Thursday, December 12, 2013

Mimpi Rintik Desember

Udah lama gue menganggap mimpi bukanlah hanya sekedar mimpi, yang dipercaya orang adalah mimpi buaian tidur angan-angan dari apa yang tak terjamah ketika terbangun.
Orang-orang diluar sana kebanyakan percaya bahwa mimpi adalah rajutan asa dari lubuk terdalam yang tak mungkin tergapai, gue pun kadang berharap seperti itu.
Mimpi... buaian mimpi tanpa batas dari apa yang diharapkan namun tak nyata pada kehidupan yang sesungguhnya, bukan berarti gue sebegitu putus asanya karena tidak mencapai hal-hal yang diinginkan, lebih kepada keinginan-keinginan yang bermain dengan imajinasi, suer loh gue pengen rasanya macem Ella The Enchanted, bukan dia sebagai yang terkena kutukan tapi dia yang berada dalam masa itu *efek kebanyakan baca novel.
Seringnya dalam lamunan gue terselip cerita-cerita idaman anak-anak tanggung bahkan seorang anak kecil yang selalu menganggap dirinya seorang Putri..
menjadi terspesialkan.. adalah yang terbaik.. menjadi pusat perhatian *meski gue kadang ragu gue yang sekarang tidak menjadi pusat perhatian, hehe.. :P

Setiap orang punya caranya menanggapi mimpi mereka kayak gue, gue percaya mimpi adalah apa yang dikirimkan Tuhan memperingatkan gue secara dini akan apa yang telah gue lupakan, apa yang tengah gue perbuat, apakah itu baik atau tidak, gue percaya Tuhan bekerja dengan sederhana, gue percaya Malaikat penjaga gue Sancta Christina yang juga adalah nama depan gue adalah yang selalu melindungi gue, duduk disamping gue, menuntun langkah gue, selalu berperang melawan bisikan setan -sendirian- karena seringnya gue yang lebih berpihak kepada setan -sorry, my guardian :)- dan tentunya gue selalu percaya Mimpi bukan hanya sekedar realisasi dari sensasi apa yang gue rasakan dalam kehidupan tapi juga merupakan peringatan dini apa yang nantinya akan terjadi.
Selama gue bicarain mimpi gue jadi inget tentang bagaimana sebulan penuh gue tersiksa memimpikan perginya bokap gue, itu menyakitkan tapi menghasilkan ketabahan yang luar biasa dihari dia pergi, gue tersenyum tidak bersedih dan menerima dengan lapang, memikirkan "bilamana semua sedih siapa yang akan menghibur mereka" dan disanalah gue dengan berdiri tegak menghibur mereka yang sedih, meski pada akhirnya gue muak sendiri dan memutuskan untuk seringnya bermain di luar rumah. Dan Tuhan dengan caranya menyadarkan gue bahwa dirumah masih ada orang yang menantikan gue pulang dan dia tinggal seorang.
Ahh~~ jadi ikut mendayu seperti rintiknya sore ini...

Sebenernya bukan itu yang mau gue ceritain loh, haha.. tapi jelas banget ngelanturnya setengah halaman.
jadi begini ini pertama kalinya gue bermimpi dengan jelas dan teratur seperti ini, biasanya mimpi yang gue dapetin seringnya adalah potongan-potongan dari adegan yang akan gue alamin atau adegan yang biasanya mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi.

Mimpi ini dimulai dari *berusaha mengingat* hehe..
mimpi ini dimulai dari seorang gadis kecil yang pergi mengunjungi rumah kakeknya, dia sungguh manis teramat manis dengan rambut pirang yang terkuncir rapi, kacamata hitam terpasang apik membuat wajah mungilnya terlihat menggemaskan, dia mengenakan baju berwarna pink yang senada dengan celana dan sepatunya, namun itu pun tidak membuatnya terlihat buruk, sama sekali tidak, itu malah membuatnya tampak mungil dan sangat cantik, alaminya seorang gadis polos yang menatap dunia dengan kebahagiaan.
Gadis itu pergi kerumah kakeknya yang berada didaerah yang gue gak tau pasti tempat apa itu, dia pergi kesana atas pinta ibunya yang tinggal tepat dipusat perkotaan. Mengutus anak itu pergi sendirian menaiki kereta, anak itu pergi dengan wajah berseri namun menjadi muram manakala kereta meninggalkan stasiun yang langsung disambut kepergian sang ibu dari stasiun itu, ah.. ibunya meninggalkannya dengan kefasihan bicara anak itu dan sebuah note berisikan alamat tempat tinggal, dia membuang anak itu pikir gue.. melihat kejadian itu siapa yang gak miris? gue pun berfikir penjelasan apa dibalik semua ini.
Perjalanan yang ditempuh bukannya tidak jauh dengan rasa seorang diri tanpa perlindungan sang ibu anak itu menghadapi segalanya dengan tabah :) kuatnya dirimu nak..
Ketika ia akhirnya sampai di rumah sederhana milik kakeknya dia hanya menyunggingkan senyum yang dibalas senyum oleh sang kakek, Kakeknya hanya tinggal sendiri di pondok yang nyaman dan terlihat menggiurkan karena begitu teduh dan sejuk, dia menyukai anak itu, menimangnya.. memanjakannya.. membuat hidup anak itu kerasan dan membuatnya tetap menjadi anak yang beruntung dilahirkan didunia ini, sampai tiba saat itu ketika sang anak memenangkan sesuatu gue gak ingat jelas apa yang dia menangkan, tapi yang jelas dia dikirim ke luar kota tempat dia besar, ke luar dari kota dimana dia dapat perlindungan penuh dari si kakek, dia menaiki pesawat ini membuat gue berfikir bahwa kota tempat kakeknya tinggal adalah kota yang cukup besar karena ada bandara disana.
Berjanji akan kembali secepatnya adalah janji sang anak, dan ini hanya membuat kakeknya tersenyum sembari mengatakan "yang penting bukanlah seberapa cepatnya engkau kembali, meski aku tidak tahan berpisah dari cucuku yang amat manis, tapi yang penting adalah keselamatanmu yang menghantarkanmu kembali kerumah" cinta yang begitu besar dari kakek untuk cucunya, gue jadi sedih mengingat tidak adapun kenangan tentang seorang atau dua orang kakek baik dari pihak ibu ataupun ayah yang sempat mengisi hari-hari gue karena mereka telah termakan usia ketika gue baru saja belajar mengenal dan mengingat orang-orang.
Gak seperti yang gue duga anak itu mengalami kecelakaan pesawat, pesawat tidak hancur lebur namun jatuh dan sekelebat saja mimpi ini berubah didepan apartemen dimana anak yang bukan gadis kecil itu lagi dan sang kakek berdiri menantang apartemen itu, sang anak pun tidak lagi berdiri tegak tapi duduk di kursi roda.
mereka pergi kesebuah ruangan dimana banyak kaum sosialita berkumpul dan saling melemparkan pujian belaka, anak itu dan kakek mendekat pada mereka,
"ini anakmu, aku menghantarkannya setelah sekian lama kalian tidak bertemu, mungkin untuk usia yang tak lagi muda ini kamu mau mengucapkan sepatah kata pada anak ini" dan salah satu dari beberapa wanita itu tertegun menatap sang anak dengan mata tak percaya, inikah anaknya yang ditinggalkannya di kereta sendirian dengan note yang berisi alamat kakeknya, anak itu cantik sekali, dia berambut panjang pirang tergerai, dengan pipi merah dan kulit yang cokelat namun memukau, anak itu berubah menjadi seorang bidadari dan kursi roda itu tak akan bisa menghalangi kecantikannya, kecantikan yang keluar bukan hanya dari wajahnya tapi juga dari dirinya.
"bawalah dia pergi" itu kejam, pikirku, ibu macam apa, anak yang terlahir itu cantik rupanya kenapa juga ditolak?? gue seperti nonton adegan itu tapi juga merasakan betapa sakit hatinya sang anak, ini ngebuat gue berfikir di mimpi gue sendiri yang membingungkan gue menjadi siapa?
"kamu tak perlu menaruh anak ini dalam tempat tidurmu dan menceritakannya segala keajaiban dunia dan indahnya cintamu padanya, tidak perlu. yang perlu kamu lakukan adalah menatapnya dan berbicara apapun untuk terakhir kalinya" gue mulai gak ngerti apakah gadis ini akan meninggal, sebentar lagi?
"ayahmu yang menelantarkanku, sudah sepantasnya aku menelantarkanmu. Ayahmu meninggalkan aku dengan kandungan yang sebentar lagi keluar, kau pikir apa aku ini. mampu menanggung itu semua sendirian, manakala orang-orang mulai mencapku sebagai janda dan mempunyai anak tanpa ayah seakan-akan engkau ini anak haram" dan gue terhenyak, gue cuman bisa memandangnya dan tanpa gue sadarin itulah yang dilakukan gadis itu, mata gue mulai berkaca-kaca dan dia juga..
sang kakek pun langsung membawa si anak pergi dengan perasaan tidak enak,
"jangan bawa dia lagi kepadaku" sahut si ibu, membuat si anak berhenti dan mengarahkan kursi rodanya ke arah ibunya,
"Ayahku tidak pernah menelantarkanmu, dan cibiran orang padamu adalah manipulasimu atas ketidakadilan hidup. Ayahku adalah pejuang, beliau meninggal dalam pekerjaannya dengan mulia!" teriakan si anak jelas menghempaskan si ibu namun itu tidak merubah banyak dengan membuat rengkuhan si ibu berbalik kepadanya, yang justru ia lakukan adalah berlari menuju apartemennya dan mengunci dirinya disana sampai sang kakek dan si anak pergi dari tempat itu, menggantikan suasana itu dengan suasana pantai yang menyejukkan dimana si anak melanjutkan apa yang tertundah.
Pantai itu sungguh indah dengan pasir putih yang halus, deburan ombak yang sangat ramah, sapaan penghuni yang hangat. Semilir angin selalu menemani manakala siang dan malam, membuatku selalu menorehkan senyum di wajah ini dan membuat wajahku bersemu merah. Langit selalu berwarna biru terang meski kadang hitam menghantam namun pantai itu tetaplah menjadi yang terindah dan teramah, menyejukkan lagi menenangkan..
Dan mimpi gue pun berakhir dengan keindahan pekat yang luar biasa.
Adakah orang disana yang memang merasakan hal itu? menjadi anak yang tersia-siakan oleh orang tua mereka?
ya mungkin banyak aja, secara berita KDRT sering aja menghiasai tipi mungil gue..
tapi mimpi gue itu indah banget gue sendiri mungkin cuman bisa menyimpulkan hidup gue gak sedramatis itu tapi gue selalu mengakui dan bersyukur bahwa hidup ini kelewat indah dengan keluarga yang selalu berputar-putar yang selalu menghangatkan gue dikala gue kedinginan akan hidup ini :D


No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi