka, gak ding.. ini karena terakhir kali muka gue ternyata penuh dengan belatungnya..

gue takut sama jembatan yang cuman modal tali tanpa tiang penyangga atau bukan yang terbuat dari beton. Terakhir gue ke jembatan goyang (karena kalo kena langkah kaki jembatan itu bakal goyang-goyang) gue masuk kedalam bawah sadar gue, bahwa jembatan itu bakal putus dan segala-galanya. Well gue gak suka yang gak stabil, kayak ager yang gak pake tempat, gue juga gak suka..

gue takut sama kecoak terbang, karena mereka terbang.. -___-“

gue takut sama orang yang auranya beda sama gue, ini dia kesalahan fatal dalam kehidupan gue, gue gak bisa dengan entengnya akrab sama sksd kalo aura orang itu nolak kehadiran gue, njiirr soktoy banget tapi inilah yang gue rasain, kalo gue ketemu sama orang model gini gue cuman bisa formalitas doang

gue takut apapun tanpa pegangan, kayak jalan dijembatan tapi gak ada pegangan dikiri kanannya, terlebih hati gue yang sekarang gak ada pegangannya *halah*

banyak yang gue takutin, banyak yang bikin gue teriak-teriak karena hal-hal itu..

meski pada akhirnya gue sadar, ketika gue ngelewatin semua itu.. semuanya akan baik-baik aja. Itu yang terakhir gue lakuin sama si kaki seribu, ketika gue gebok tuh kaki seribu pake sikat kamar mandi ya semua bae-bae aja.. meski gue harus terima konsekuensinya, jantung berdebar gak karuan minta tiduran.. tapi yaa gue gak mati, gue gak kenapa-kenapa..

mungkin gue juga bisa ngatasin si jembatan goyang dan wahana menakutkan macem yang di dupan, meski gue sadar abis itu kemungkinan gue tepar dirumah :v

8 comments:

  • Etika Profesi Akuntansi