Monday, June 9, 2014

Film Minyak Jelantah

Ya.. Ya..
Gue udah ngerti sepuluh turunan (biar gak kalah sama ekornya Naruto) tujuh tanjakan dan dua puluh tikungan kalo para pembaca yang terhormat sudah sangat muak sama dunia perfilman sekarang ini, bahkan ada yang dengan setia menyuarakan bahwa Sinetron-sinetron kacang Indonesia rendahnya sama kayak jalanan yang belom di beton.

Tenang gue disini bukan untuk mengatakan "ITU SALAH" tapi gue disini cuman mau mengatakan "ITU ADANYA CUMAN ADA DI FILM".


Contohnya kayak supir, kernet, tukang jamu, pembantu yang cantiknya setara sama Bunga Zaenal atau seganteng Evan Dimas. Yah sekali lagi itu cuman ada di tivi.
Yang mau gue tambahin lagi adalah, cuman di Sinetron-sinetron kacangan dimana pemeran utama anak-anak yang tabahnya kayak Biksu Tsu Tsan Chong yang mengambil kitab suci ke Barat. Ajaib gak tuh, itu anak-anak atau apaan coba tabahnya kayak begitu, dan herannya kerasnya kehidupan tidak mengubah kehidupan mereka menjadi lebih survive tapi lebih kepada pasrah kepada Tuhan dan sabar nerima apa adanya, yang lebih disesalkan adalah ketika mereka berpasrah mereka tetap menjadi pribadi yang sholeha dan segala macem kebaikan bak malaikat turun kebumi.
Itu cuman ada di film bray, yaa bukannya gue mau mencak-mencak banting piring juga buat negesin itu cuman ada di film, tapi gue mau bilang efek ke masyrakatnya itu loh yang mengerikan.

Pernah nonton atau setidaknya sambil lewat nonton film-film di jam primer yang nayangin anak kecil kalo gak dikasarin, dijorokin, dikata-katain, terus nangis meratapi nasib atau anak yang jadi rebutan atau anak yang jadi korban dalam KDRT dan parahnya menyaksikan orang tua yang bertengkar, berselingkuh atau mungkin saling bunuh-bunuhan juga nantinya?
Nah gue lagi gak membicarakan efek psikologis pada pemain dalam film tersebut tapi lebih kepada yang menyaksikan.
Kekerasan kepada anak sudah diketahui meningkat drastis banget, entah itu secara fisik atau mental, lingkungan gue pun gak luput dari kejadian-kejadian kayak gitu.
Yang kemudian gue ketahuin faktanya adalah seorang anak yang dilahirkan dengan adat yang keras menjadi sangat lemah dan selalu mencari pelampiasan atau pelarian terhadap hal-hal yang sangat berbalik dari adat keras orang tuanya. Yang gue ketahuin kemudian adalah anak yang dibesarkan dengan KDRT berpotensi besar menanam kebencian dan dendam pada kehidupan selanjutnya setelah orang tua yang membesarkan mereka tiada dan mereka terbebas dari kukungan sebuah kepatuhan. Yang gue tau kemudian adalah pengaruh keluarga sama besarnya dengan pemilihan pergaulan si anak. Yang gue tau kemudian adalah anak yang berbeda 180 derajat dari orang tua yang misalnya adalah sebobrok-bobroknya manusia mempunyai pengaruh yang kuat dan positif dari lingkungan rumah, pergaulan atau salah seorang keluarga yang memang memperhatikan betul si anak.

Segalanya memang mempunyai peluang Segala kejadian punya kemungkinan yang sama besarnya.
Yang disesalkan adalah mengapa pilem ini begitu hebatnya beredar dan dari sebuah keterpaksaan menjadi sebuah kebiasaan untuk mengkonsumsi hal-hal seperti ini?
"peran orang tua sudah semaksimal mungkin, yang gak maksimal itu keadaannya bung..."
 begitulah tiap kali gue tanya sama anak kampung sebelah yang tontonannya film yang aneh-aneh begitu. Gue sih jelas gak heran ya, gimana bobroknya otak anak bangsa dengan konsumsi yang kelebihan minyak jelantah begitu.
Gue juga gak heran gimana anak-anak sekarang drama queen banget, gak ngeliat reality kehidupan.
Gue juga gak heran gimana anak-anak sekarang bisa dengan mudahnya diracunin karena emang konsumsinya racun
Gue gak heran gimana para dewasa itu seenaknya memperlakukan anak-anak mereka, karena emang konsumsinya sampah begitu
Gue gak heran gimana para dewasa itu merasa bahwa sekejam apapun mereka, anak mereka tetaplah anak mereka, yang akan kembali kepada mereka dan tetap baik adanya
Gue gak heran gimana semakin kita dewasa kita semakin merasa bahwa karma semakin menjauh karena dimana-mana semua orang tau jahat itu karmanya belakangan sampe gak terhingga.

Pada akhirnya gue gak ngelarang keras kalo sampah kapasitas begitu ditonton, dan emang gue termasuk dalam garis keras menentang film kayak gitu meski itu adalah buah tangan sineas anak Indonesia, tapi sekali lagi gue pengen teriak, kenapa? kenapa mesti yang gak ada mutunya begitu?
Sebagai konsumen perlulah kita lebih selektif dan sebagai orang tua atau yang telah merasa dewasa benar-benar menyadari perannya sebagai pembimbing bagi anak, dan menjadikan usia emas mereka sebagai awal dari pola pikir yang lebih manusiawi.

6 comments:

  1. Begitulah negeri ini, kalo nggak pinter-pinter, kita sebagai konsumen kita juga yang menjadi korban, bukan hanya kita yang hidup sekarang tapi kalau kita tetap apatis bisa-bisa anak cucu kita korban selanjutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yap, simalakama, maju salah mundur salah, sudah seharusnya pendidikan juga bukan hanya tentang otak tapi psikologis si anak

      Delete
  2. Emang susah sih, harus pintar memilih-milih tontonan.
    Makin susah lagi kl yg gapakai tv kabel, tontonannya itu ke itu mulu. ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah! tajam ke bawh tumpul ke atas..
      bibit unggul akan tumbuh ditanah yang subur, semakin subur tanahnya semakin unggul bibitnya. lalu punya siapakah tanah subur itu?

      Delete
  3. woho artikel garis keras ini mah.
    Tapi emang bener juga, kalau satu dua kali tayang per tahun gak bakalan ngefek cuman gegara film tersebut sering banget ditayangkan dampaknya akan cepet banget.
    Ah coba deh dihilangin tayangan gituan di Indonesia. satu tahun saja. bakal berasa beda nih negri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dampaknya seratus persen akan terasa.. setahun itu adalah waktu yang lama dibanding yang terlihat, meski mengikis pemikiran yang telah beranak pinak tidak semudah membalikkan telapak tangan

      Delete

  • Etika Profesi Akuntansi