Monday, July 9, 2012

Persinggahan yang Manis

Bagaimana akhirnya, dengan sebuah kata saja atau sekumpulan kata yang membentuk sebarisan kalimat menjadi sangat membekas dan tak terlupakan..
hidup ini memang kejam bukan? ketika kita hendak menyampaikan aspirasi kita mulai terdengar suara-suara sinis dari seberang sana yang meragukan keberadaan apa yang telah kita tekuni dan perbuat atau bahkan eksistensi akan keberadaan kita.
kita pun mulai mendangak dan melihat arti eksistensi itu sebenarnya dan menyatakan bahwa kuasa atas diri sendiri adalah milik diri sendiri. Bukan kamu yang diluar daripada jiwa itu atau seorang penonton baru yang mengerti aku sejam yang lalu.

sebuah kata juga tentunya dapat mengubah pribadi seseorang, mungkin kukatakan bahwa belahan jiwaku baru saja beberapa hari pergi tapi sebenarnya aku tak bisa menyatakan dia belahan jiwaku, kenapa?
karena suatu hal dan sebagainya, aku tak menobatkan dia menjadi belahan jiwaku, aku hanya mengatakannya di bibir tanpa pernah mempercayainya, ini seperti sebuah kenyataan yang sangat pahit sebenarnya.
sekarang dia telah pergi dan meninggalkan kekosongan yang sebaliknya bukannya menyedihkan malah membuatku menatap langit dan tersenyum. entah kenapa ada kebebasan semacam ini? kebebasan karena tidak membohongi diri sendiri. lalu, selama ini apa yang telah kulakukan bersamanya? pertanyaan ini seperti menghujamku dan menyambutku dalam tawa yang na'as.
aku mulai menyadari keberadaannya namun karena satu dan lain hal dengan banyak pertimbangan dan batasan-batasan yang aku sendiri enggan melanggarnya, aku hanya menjadikannya pelabuhan dan mempunyai harapan dia akan dengan sigap membuatku jatuh dalam pelukannya. namun angin ramah itu tak bersambut. Mungkin ia lakukan yang terbaik menurutnya tapi tidak cukup bagiku, karena aku tak urung masih setia dengan benteng pertahanan ini, sikapnya yang tak mampu membuatku simpatik dan rasanya yang  tak tulus membuatku harus memandanginya dan meyakinkan diriku, jalan mana yang kupilih?
dengan hati yang berat aku memilih jalan itu, aku pergi berlayar kembali, namun kini memilih untuk mengapung tanpa arah bukan memilih pelabuhan lagi. persinggahan yang belum terbersit meski aku tak memungkiri bahwa mungkin hari itu akan tiba dan pasti tiba.
aku terduduk di pelataran langit memandang bintang yang bersinar meski dari kejauhan dan mengatakan bahwa aku siap dan tolong bantu aku dengan malammu yang indah. itulah yang terjadi padaku, meski ternyata sakit itu tepat menusuk hatiku, mulai sayangkah aku padanya? aku sakit kenapa? sakitkah aku karenanya?
dan sekali lagi aku merasakan sakit yang menimbulkan sebuah kesenangan.
karena dari titik ini aku malah siap untuk menatap langit. persinggahan yang manis memang dan juga sangat menakjubkan.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi