Wednesday, April 9, 2014

Dongeng Malam; Tidak Akan Kekurangan

"Hanya Tuhan yang bisa mengurang-ngurangi, melebih-lebihkan dan membuat segalanya menjadi keajaiban bagi kita. Tidak ada beruntung tanpa rencana Tuhan, bahkan tidak ada keadilan bila Tuhan tidak menginginkan"
Dahulu malam-malam selalu dipenuhi dengan pelukan hangat ayah, atau cerita klasik dari sang Kakak, yang selalu menceritakan cerita yang penuh dengan harapan dan keindahan hidup, makna hidup yang paling bajik. Ceritanya sungguh sederhana, tapi karena cerita sederhana itulah aku besar dan tumbuh menjadi pribadi sekarang ini...

-oOo-

Namanya Angela, dia manis sekali, dengan rambut panjang yang selalu dikuncir kuda kadang diberi bando, kadang diberi jepit. Pokoknya rambutnya ditata serapi mungkin. Dia seperti kamu, bagaimana kehidupanmu sekarang? bahagia? ya itulah dia.. keadaan mampu? ya itulah dia.. Dia apapun seperti kondisi kamu sekarang.
Perbedaannya dia sudah kelas 5 SD, dia sudah berani kemana-mana, kesekolah, kewarung tetangga, bahkan mengantar makanan ke rumah nenek yang berada dikampung sebelah. Angel bangga dengan hal itu, Ibunya pun bangga. 
Suatu hari Angel yang pergi kesekolah melewati jalan yang sama seperti yang biasa sudah dia lewati, sekolahnya jaraknya tidak jauh dari rumahnya, hanya 15 menit berjalan kaki. Seperti biasa pula ketika dia lewat orang-orang yang mengenalnya menyapanya dengan senyum..

"Selamat pagi Angel.."
"Sudah makan belum?" 

Sapaan ramah itu sudah biasa didengar Angel dan jawaban Angel dengan riang adalah membalas ucapan mereka atau menjawab pertanyaan yang diajukan.
Disekolah pun Angel dikenal sebagai gadis riang yang rajin membantu para guru, semua menyayangi Angel. 
Kenapa? kamu iri sama Angel? coba dengarkan dulu cerita ini sampai habis, tapi pastikan kamu jangan berfikir yang buruk dahulu. Duduklah dengan tenang sampai aku habis menceritakannya.

Siang itu terik, semua berharap dapat membeli es untuk meyegarkan haus mereka, begitupun dengan Angel, air minumnya telah habis bukan hanya diminumnya tapi juga diminta oleh temannya. Teman-teman sepulang sekolahnya pun mengajaknya untuk membeli es di warung yang baru buka, yang dikenal enak dan sehat. 
Kalau Angel fikir sisa uangnya memang cukup untuk membeli satu es itu dan dia sangat haus, rasanya mau pingsan sebelum sampai kerumah, maka dia memutuskan untuk ikut dengan teman-temannya membeli es diwarung yang baru buka itu.

Dalam perjalanan Angel dan teman-temannya menemui dua anak kecil yang usianya jauh dibawah mereka dengan badan kotor dan dekil juga bau, dua anak kecil itu hanya menatap mereka dengan mata yang penuh kelaparan itu, Angel sebenarnya tidak tega pada dua anak kecil itu tapi dia juga tidak bisa mengabaikan rasa es yang enak dan sehat itu apalagi dapat mengobati rasa hausnya. Teman-temannya pun hanya melirik sekilas dan berusaha mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Angel yang merasa iba pun masih bimbang dirinya atau dua anak kecil itu.

Tapi, pada akhirnya kebimbangan itu digantungkan karena Angel tidak jadi memberikan sisa uangnya untuk dua anak kecil itu, meski ada rasa iba pada dirinya tapi dia juga tidak bisa mengabaikan rasa hausnya sendiri.
Kepalang basah sudah tidak memberikan sisa uang itu kepada dua anak kecil itu, warung yang dituju Angel pun rupanya tutup karena penjaga warungnya sedang pergi kerumah saudaranya yang tiba-tiba sakit. Angel pun akhirnya memikirkan dua anak kecil itu, menyesal kenapa tidak memberikan sisa uangnya, padahal dia bisa saja menahan rasa hausnya karena rumahnya hanya berjarak 15menit dari sekolahnya. Sedangkan anak-anak itu mungkin rumahnya jauhnya berkali lipat dari tempatnya tadi.

Angel pulang dengan lesu, tapi yang didapatinya dirumah bukan kepalang membuatnya gembira, ada es buah! es buah yang menyegarkan ditengah mentari yang terik, es yang lebih nikmat dari es yang dijual oleh warung baru itu pasti, yang ini es buah dengan susu, dengan banyak buah...
Angel pun menceritakan kisahnya hari ini kepada ibunya yang mendengarkan sambil tersenyum.

"Kamu tak salah Angel, memberi itu datangnya dari hati, dari keikhlasan, dari ketetapan hati, dari rasa memberi yang menyejukkan hati. Kamu bimbang karena kamu masih memikirkan dirimu sendiri. Ingatlah untuk esok jangan pernah takut akan yang hilang hari ini karena nantinya akan ada kejutan baik yang menantimu. Saat ini banyak yang takut akan kehilangan barang-barang mereka bila mereka memberi tapi ingatlah jangan takut Tuhan akan menggantinya, Saat ini pula banyak orang yang dengan murah hati memberi pada siapapun ingatlah janganlah memberi ketika hatimu merasa terganggu oleh orang itu, karena memberi ada aturannya, memberi pada orang yang tepatlah yang akan berbuah. Dari hatimu dari malaikat penjagamulah kamu akan tau apakah orang itu membutuhkan atau tidak"

2 comments:

  • Etika Profesi Akuntansi