Sunday, March 16, 2014

Dongeng Malam; Ada kelinci di bulan

"Apa kamu tahu bahwa ada kisah sedih dibalik indahnya rembulan? Coba kamu perhatiin bulan itu baik-baik, disana ada kelinci.. kenapa ada kelinci? Tuhanlah yang melukis itu dibulan sebagai tanda penghargaan kepada seekor kelinci yang dengan tulusnya membantu sesama.."
Yaa, itu adalah sepenggal pembukaan yang mengawali dongeng malam sewaktu gue kecil, yang menceritakannya adalah kakak gue, dan inilah awal gue selalu menunggu bulan penuh untuk melihatnya, dan sekali lagi belajar bahwa perjuangan terhadap sesama tidak akan membawa penderitaan.
Semua tau kisah kelinci dan kura-kura semua juga tau kisah kelinci cerdik. Tapi waktu itu gue tergila-gila dengan kisah ada kelinci di bulan buatan kakak gue..
Jadi kini ketika ingatan gue masih jernih tentang cerita yang membekas itu gue pun akan menuliskan ulang disini.
---0---

Suatu ketika disebuah hutan yang lebat, dimana pepohonan hidup dengan bebas dan burung-burung membuat sangkarnya dengan aman diatas pepohonan. Ah, ada juga sungainya dan gunung yang menghiasinya.. Bisakah kamu membayangkannya? Hutan itu indah sekali, dengan nyanyian burung tiap paginya dan suara jangkrik pada malamnya, disana tidak ada jalan setapak tapi kamu tidak akan tersesat, karena penghuni hutan semuanya ramah dan siap membantu siapapun yang membutuhkan pertolongannya. 

Ya, dihutan itu banyak sekali binatang.. bisa kalian menyebutkannya atau membayangkannya? bisa ucapkan kepadaku? apa rusa? ya tentunya mereka ada, jangankan rusa bahkan singa sang raja hutan yang terkenal itu pun ada, dia adalah Raja hutan yang kuat perkasa. Tidak ada yang berani dengannya namun tidak ada juga yang takut kepadanya. Dia baik dan ramah, dihutan itu juga terdapat burung yang warna warni bulunya, ular? ya pastinya juga ada, dia adalah mahkluk ciptaan Tuhan, pokoknya segala ciptaan mahkluk Tuhan ada dihutan yang asri itu bahkan kecoak, tikus ataupun cicak.

Nah, dihutan itu hidup juga kelinci, banyak sekali kelinci salah satunya adalah Juju, Juju adalah seekor kelinci putih yang mempunyai mata besar berwarna hitam, dia adalah kelinci yang sangat penakut dan sangat pemalu, disaat teman-teman kelinci lainnya berburu mendapatkan mangsa yang enak dan besar, Juju hanya dapat memakan apa yang jatuh dari buruan kelinci lainnya, disaat kelinci lain lari dengan gesit saat dikejar pemburu mereka, Juju hanya bisa berfikir cepat untuk menemukan tempat perlindungan, karena geraknya yang lambat dan responnya yang kurang cepat. Tapi Juju memang beruntung meski dia tidak dianugerahi ketangkasan dan kecepatan tapi dia dianugerahi hati yang baik dan juga fikiran yang cepat oleh Tuhan. 
Ingatlah bahwa bagaimanapun Tuhan menciptakan kita dengan kelebihan kita bukan dengan kekurangan yang dibanding-bandingkan.. mengerti? ^^

Di suatu pagi yang cerah itu, Juju duduk termenung sendirian, dia duduk sambil menatap aliran sungai, ya.. dia duduk diatas batu besar yang berada di pinggir sungai, menatap dirinya dan meratapi nasibnya.. dia berkata
"apa yang harus aku lakukan dihari ini, dimana para kelinci lain sedang pergi berburu, sedangkan aku dilarang ikut bersama mereka?"

"ah, kenapa kamu dilarang ikut bersama mereka?" tanya Pipi, Tuan Tupai yang sedang sibuk menata ranting, rupanya tak jauh dari tempat duduk Juju, Pipi si Tuan Tupai sedang membangun sarangnya.

"bolehkah aku menceritakan sembari membantu?" tawar Juju yang tentu saja disambut gembira oleh Pipi, mereka berdua pun mulai menata ranting dan sesekali Juju menawarkan diri untuk mengumpulkan ranting

"Aku dilarang ikut, sebab aku hanya bisa menjadi pengganggu mereka saja, yaa.. Tuan taulah bahwa aku adalah yang paling lambat dan paling tidak bisa diandalkan.." cerita Juju membuat Pipi tuan tupai mengangguk-angguk lalu memberikan Juju sebuah biji kenari yang disambut dengan rasa terima kasih 

"meski begitu bukankah kamu dianugerahi Pencipta hati yang baik dan fikiran yang cepat, jadi sebetulnya itu bukan alasan mereka menganggapmu pengganggu"

"tapi tetap saja, aku adalah kelinci paling penakut dan pemalu dibanding dengan kawananku yang lain. Apakah yang harus aku lakukan agar berani ya?" tanya Juju, membuat Pipi tuan tupai tersenyum lalu berkata

"keberanian sejati datangnya dari hati, dengarkanlah hatimu dan jadikan itu sebagai penuntun jalanmu.." ya, dengarkan hati.. bagaimana apakah kamu bisa mendengarkan suara hatimu? bisa? ah itu bagus sekali :) maka mari kita lanjutkan cerita ini ketika Juju si kelinci masih belum mengerti bagaimana mendengarkan suara hati dan menimbulkan keberanian sejati yang datangnya dari hati.

Juju terus berusaha memikirkan bagaimana menimbulkan keberanian itu, bagaimana dia bisa mendengar suara hatinya.. Juju tentunya sudah menanyakan caranya kepada Pipi tuan tupai tapi jawabannya adalah hanya Juju yang bisa menemukan jawabannya. Seiring dengan Juju yang kebingungan suasana di hutan pun jadi riuh redam, karena hujan tak kunjung datang, sebulan hujan tak hadir dan panas datang sangat menyengat sekali, hingga banyak binatang sudah tak kuat lagi, belum lagi sungai sudah mengering. 
Raja hutan pun sudah pusing memikirkan cara untuk mengembalikan hujan agar rakyatnya tak lagi menderita. Juju terlebih Pipi tuan tupai pun berharap air sungai akan kembali menyegarkan tenggorokan mereka, karena selama air sungai mulai mengering, pembatasan minum pun diberlakukan.

Kemudian Raja hutan datang kepada penasihatnya Jerapah, Jeje sang jerapah pun menyarankan agar Raja hutan pergi kepada Bong tuan burung hantu yang tahu segala hal. Maka pergilah Raja hutan kepada Bong tuan burung hantu dan menanyakan perihal mengembalikan hujan ketanah yang sudah mulai gersang itu. Bong tuan burung hantu pun langsung memberitahu bahwa Tuhan menginginkan persembahan, dia menginginkan persembahan, salah satu binatang yang dikorbankan. 

Setelah diberitahu bahwa Tuhan menginginkan persembahan berupa korban, Raja hutan pun kebingungan begitu juga dengan para binatang lain. Siapa yang mau dikorbankan? siapa yang mau berkorban demi semuanya? meski mereka semua ingin kemarau ini berakhir dan tanah gersang kembali subur tapi tak ada satupun dari mereka yang berani mengajukan diri sebagai sesembahan untuk Tuhan.
Maka pada malam itu, Raja hutan mulai memanaskan kuali yang sangat besar dengan isi rempah-rempah, mengumpulkan semua penghuni di hutan lalu mengatakan 

"aku telah diberitahu oleh Bong tuan burung hantu yang bijak, bahwa untuk menghentikan musim kemarau ini hendaklah kita mengorbankan salah satu diantara kita, untuk dijadikan sesembahan kepada Tuhan. Kini untuk menghentikan kemarau ini hendaklah ada yang berkorban"

Suasana pun langsung hening, tak ada yang berani memberikan jawaban dan mengajukan diri sebagai korban, Raja hutan pun kebingungan, dia sendiri tidak mau dikorbankan, karena dia mau hidup didunia ini.

"aku akan mengorbankan diri" sahutan itu disambut dengan bisik-bisik penghuni hutan lain, menduga-duga siapa yang menawarkan diri dan ternyata dia adalah Juju, si kelinci bermata hitam yang kini gemetaran.

"apakah kamu yakin Juju?" tanya Raja hutan

"aku yakin, aku adalah mahkluk paling lemah disini, dan penakut. Hanya inilah yang bisa kulakukan untuk semuanya" jawabnya sambil tersenyum kemudian loncat kekuali yang sudah mendidih itu.

Semua penghuni hutan pun menunduk, ucapan Juju membuat hati mereka bersedih, siapakah yang lebih jahat membiarkan yang paling lemah maju untuk dikorbankan sedangkan yang terkuat tidak ingin pergi dan tetap berusaha ada diposisinya. Semuanya penghuni hutan kemudian menangisi Juju yang telah dengan berani loncat kekuali, memahami kesalahan mereka yang egois dan ingin menang sendiri, mempertahankan diri sendiri tanpa pernah memikirkan orang lain.

Keberanian Juju dan sadarnya penghuni hutan lain yang jarang saling bantu menggugah Tuhan untuk menghidupkan kembali Juju. 
Tuhan berkata dari langit sana bahwa Juju adalah kelinci yang paling berani di kehidupan ini, maka Tuhan membangunkan dia kembali, dan memberikan umur yang panjang bagi Juju. Tuhan juga akan memberikan penghargaan kepada Juju karena budinya yang baik, yang tidak memikirkan dirinya sendiri meskipun dia penakut dan pemalu. Tuhan memberikan penghargaan bahwa Juju si kelinci akan ada di bulan, sedang meringkuk dengan girang, dan bahwa setiap yang melihat bulan dengan wajah kelinci akan mengingat bahwa keberanian sejati datangnya dari hati yang baik dan keberanian datangnya bukan dari egoisme tapi dari rasa ingin berkorban demi sesama.



3 comments:

  1. saya kira Juju akan menjadi penasihat Sang singa, eh ternyata tidak :3

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, saya fikir beruntungnya adalah tidak :)

      Delete
  2. thanks kwaaan you have to helped me on my assigenment

    ReplyDelete

  • Etika Profesi Akuntansi