Wednesday, February 12, 2014

Untuk Anak Jalanan

Siang itu kudengar suara berisik didalam angkot yang membawaku pulang, kalian dengan botol berisi beras menyanyikan lagu yang tidak fasih kalian nyanyikan, dengan suara sumbang kalian menyumbangkan lagu yang sudah tidak asing lagi. Mata memandang hampa ke jalanan aspal, mulut masih bernyanyi sedangkan botol itu kalian tepuk-tepukkan ditangan satunya lagi dengan sekenanya.

Kulihat kalian berpeluh keringat kadang mendesah dan tidak kulihat senyum itu mengembang, dengan wajah terbakar mentari, baju yang bolong-bolong, tak beralaskan sandal hingga  kaki kalian terlihat kapalan, kalian membagikan amplop kepada kami untuk diisi sesuai kebaikan hati kami.

Sedikit yang mengisi banyak yang merutuk karena kadang kalian mengundang bau akibat tak mandi berhari-hari, dan Aku hanya bisa memandang kalian nanar.

Dengan sedikit keberuntungan kalian mungkin mendapatkan banyak hasil, tapi itupun tak juga membuat kalian dapat nyaman. Hasil jerih payah kalian, mengamen dan mengemis, meminta-minta belas kasihan mereka yang punya uang lebih disakunya dirampas mereka yang lebih kuat daripada kalian, dan kalian sekali lagi hanya dapat memandang sekat dari seng dan merutuki nasib.

Tak hanya sekali Aku menemukan kalian memandang nikmat ke arah restoran cepat saja dengan ludah yang tertelan, nikmat ya mereka? dikala kalian mengemis tempat sampah untuk menemukan makanan mereka dengan segala uang yang ada didompet mereka menghamburkannya?

Tapi kepada anak-anak jalanan yang hanya bisa kupandang dan kuberikan senyum, hidup ini memang sulit, kita semua menghadapi kesulitan itu dengan cara yang berbeda, syukur pun menjadi bentuk yang lain atas karunia dalam hidup ini.

Hidup kalian kadang menyedihkan tapi tak pernah kulihat pula kalian putus asa. Dengan semangat tangguh, lebih tangguh daripada atlet yang sering memenangkan perlombaan kalian berjuang untuk hidup.
Meski mimpi apapun dipaksa terhapus tapi pernah kulihat kalian tertawa, pernah kulihat satu di antara kalian menyanyikan lagu meski dengan suara fals tapi dia memejamkan mata dan menghayati benar lagu itu, seakan lagu itu membawanya keluar dari dunianya yang sekarang, membawa dia ke pada rumput sahara dengan mata air segar yang mengelilinginya. Begitu menghayati dan Aku pun terhanyut sampai ia sadar Aku memperhatikannya dan dia pun berlalu.

Aku menuliskan surat ini, untuk mengatakan kepada kalian, bahwa didunia ini masih banyak cinta yang berterbangan dilangit. Tentunya bukan tugas kalian menemukan cinta itu, tapi tugas kalian adalah menumbuhkan cinta itu didalam hati kalian.

Aku menuliskan surat ini untuk mereka diluar sana, yang hidupnya berkecukupan namun tidak berkecukupan pada akhlak dan budinya, Aku ingin mengatakan bahwa anak-anak jalanan ini yang mulia hatinya selalu menyadarkanku kepada keluarga kecil yang baik saling menyayangi. Aku tentu tidak merasa lebih beruntung daripada mereka, tapi Aku merasa beruntung telah dipertemukan dengan mereka.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi