Wednesday, May 8, 2013

“ Cintaku Cintamu Cinta Kita “

Hari ini hari yang sangat cerah dengan mentari bersinar, siang yang sungguh indah untuk menghabiskan waktu diluar, ucapku dalam hati, jadilah aku disini, ditengah sepinya mall ditemani oleh brand-brand ternama..
          “angela..” panggil seseorang kepadaku, dan tengok adalah jawabku, kutemukan dia, sosok wanita yang setia menemani masa-masa sma-ku, Imelda..
          “Imelda, temanku tersayang..” sahutku lalu memeluknya penuh erat, meski dia bukan teman dekatku, hanya seseorang yang menemani masa-masa sma yang cukup sulit bagiku.
          “sedang belanja ya?” tanyanya, aku hanya mengangkat tangan yang sudah habis dimakan tas belanjaan sebagai jawaban,
          “kamu lagi apa disini?” tanyaku, dan dia hanya tersenyum lalu menggandeng lenganku menuju sebuah resto makanan,     



   “aku yang punya, ini adalah cabangnya”, jawabannya membuatku kaget, ya Imelda, anak beasiswa yang mendapatkan beasiswa penuh, yang bekerja keras siang dan malam demi kehidupan kerasnya di Jakarta, yang dulu mempunyai mimpi membangun restoran dan kini dia mendapatkan segalanya, dia mendapatkan mimpinya,
          “serius? Wah hebat juga kamu, udah gue bilang dari dulu kan kalo kamu tuh hebat dan pasti bisa” ucapku dan hanya disambut senyum olehnya,
          “maamaaaaa…” teriakan kecil disambut dengan pelukan hangat dari Imelda,
          “halo putri tyaku sayang” jawaban dari Imelda yang disertai dengan pelukan hangat,
          “halo sayang, makasih ya udah luangin waktu..” sahut Imelda kemudian, kini dia bersandar dengan suaminya, cristan, dan anaknya yang manis Tya, aku tertegun oleh pemandangan ini, aku terhenyak oleh keadaan ini..
          “ah tya, ini tante angela, ayo beri salam”,
          “halo tante cantik” panggilan tya membuatku tersenyum kecut,
          “Imelda aku langsung pulang ya, baru inget ada acara dirumah” ucapku lalu pergi meninggalkannya.

          Siapakah aku? Hanya debulah aku, hanya gelaplah aku, aku hanya setitik kecil kelam di tengah dunia yang indah…

Pemandangan indah yang baru saja kutemui, sebuah keluarga kecil yang cantik, bermandikan senyum dan tawa renyah disetiap sudut cerita yang mereka rajut, keluarga yang saling membina, saling menyayangi..
Lalu siapakah aku?
Lalu apakah aku?
Lalu bagaimana dengan diriku?

Angela Liliana, nama yang begitu cantik dengan kehidupan yang begitu indah menerangiku, dengan kehidupan yang berlimpah harta, dengan kehidupan yang begitu manis, dengan kehidupan yang begitu sepi.. sepi tanpa orang tua.. sepi tanpa siapapun yang ada disisiku..
Orang tuaku? Aku tak punya, mereka meninggalkanku terlebih dahulu, menghadap sang khalik, meninggalkanku dalam balutan keterjaminan kehidupan yang layak, dengan kakak yang mengendalikan semua-muanya..
Dan aku hanya duduk santai sambil merasakan gemerlapnya dan silaunya harta-harta ini, kakakku tak pernah mengeluh, Andi Raymond, dialah kakakku, tak pernah mengeluh, tak pernah memintaku melakukan hal yang tak kusuka, tak pernah membuatku kesusahan, namun selalu melindungiku, selalu menjagaku, selalu terlihat dimanapun aku berada..
Ketika aku menangis terisak kehilangan mama dan papa, dia hadir dan memelukku dengan lembut,
Ketika kesepian datang menghadang, dia hadir menemaniku menonton dan bermain sebentar,
Ketika sakit menghalau, dia hadir menjagaku sampai sakitku hilang..
Dia kakakku tersayang, yang sayangnya tak pernah kumiliki..
Dia kakakku tersayang, yang tak boleh aku miliki..
Kini perasaan itu lama menghilang seiring dengan menikahnya kakakku dengan gadis yang amat dicintai, Anastya Rifalina, gadis pekerja keras, lembut dan sangat keibuan, kakakku bertemu dengannya dikantin dekat kantor perusahaan, hubungan cinta yang unik pun dijalani sampai akhirnya anastya dan kakakku menikah.
Aku sendiri?
Saat kakakku menikah aku dalam masa-masa terkelam dalam hidupku, dan Imelda adalah satu-satunya teman yang saat itu aku kenal dan tahu, rasa belanjaku menjadi candu yang memuakkan, aku benar-benar hancur dan gila, aku berantakan dan butuh pertolongan, dan hanya Imelda yang ada disaat itu menemani segala tangisku dan segala deritaku, perubahan drastisku menjadi alarm bahaya bagi kakakku dan istrinya yang kemudian mengirimku ke luar negeri secara paksa, dengan pantauan penuh dari pengasuh kecilku, inilah fase dimana aku belajar melupakan cinta terlarang adik dan kakak, dan baru kusadari aku butuh Imelda, aku membutuhkannya, apakah dia cintaku?
Pikiran baru mulai timbul dan lebih membahayakan, aku yang sedang bimbang dan bingung, terombang ambing oleh rasa yang timbul dan tenggelam..
Bimbang oleh rasa yang ada dan tak ada, saat itulah aku intens berkomunikasi dengan Imelda yang jauh di Indonesia dan aku di Jepang.
Komunikasi ini lama-lama diketahui oleh pengasuh kecilku dan kakakku, yang kemudian dilanjutkan dengan interogasi kepada Imelda, dan sejak saat itulah aku mendadak berhenti berkomunikasi dari Imelda, dan mulai keluar masuk psikolog dan yoga, berharap aku berubah dan menjadi wajar sepenuhnya.
Kehidupan yang kujalani lebih berat daripada yang aku tampilkan dalam kehidupan…
Saat itu, ketika segala beban jiwa telah kulepas, segala hidup telah kurenggangkan, dan kehidupan telah kembali seperti jalannya, aku yang telah menyelesaikan studiku kembali ke Indonesia.
“hari kembalinya kamu adalah hari ulang tahun perusahaan yang berarti hari ulang tahunnya kamu, jadi kakak harap kamu dapat hadir ya adikku manis..” ucap kakak dari telfon, aku hanya mengiyakan lalu langsung menutup telfon tanpa mengucapkan salam, aku kini tinggal disebuah apartemen didaerah sudirman, bukan hanya untuk menghindari kakakku dan istrinya tapi juga mempersiapkan diri untuk bertemu dengan mereka, tentunya ini adalah moment yang tepat. Jakarta.. aku kembali,
          Yang terjadi agarlah terjadi, karena indahnya hidup adalah tragedy tragedy yang ada didalamnya..

Malam itu sungguh ramai, semua undangan datang, karyawan sampai OB pun tak lupa diundang oleh kakakku, meski ruangannya dipisahkan agar tak ada rasa janggal dan aneh.
“kenapa tak sekalian kau pisahkan saja harinya?” tanyaku sambil memainkan gelas bibir,
“karena aku tak bisa cantik, sedangkan aku ingin ada ditengah-tengah mereka”,
“serakah..” sahutku kemudian sambil memiringkan kepala lalu pergi menembus keramaian menuju ke balkon, dia hanya tersenyum sembari memegang dadanya,
“apakah tidak sebaiknya kita beritahu dia?” tanya Anastya, dan kakakku hanya menggeleng,
“aku pastikan dia tahu, tapi tidak saat dia sendiri seperti ini..” jawab Andi,

Aturan dan hidup adalah sesuatu yang tak akan terpisahkan, namun apakah harus seperti itu?

“kalau begitu keadaannya kita harus menentukan rapat secepatnya, besok pagi, kamu siapkan proposalnya, besok saya hubungi lagi untuk kelanjutannya”, di balkon itu bukan hanya ada aku tapi seorang lelaki tampan yang mempunyai muka keras dan berperawakan menawan,
“sibuknya..” ucapku sambil memandang kosong kedepan,
“maaf?” tanyanya lagi,
“kamu gak tahu siapa saya, padahal kamu diundang ke ulang tahunnya, apa itu sopan?” tanyaku lagi
“maaf?” dia mengucapkan hal yang sama untuk kedua kalinya, itu membosankan..
“membosankan, siapa namamu?” tanyaku
“kamu gak tahu siapa saya? Padahal kamu mengundang saya ke ulang tahunmu, apa itu sopan?” ah.. dia membalikkan pertanyaanku, aku tersenyum lalu berjalan pergi..

Denting denting nada itu menakjubkan namun sayangnya ada kepahitan dan kepedihan yang terselip di tiap nadanya..

Tepukan tangan berhamburan dari para hadirin, memberikan appreciate kepadaku melalui permainan pianoku yang apik..
“permainan yang indah sekali dari nona muda Angela, dan tentunya ucapan selamat ulang tahun kami sampaikan sekali lagi, silahkan nona bilamana ada yang mau disampaikan” ucap mc, dan hadirlah mic di tanganku,
“tentunya hal pertama yang harus saya ucapkan adalah terima kasih banyak atas tepuk tangan yang begitu meriah atas permainan saya, dan terima kasih atas kehadiran kalian semua, dengan waktu yang sengaja diluangkan, di ulang tahun saya, yang juga ulang tahun perusahaan dan bisa dikatakan dimana hari kembalinya saya setelah studi panjang di jepang, saya mengharapkan bantuan atas kehadiran saya disini kedepannya dan satu pengumuman lagi, saya akan menikah dengan Steven Dewantoro, tolong steven maju” ucapku sambil tersenyum, namun sebaliknya dengan para hadirin dan steven yang baru saja selesai menelfon, bingung dengan apa yang terjadi apalagi bersangkutan dengan dirinya,
“selamat ya pak steven, atas rencana pernikahannya dengan nona Angelina” ucapan selamat yang hangat melayang memenuhi pikiran steven yang akhirnya menarik dirinya ke hadapanku, aku tersenyum puas.

Aku memilihmu bukan hanya karena aku ingin tapi ada getar yang kurasakan ketika melihat wajahmu yang keras..

“aku sama sekali tak mengenalmu, aku tak tahu siapa kamu, dan yang terutama kita baru pertama kali bertemu kemarin, face to face di balkon, bahkan kamu tak tahu aku sudah beristri atau belum, aku sudah punya pacar atau belum, atau bertunangan” dia ngomel-ngomel membuatku tertawa hebat, ekspresinya lucu sekali
“jangan tertawa kumohon Angelina, kamu tuh gila ya..” sambungnya lagi
“aku gila, gila karena kamu” jawabku
“lagipula, tak ada cincin pertunangan apalagi pernikahan yang tersemat dijari kamu, dan ucapan selamat yang kemarin dilayangkan semua orang aku rasa kamu gak punya pacar, yah mungkin patah hatinya wanita-wanita diluar sana bukan urusanku” sambungku, membuatnya garuk-garuk kepala,
“tapi ini soal pernikahan, sacral, meskipun aku businessman tapi aku mengerti betul tentang sucinya pernikahan dan cinta yang terjalin didalamnya” sahutannya membuatku tersenyum puas, lalu bersiap pergi
“kita akan menikah 2 minggu lagi, undangan akan segera disebar, bersiap ya..” dan berlalulah aku meninggalkan dia dengan segala yang ada dipikirannya.

Waktu tak akan pernah bisa kita ubah atau putar, waktu juga tak akan pernah berhenti untuk melihat kita memperbaiki kesalahan yang terjadi di masa lalu..

Pernikahan yang begitu megah dan terlihat matang, membuat persepsi semua pihak menyatakan kami sebagai pasangan serasi dan telah menjalin cinta yang begitu dalam, padahal dibalik layar ini steven terus saja membeo tak henti dan terlihat sangat stress, apalagi orang tuanya yang tak pernah membayangkan akan menikahkan anak kesayangannya dengan menantu yang memang sudah diidamkan sejak dulu..
“selamat yaaa..” semua ucapan selamat membuatku tersenyum puas, pernikahan ini bukan saja membuatku tersenyum tapi juga membuatku menampilkan aura kecantikan yang luar biasa, yang menyentuh hati setiap hadirin yang datang, yang mengatakan bahwa aku terlihat seperti malaikat yang turun, pujian yang indah dan mempesona.
“jangan terus memperhatikan aku seperti itu, nanti aku bisa meleleh” ucapku padanya sambil tersenyum, membuatnya menunduk malu lalu kembali menyalami para hadirin.
“Andiiiiii!!!!” tiba-tiba saja teriakan itu ada, tiba-tiba saja teriakan itu hadir diantara kami, tiba-tiba saja kakakku tersayang jatuh dihadapanku, tak sadarkan diri..
Kenapa kak? Kamu kenapa? Ada apa? Dan aku pun seperti tersengat, jatuh tak sadarkan diri juga. Ini membuat para hadirin panic dan langsung melarikan kami berdua kerumah sakit.
          “angel angel?” siapa yang memanggilku? Ketika kubuka mata ini kulihat mata cemas steven, Imelda dan beberapa temanku, aku langsung menangis sesenggukan,
          “semuanya baik-baik saja adikku manis”, itu suara kakakku, tangisku jadi meledak, aku pun bangun dan mengharapkan pelukan darinya,
          “kamu cemas ya, tapi aku baik-baik saja sayang..” aku hanya mengangguk tanpa bisa berhenti menangis.
Aku tak bisa kakak aku tak bisa menampik pikiran bahwa hidupmu tinggal sebentar,
Semenjak itu, usai pernikahan yang heboh dan segala kejadian yang menyelinginya aku sering menghabiskan waktu bersama kakakku daripada suamiku sendiri dan dia baik-baik saja.
          Tibalah hari itu ketika hati bergetar pilu, mataku memanas dan tangis tak terbendung lagi, aku terjebak lagi dalam lembah kegelapan, kini lebih gelap dan tak ada siapapun yang dapat menolongku, bahkan aku melupakan bahwa aku punya tempat bersandar, suamiku..
Aku kembali kepada kebiasaan lama, aku kembali kepada kehidupan lamaku namun kini aku lebih berantakan,
Steven ia telah menolongku semampunya dan sebisanya, namun akulah yang menampik pertolongan itu, akulah yang menolaknya, aku yang dulu menariknya kini melemparnya begitu saja dan membatasinya dengan area aman yang hanya ada aku seorang..

          Meski waktu tidak akan pernah bisa diubah, meski waktu tidak akan berputar kembali, namun memperbaiki adalah cara menembus kesalahan masa lalu..

          Semua kenangan itu bermain dikepalaku, membuatku tersadar kini aku ada dimana, kini aku siapa..
Istri kakakku, Anastya memutuskan untuk tidak menikah dan memilih mencurahkan sepenuh hati untuk ketiga anaknya yang kini tumbuh semakin dewasa, Steven yang mengambil alih kepemimpinan kakakku, Imelda dan keluarga kecilnya yang hangat begitu menyentuhku, begitu menyadarkanku.
          “halo sayang..” ucap steven, suamiku yang setia sampai sekarang menemaniku, menemani masa-masa sulitku dan setia dengan kesabarannya, apakah dia mencintaiku sedalam itu? Dia membawa sebuket mawar merah yang wanginya tak terkirakan dan tak mungkin kutolak,
          “sayang..” aku langsung memeluknya,
          “sayang..” ucapku sekali lagi, steven yang kaget namun bahagia, akhirnya aku dengan kesadaranku bahwa ada keberadaannya, tersenyum dan memelukku lebih erat,
          “aku merindukanmu sayang..” ucapnya membuatku menangis sesenggukan,
          “aku pulang..” bisikku, dan dia memelukku lebih erat lagi sampai sulitku untuk bernafas..
          “kau berencana membuatku masuk rumah sakit ya?” sahutku sambil tertawa, membuatnya melepaskanku,
          “karena aku begitu mencintai istriku yang sangat cantik ini..”
          “sejak kapan kamu mencintaiku? Orang yang baru pertama kali kamu temukan dan dengan berani mengumumkan ke public bahwa aku akan menikah denganmu?”
          “aku tertarik ketika kamu memainkan piano yang begitu menggugah, dengan nada-nada menakjubkan namun diiringi dengan rasa sakit yang tak tertahankan, ketika itu tiba-tiba saja ada telfon dan aku harus meninggalkan permainanmu yang belum selesai” dia tersenyum sejenak sambil memandang mataku,
          “lalu ketika di pernikahan kita, kecantikanmu, auramu membuatku harus berfikir dua kali untuk menolak gadis sepertimu, kelembutanmu dan kebaikanmu pada semua orang, yang tercermin darimu, sejak itulah aku mengikrarkan dalam hati kamu adalah satu-satunya wanita yang akan kujaga dan kucintai. Lalu kini ketika kamu kembali aku jatuh cinta untuk kedua kalinya, jatuh cinta kepada wanita yang sama, yang dahulu merebut hatiku..”
Aku tersenyum, aku bahagia….. inilah cinta yang selama ini kucari, inilah cinta yang selama ini kunanti-nanti.. inilah cinta yang aku dambakan.

Hidup adalah sebuah keajaiban, Dimana kita akan menemukan begitu banyak makna yang ada, Dimana kita sendiri menjadi bermakna.. Hidup adalah kamu dan aku, kita semua bukan tentang kamu sendiri, Hidup adalah sulaman cerita yang menghidupkan. Dan cinta adalah yang membuat hidup adalah hidup. Dalam hidup ada begitu banyak pilihan, kamu mau maju, mundur, atau berhenti..
Kamu bisa saja memilih untuk berhenti lalu apa?
Kamu bisa saja memilih mundur dan menyerah lalu apa?
Kamu bisa saja memilih maju dan menjadi bahagia… hidup adalah bagaimana perjuangan, bukan kamu seorang diri, tapi orang-orang disekelilingmu, untuk menjadikan hidup keindahan, anugrah hidup tak terbantahkan..
Hidup adalah cinta dan sayang dari orang-orang disekeliling kita, cinta dan sayang kita untuk mereka semua..

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi