Friday, December 13, 2013

Sadomasokis

Sebenernya ini kata-kata teraneh yang baru gue denger atau malah umum yang pernah kalian denger, tapi jujur ini baru pertama kalinya gue mengenal kata ini dan itu pun gue temukan dalam novel yang baru-baru ini gue baca. Judulnya "The Skin Gods" karya Richard Montanari yang cukup terkenal akan karya-karya fiksi pembunuhannya, dan emang gue sendiri ngerasain getar-getar misterinya buku ini dan bagaimana dengan indah dia merangkai cerita bagaimana pelakunya membunuh -beberapa orang beranggapan membunuh adalah seni, dimana seni itu tidak lagi menjadi seni bilamana engkau sudah melampau batas-batas seorang pembunuh- 
Di novel ini seringkali disebutkan Sadomasokis dan bagaimana dunia pelacur bekerja, berhubungan pula dengan dunia perfilman -pembunuhannya sendiri berhubungan bagaimana sang pelaku meniru dengan cukup baik cara membunuh dalam film-film pembunuhan terbaik-
Gue pun mulai searching apa itu Sadomasokis karena sepertinya pengarang membawa kita kepada bayang-bayang bahwa Sadomasokis itu adalah hal keji dan tabu untuk dilaksanakan tetapi memiliki kenikmatan tersendiri.
Dan ketika gue mencari dan menemukan dua sumber ini gue pun mulai mempercayai faktanya bahwa hal ini atau definisi ini gak bakal ada tanpa kenyataan yang mendasari, waduh itu hal yang sangat menakutkan.
Jadi apakah  Sadomasokis itu..
Sadomasokis terdiri dari dua kata yang digabungkan, yakni dari Sado dan Masokis. Sado sendiri berasal dari kata sadism.

Sadis yang dimaksud disini bukan hanya bengis tapi dalam hubungan seks mereka menyakiti lawannya dan menjadikan lawannya bukan hanya tersakiti tapi juga teraniaya secara batin, membuat mereka malu. Sadisme Seksual dinamakan berdasarkan nama Marquis de Sade (1740-1841), seseorang yang menulis cerita tentang kenikmatan mencapai kepuasan seksual dengan memberikan rasa sakit atau rasa malu pada orang lain.

Masokis sendiri adalah kebalikan dari apa yang dilakukan oleh Sadisme Seksual, dimana kalau sadisme menyakiti lawannya maka Masokis adalah seseorang yang mencapai kepuasan fantasi seksnya bilamana mereka disakiti, bilamana mereka dipermalukan. Timbulnya penyebutan Masokis sendiri berasal dari nama seorang Novelis Austria Leopold Ritter van Sacher-Masoch (1836-1895) yang menulis cerita dan novel tentang pria yang mencari kepuasan seksual dari wanita yang memberikan rasa nyeri atau sakit pada dirinya, seringnya dalam bentuk dipukul atau dicambuk.

Mengerikan bukan?

Berfikir bagaimana bila kedua pihak bertemu?

Ketika gue mulai mengulik bagaimana 2 sifat itu bertemu pernyataan dari kebanyakan artikel adalah ini sebuah pertanda bagus dan kebaikan, dimana mereka melakukan hal yang disebut penyimpangan seksual ini sebagai simbiosis mutualisme, dimana kedua-duanya saling menguntungkan, karena ada yang menyakiti dan ada yang tersakit dengan satu tujuan sama-sama mencapai puncak fantasi mereka.

Yang berbahaya dari penyimpangan ini adalah bagaimana bila salah satu sifat itu bertemu dengan orang normal, maka yang disebut normal itu akan merasa tersakiti bukan saja jiwa dan raganya tapi ia akan memiliki traumatis yang sangat parah dan cukup akut.

Dan Parahnya...

Kedua sifat ini sulit diketahui secara kentara oleh penderitanya, mereka cenderung terlihat sangat normal bahkan tidak menunjukkan gejala-gejalanya (tidak seperti peodofil yang biasanya lebih terlihat jelas) dimana pemilik sifat ini akan terkuak bilamana sudah masuk dalam fase aktivitas seksualnya sendiri.

Dan biasanya Sadomasokis atau untuk penderitanya disebut S-M, seringnya berganti peran, kadang yang biasanya berperan menjadi Sado berganti menjadi Masokis, dan sebaliknya, untuk mereka yang memang penderita S-M hal ini terlihat wajar dan merupakan sebuah ritual suci dan menarik adrenalin mereka daripada normal kebanyakan.

Ini bukan tanpa efek..

Efek yang ditimbulkan bukan hanya traumatis untuk mereka yang memang tidak mengalami penyimpangan -yang secara tidak sengaja terjerumus dan berkencan dengan pemilik sifat ini- tapi juga KEMATIAN, pernah seringnya wanita (yang biasanya menjadi peran masokis ketimbang sadis) tidak kuat lalu meninggal setelah melakukan S-M. 
Untuk wanita sendiri menurut Hasta (dalam okezon.com, 2008) apabila dipandang dari kesehatan reproduksi wanita, Sadomasokis ini sangat berbahaya, kenapa mau-maunya wanita dipaksa atau diikat dengan cara yang tidak wajar. Mungkin saja terjadi luka vagina, tertularnya PMS, HIV, dan Aids. 
Sadomasokis sendiri diyakini bukan dikatakan sebagai sakit jiwa, karena mereka pasti melakukan dengan berpasangan baik berdua ataupun bertiga bahkan berempat sekalipun (ya gila kalii yak, dikata kencan ganda kaleee) dan cara melakukannya pun telah disepakati bersama. 

Jadi bisa dikatakan sifat ini merupakan penyimpangan seksual namun tidak kejiwaan mereka, tapi bukan berarti gue gak bergidik sepanjang gue nulis dan coba menelusuri, akhir kata penelusuran ini gak gue perdalam lagi dan mengakhirnya dengan mengenal Sadokisme dari lansiran Your Tango seperti singkatan BDSM yakni Bondage (perbudakan) dan discipline (disiplin), kemudian Domination (dominasi) dan submission (kepasrahan), serta Sadism (sadisme) dan Masacochism (masokisme) yang menikmati seks dengan cara menyakiti atau disakiti pasangan.Lalu pengertian Munch yang merupakan kumpulan orang atau kelompok yang terlibat atau tertarik dengan seks sadomasokis. Dan akhirnya gue mengetahui kenyataan bahwa dikampus Harvard, ada perkumpulan pecinta seks Sadomasokis yang sudah diakui oleh Universitas. Perkumpulan tersebut dinilai cukup serius karena anggota grup menawarkan bantuan dari para profesional seperti konselor dan ahli terapi (entah ini maksudnya mendukung mereka atau bagaimana, tapi yang pasti We-O-We), Umumnya Sadomasokis dilakukan dengan Role Play atau permainan peran dan terakhir pelaku Sadomasokis harus mengetahui perannya masing-masing dan mereka harus mengerti batasan-batasan yang telah disepakati guna mempertahankan lawannya agar tetap hidup (jelas banget penyimpangan seks ini sangat berbahaya meski keduanya adalah penderita S-M, berlebihan atau lebih dari kesepakatan selalu dapat membuat pihak yang lain terbunuh)


Referensi :


No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi