Thursday, October 24, 2013

Tugas 22/10/2013

1. Jelaskan faktor-faktor yang menentukan intensitas etika dari keputusan?
Jawab ::

  • faktor yang beroperasi pada berbagai tingkat pengaruh. Sebagai contoh, etika individu dapat dibentuk oleh pribadi karakteristik seperti demografi, kepribadian, disposisi, filsafat moral, dan etika ideologi
  • (Kish-Gephart et al 2010;. Loe et al, 2000;. O'Fallon dan Butterfield 2005). Penalaran etis juga dapat dipengaruhi oleh konteks pekerjaan langsung individu, yang dapat meliputi karakteristik budaya yang luas, iklim berbasis faktor, orientasi profesional dan disiplin, dan nilai-nilai terkait dengan etika (Douglas et al, 2001;. Kish-Gephart et al. 2010; Singhapakdi et al. 2000; Valentine dan Barnett 2007; Valentine dkk. 2010), atau dengan kebijakan seperti kode melakukan dan pelatihan etika yang memperkuat konteks ini (Adams et al, 2001;. Valentine dan Barnett 2002; Valentine dan Fleischman 2004, 2008). ( http://etikabisnis91.blogspot.com/2011/12/intensitas-moral-pentingnya-isu-dan.html )
  • Values; nilai-nilai etika adalah keyakinan preskriptif tentang apa yang “benar” dan “salah”.

Jenis-Jenis Nilai
Menurut Rokeach, nilai dibagi menjadi 2 yakni :
Nilai terminal, mengacu pada keyakinan atau konsepsi tentang tujuan akhir atau hasil akhir yang diinginkan
Nilai instrumental, mengacu pada keyakinan atau konsepsi keinginan dari mode perilaku yang instrumental bagi tujuan yang diinginkan. dalam kehidupan profesional nilai-nilai pribadi dimediasi oleh kekuatan orang lain di dalam struktur organisasi yang dapat mengubah peran yang dimainkan oleh nilai-nilai pribadi dalam pengambilan keputusan. Filsuf melihat perbedaan secara jelas dalam dua peran keputusan yang berbeda sebagai etika pribadi dan umum.

  • Nilai Pribadi Moderator ; Tiga sifat pribadi timbul untuk bertindak dari nilai-nilai pribadi seseorang sebagai moderator dalam pengambilan keputusan kegiatan. Ketiga sifat tersebut yakni : Kekuatan ego, Field dependence, Locus of control (http://maxerta.blogspot.com/2012/05/etika-dan-pengambilan-keputusan.html)
  • Dilema Etika ; Prinsip-prinsip kode etik profesional akuntan sudah selayaknya menjadi acuan dalam menentukan keputusan yang etis bagi para akuntan. 
  • Teori Model Pengambilan Keputusan Etis ; Menurut Jones (1991: 367) menyatakan ada 3 definisi untuk memahami model-model dalam pembuatan keputusan etis. Pertama adalah isu moral (moral issue). Isu moral timbul pada saat ada tindakan seseorang yang mungkin dapat merugikan (harm) atau menguntungkan (benefit) orang lain. Atau dengan kata lain suatu tindakan atau keputusan pasti memiliki konsekuensi-konsekuensi terhadap orang lain dan pasti melibatkan suatu pilihan atau kemauan dari isi pembuat keputusan. Kedua adalah agen moral (moral agent), adalah orang yang membuat keputusan moral walaupun mungkin orang tersebut tidak mengenali isu moral tersebut. Ketiga adalah keputusan etis (ethical decision) itu sendiri adalah sebuah keputusan yang secara legal dan moral dapat diterima oleh masyarakat luas. Ada 6 (enam) model dalam mengklarifikasikan model keputusan etis menurut Jones (1991), yaitu (1). Rest’s Model, (2). Trevino’s Model, 3). Ferrel & Gresham’s Model, (4). Hunt’s & Vitel’s Model, (5). Dubinsky & Loken’s Model, dan (6). Issue Contingency Model. 

2. Jelaskan prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang etis?
Jawab ::


•Autonomy
Isu ini berkaitan dengan apakah keputusan Anda melakukan eksploitasi terhadap orang lain dan mempengaruhi kebebasan mereka? Setiap keputusan yang Anda ambil tentunya akan mempengaruhi banyak orang. Oleh karena itu, Anda perlu mempertimbangkan faktor ini ke dalam setiap proses pengambilan keputusan Anda.
Misalnya keputusan untuk merekrut pekerja dengan biaya murah. Seringkali perusahaan mengeksploitasi buruh dengan biaya semurah mungkin padahal sesungguhnya upah tersebut tidak layak untuk hidup.

• Non-malfeasance
Apakah keputusan Anda akan mencederai pihak lain? Di kepemerintahan, nyaris setiap peraturan tentunya akan menguntungkan bagi satu pihak sementara itu mencederai bagi pihak lain. Begitu pula halnya dengan keputusan bisnis pada umumnya, dimana tentunya menguntungkan bagi beberapa pihak namun tidak bagi pihak lain.
Misalnya kasus yang belakangan menghangat yaitu pemerintah dengan UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang baru disahkan dan ditentang oleh banyak pihak. Salah satunya implikasi dari UU tersebut adalah pemblokiran situs porno. Meskipun usaha pemerintah baik, namun banyak pihak yang menentangnya.

•Beneficence
Apakah keputusan yang Anda ambil benar-benar membawa manfaat? Manfaat yang Anda ambil melalui keputusan harus dapat menjadi solusi bagi masalah dan merupakan solusi terbaik yang bisa diambil.

• Justice
Proses pengambilan keputusan mempertimbangkan faktor keadilan, dan termasuk implementasinya. Di dunia ini memang sulit untuk menciptakan keadilan yang sempurnam namun tentunya kita selalu berusaha untuk menciptakan keadilan yang ideal dimana memperlakukan tiap orang dengan sejajar.
Misalnya dalam keputusan reward, Astra Internasional mempunyai 2 filosofi dasar. Pertama adalah fair secara internal, dimana setiap orang dengan dengan golongan yang sama dan prestasi yang sama maka pendapatannya juga sama. Keputusan ini mencerminkan keadilan di dalam perusahaan itu sendiri. Sementara itu, filosofi lainnya adalah kompetitif secara eksternal, atau gaji yang bersaing dalam industri.

• Fidelity
Fidelity berkaitan dengan kesesuaian keputusan dengan definisi peran yang kita mainkan. Seringkali ini melibatkan ‘looking at the bigger picture’ atau melihat secara keseluruhan dan memahami peran Anda dengan baik.

Misalnya keputusan Chairman Federal Reserve, Ben S. Bernanke untuk menyelamatkan Bear Stearns dengan cara menyokong dana bagi akuisisi JPMorgan terhadap Bear Stearns senilai $30 miliar dan dipertanyakan oleh banyak pihak. Namun, Bernanke berpendapat bahwa ia melakukannya demi mencegah kekacauan finansial yang akan dialami pasar jika Bear Stearns benar-benar bangkrut.


3. Jelaskan suap (Bribery) merupakan suatu tindakan yang tidak etis dengan memberikan sebuah contoh?
Jawab ::

Definisi suap (Undang-undang No. 11 tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap) 
Pasal 2 
... memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang dengan maksud untuk membujuk supaya orang itu berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum, ... 
Pasal 3 
... menerima sesuatu atau janji, sedangkan ia mengetahui atau patut dapat menduga bahwa pemberian sesuatu atau janji itu dimaksudkan supaya ia berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam tugasnya, yang berlawanan dengan kewenangan atau kewajibannya yang menyangkut kepentingan umum, ... 

atau dalam kata lain suap adalah penyelewengan wewenang yang dilakukan oleh seorang individu dan terbantu oleh individu lain.
Adapun contoh kasus suap yang masih disidang adalah Kasus Suap Daging Impor, kasus ini sudah muncul sejak 2 tahun yang lalu. Ahmad Fathonah yang ditengarai sebagai dalang utama kasus ini, telah menyeret berbagai nama termasuk Bunda Putri yang kini sedang gencar diberitakan dan dicari asal usulnya. Suap sendiri dalam kalangan pemerintah bukanlah hal yang aneh namun bukan hal yang dilumrahkan, terlalu banyak pejabat-pejabat politik yang bermain dengan uang dan menjerumuskan pemain-pemain baru membuat kasus suap menyuap cukup sulit diberantas, kurang tegasnya hukum dan terlalu banyak pemain suap juga menyulitkan pemerintah untuk membasmi kasus ini.
Uang yang digunakan dalam kasus suap pemerintahan tentunya berkaitan dengan APBN atau APBD dalam pemerintah daerah, ini akan mengakibatkan anggaran yang seharusnya bisa dimaksimalkan menjadi tidak maksimal dan berimbas kepada tingkat kebutuhan masyrakat yang tidak terpenuhi. Banyak ahli berpendapat bahwa pada Negara Berkembang merupakan hal yang wajar melalui fase pemerintah yang korup. Namun pertanyaan berikutnya adalah, sampai kapan?   

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi