Tuesday, July 10, 2012

I Love Teacher!!


Pendidik adalah sebuah kata yang fenomenal menurut gue, gimana enggak, dengan gaji yang katanya kecil bin ajaib, yang katanya bisa hidup dengan mobil keren berarti ada apa-apanya saja merupakan seorang tokoh yang harus dan wajib dimiliki oleh sebuah Negara.
Namun sebenarnya pendidik di jaman ini adalah sebuah anugerah tersendiri, dimana pada tiap akhir tahun atau kenaikan semester selalu mendapatkan “bonus” menyenangkan. Menjadi pendidik pun merupakan dambaan tersendiri dewasa ini, terlebih bila ia mencakup sebagai dosen maka beasiswa full S2 pun terpampang sangat jelas didepan mata. Terus sebenernya yang mau gue angkat di sini tuh apa sih?
Okey, menjadi pendidik memang bukanlah tantangan yang mudah bila kita tidak mencintai profesi ini, seringnya seseorang terpaksa atau akhirnya karena tidak ada pilihan terjun dalam bidang ini, itu merupakan kesalahan besar atau bila ia tidak dengan baik menekuni bidang ini itu juga disebut dengan kesalahan, nikmatnya menjadi pendidik tidak serta merta dikondisikan dengan tingginya kualitas (dan kuantitas) untuk para pendidik dan ini juga yang menyebabkan para terdidik tidak terkonsentrasi pada tingkat yang lebih mumpuni. Godaan untuk berkumpul dalam sebutan Perkotaan pun menjadi sebuah andil tersendiri. Bayangkan bagaimana indahnya kehidupan perkotaan yang biasanya lebih menjanjikan daripada Pedesaan yang (maaf) sangat tidak menjanjikan. Bagaimana para pelaku pendidik biasanya lebih mementingkan egonya daripada pengorbanannya, namun ini semua tidak juga dapat disalahkan karena pemerintah sendiri kadang kurang memperhatikan kesejahteraan dan mengabaikan kenaikan pangkat dari banyak tenaga pendidik yang kompeten.
Tapi ini adalah masalah yang sangat luas, dengan tidak mengabaikannya mari kita persempit ini kedalam jiwa para tenaga pendidik kita yang tercinta.
Pendidik seringkali disebut dengan guru, dan kita tahu guru adalah nafas bagi kehidupan yang kita jalani, dan pedoman bagi kehidupan kita. Guru adalah seorang sosok yang mengajar bukan saja melalui pikiran dan akalnya tapi harusnya dengan hati juga, layaknya seorang pemimpin, Guru yang mengajar dengan kasih sayang dan keikhlasan akan lebih diterima oleh para terdidik atau murid.
Ini semua sebenarnya adalah pengalaman yang gue alami sebagai mahasiswa, bagaimana akhirnya dosen gue yang tercinta membuat gue seutuhnya  mencintai bagaimana mengajar dengan hati dan tanpa imbalan!
Benar-benar sebuah keajaiban bagaimana seorang pendidik dapat begitu inspiratif dan menggerakkan gue yang katakanlah beradat keras menjadi lunak dan lumer dan dengan cepat dapat mengatakan baik akan saya lakukan dan saya ajarkan. Ini menarik bagaimana ketika dosen gue yang dengan suara lantangnya mengajarkan bagaimana hidup melalui mata kuliahnya, dia mengajarkan statistika padahal, sebuah materi yang menurut gue satu-satunya materi kuliah yang tidak memerlukan campur tangan Tuhan karena bersifat eksak dan pasti, tapi ajaibnya dia mengajarkan kepada gue sisi lain dari statistika yang membuat gue menyadari akan kehidupan yang lain, kehidupan yang tidak pasti dan bagaimana kita menemukan kebenaran akannya. Dia jugalah pendidik yang paling aspiratif dengan tegas mengatakan bahwa kehidupan adalah impian raihlah, dan pendidik yang menurut gue adalah seorang motivator yang akhirnya menghantarkan gue kepada sebuah babak baru dalam hidup gue.
Menjadi seorang Asisten Laboratorium di kampus, seorang pengajar bagi para adik kelas. Inilah menurut gue ajaibnya pendidik, kala itu gue sungguh putus asa (sebelumnya gue pernah daftar jadi aslab, tapi gagal dan gue gak bakal nyoba lagi) tapi dia, seorang dosen yang mengajarkan bahwa kehidupan adalah sebuah perjuangan dengan kerendahan hati, membuat gue mencoba dan tibalah gue hari ini menjadi seorang pengajar (yang meski bukan resmi dengan status guru atau dosen) tapi mengajarkan kepada adik kelas.
Inilah menurut gue seorang dosen dambaan dan harusnya begini standar dosen, mengajar bukan sebatas bangku pendidikan tapi  bagaimana pendidikan itu dapat menghantarkan kita kepada sebuah kehidupan yang baik dan bagaimana pengaplikasiannya bukan saja ditempat kita bekerja tapi dilingkungan kita berada. Mengharukan, mengingat hanya segelintir tenaga pendidik yang seperti ini dan award untuk pendidik seperti ini belum terapresiasi penuh.   
Jadi sederhananya Negara kita mungkin kekurangan tenaga pendidik yang mengajar dengan kesungguhan hati.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi