Thursday, March 31, 2011

" sukaku padamu !!"

Aku menyukaimu..
lebih dari kata suka..
^^,
aku menyayangimu..
lebih dari kata sayang..
^^,
semua di otakku hanya tentangmu dan dirimu...
hatiku hanya dipenuhi kamu kamu dan kamu..
meski kamu belum tau..
atau mungkin sudah tau???
aku pun tak tau..
tapii..
rasa ini sesunggunya kupupuk untukmu..
meski nanti pada akhirnya rasaku ini tersingkap dan kamu mengetahuinya..
aku pun pasti akan berserah pada hatimu..
hati yang masih menjadi misteri bagi diriku..
hati yang masih menjadi tanda tanya bagi diriku..

Wednesday, March 23, 2011

“Cinta untuk Anak Recehan”



         Malam terus saja pancarkan cahayanya, setitik tawa dibawah gelapnya kelam. Namun sekelompok anak masih saja berjaga, membuka mata lebar dan bernyanyi bersama. Dalam iringan kecrekan dari tutup botol dan botol berisi sejumput beras mereka bersenandung. Dalam kesederhanaan mereka terus saja tertawa. Malam adalah sahabat peneduh mereka, sahabat mereka yang ramah. Meski dingin adalah miliknya namun itu menjadi penyenang mereka.
         Beralaskan tanah yang dingin itulah mereka terlelap ketika ngantuk menghinggap, tidur berjubelan. Bukan karena mereka tak punya rumah, bukan karena mereka tak punya keluarga tapi karena mereka kini hidup sendiri, nasib membuat mereka menjadi sendiri sekarang.
         Mereka yang terusir, mereka yang terpisah dan mereka yang memang sudah terlantar adalah mereka sang Anak Recehan. Berkumpul menjadi satu, berkumpul membentuk kesatuan dan saling menyenangi.
Ketika keberuntungan datang, mereka dapat tinggal dalam rumah kardus bertahtakan seng, ketika beruntung mereka dapat makan walau sehari sekali, ketika mereka beruntung mereka dapat membeli apa yang mereka inginkan. Namun, jika mereka beruntung.
Bejolah, salah satu sang Anak recehan. Terlantar karena bukan keinginannya. Ia yang memang sudah miskin tinggal dirumah kardus yang dikelilingkan oleh sampah berbau busuk nan tak sedap itu. Mempunyai ayah yang kini memiliki istri baru yang berarti adalah ibu tiri bagi Bejo. Awal baik diperlihatkan sang Ibu tiri membuat sekeluarga yang serba kekurangan itu hidup bahagia, namun ketika sang ayah sudah dalam penghujung hidup, Ibu tiri berubah menjadi kejam, layaknya dalam dongeng terpampang. Sang Ibu tiri yang kejam dan sadis. Ibu tiri itu selalu memukuli Bejo kecil, hingga Bejo pun akhirnya pergi dari rumah, enggan ia pulang. Pulang adalah berarti luka. Pukulan akan manis bila kamu melakukan kesalahan yang tak boleh, dan pukulan adalah pahit bila kamu melakukan sesuatu  yang bukan kesalahan.
“jo, tak ada niat pulang lagi bagi kamu?” tanya sahabatku, Agus.
“tidak, pulang berarti pukul, pukul terus bisa mati aku”, jawabku sekenanya, sambil merogoh tempat sampah yang terpajang dihadapan Agus yang duduk. Berharap dapat menemukan harta karun.
“padahal kamu enak, tau dimana rumahmu, tau siapa orang tuamu. Sedangkan aku, yang kutahu hanya jablay saja disekitarku”, sahut Agus.
Anak recehan adalah berarti kamu yang disenangi, senang oleh keadaan. Semua anak punya ceria dan cerita dan kami pun juga begitu. Anak Recehan adalah kisah tiada batas, punya latar belakang rumit yang membuat hidup menjadi hidup dan hidup memang benar-benar hidup. Ini bukan jalan yang harus dipilih dan ini bukan pilihan tapi ini adalah tuntutan dari keadaan. Bukan keadaan kami salahkan tapi keadaanlah yang memang mewajibkan kami harus begini, dan kami bukan boleh terus begini. Kemajuan yang signifikan jugalah milik kami.
“yah, gus. Cobalah kamu pikir, mana senang semua orang dipukul. Bahkan sang Presiden saja rasanya tak boleh dipegang”, ujarku,
“yah, dia mah sudah tinggi. Bahkan tangannya saja kuyakin hanya boleh dipegang buat mereka yang bau mawar”, sahut Agus membuatku terkekeh.
“wah, kutemukan juga rupanya”, sahutku riang sambil mengangkat apa yang kutemukan, nasi bungkus.
“besek kau temukan jo?” tanya Agus sambil ikut berdecak riang,
“ya, macam itu. Mari kita lihat isinya”, ajakku lalu membuka. Dan benarlah ada sisa-sisa dikardus yang disebut Agus besek ini. Sisa-sisa nasi dan sedikit sayuran, cukup untuk ganjalan perut kami yang tengah hari ini belum makan apa-apa.
“ayolah…”, ujar Indra lalu bergegas mengajakku kepinggir dan kami berdua mulai makan.
“Lariiiiiiii, kamtiiibbb…”, teriak seseorang dari belakang kami, membuatku dan Agus menengok dan bergegas lari. Uber-uberan dengan kamtib sudah termasuk dalam jadwal keseharian kami, kami takut ditangkap lalu diinterogasi. Kebebasan kami pastilah dirampas.
Cukup lama kami berlari, sudah banyak jalan kami terobos. Begitu merasa kehadiran kami adalah aman, kami mulai berhenti dan mengatur nafas. Bersender pada tiang penyangga flyover.
“dikejar-kejar kamtib ya?” tanya seorang gadis kecil sambil tertawa, dia lebih kumal daripada kami yang baru saja mandi dikali,
“ya begitulah. Hidup dimanapun, semiskin ini, pasti kamtib jadi sahabat kami dan polisi jadi kawan kami”, sahut Agus lalu duduk disebelah gadis itu sementara aku tetap berdiri.
“aku Era, sang zaman”, seru gadis itu membuatku dan Agus terlonjak kaget, seruannya layaknya pujangga.
“pujangga jalanan kau?” tanya Agus kemudian, membuat Era tertawa,
“aku, aku gadis kecil ini, yang penuh dengan kata, yang berbadan dekil ini, yang menengadah pada orang yang turut menengadah, ya aku adalah pujangga jalanan. Hahaha”, pujangga adalah gila bagiku, walau mereka selalu menyampaikan aspirasi pada kiasan bahasa yang unik dan segar namun sederhana, kata-kata yang mereka pilih terkadang sangat nyeleneh.
“duduklah disini sahabat, walau kalian belum berisik tapi istirahatlah, agar ketika kalian kosong kalian dapat berisik penuh”, ucapnya, suara kami adalah berisik dan kosong adalah perut kami yang benar-benar lapar. Jadilah kami bertiga terududuk di atas alas kardus. Mendengarkannya berpujangga dengan dendangan tawa, orang disekitar kami hanya diam dan menonton, melihatnya seperti melihat hal yang wajar. Dengan piring yang cuman setengah ia taruh dihadapannya, ketika mereka datang dan berniat memberi ia sudah memberikannya wadah.
“kami adalah pengemis terhormat, mencuri demi perut, berisik demi hidup. Kami bukan tak punya mulut untuk bicara tapi kami adalah bagaimana hidup kami. Bukan maksud kami untuk berteriak dalam protes tapi maksud kami adalah uang yang kami peroleh dalam protes. Pantaslah kami diatas karna kami bukan si pandai bicara namun kami adalah si pandai berbuat …”, ia terus saja melantunkan ayat-ayat puisi itu dari mulutnya yang mungil. Anak 12 tahun yang duduk berjejer seperti ini terlihat cukup unik. Badan sesama kurus, kulit sesama hitam, rambut sesama kasar, dan umur sesama sama.
“hai, agus Bejo. Pergilah dari anak gadis edan itu dan ikutlah bersamaku”, teriak Andri sang Obama pada kami, ia tengah bertengger disepeda buntutnya.
“kemana akan kau bawa kami?” tanyaku balas berteriak, karena sang Obama tak kunjung mendekat malah berarak menjauh,
“ikut saja”, aku dan Agus pun segera bangun dan beranjak dari tempat itu, meniggalkan Era sang zaman pada puisinya.

“Sepotong Suara Untukmu”

Suara serak dariku
Suara sumbang punyaku,
Bermodal suara dan kakiku juga tanganku
Kupasang tubuh ini pada mentari yang bersinar terang,
Berhiaskan keringat dengan kulit mulai terbakar
Menikmati terik dari bumi dan menikmati racun dibumi
Kami bernyanyi,
Bersenandungkan suara bising
Menyelaraskan dengan cuaca
Kami mencari isi perut, kami mencari kesenangan
Siang sahabat kami
Malam kawan kami
Dengar kami bernyanyi dan tertawalah bersama kami
Karena duniaku adalah sudut-sudut kota yang gelap bertaburkan kelam.
           
            Era sang jaman terus saja melantunkan puisi-puisi, meski kami berlari semakin jauh darinya namun rasanya lantunannya masih terdengar bersaing dengan bising padatnya kendaraan.
            “akhirnya berhenti juga kau ndri..haah..haah”, sahut Agus yang kemudian duduk dan mulai mengatur nafas begitu pula aku.
            “ayo cepat cepat, nanti kita terlambat”, ujar Obama yang kemudian menaruh sepedanya merapat ditembok lalu masuk.
            Andri sang Obama, dikatakan demikian ketika Obama presiden Amerika menjadi sangat terkenal diIndonesia hanya karena dia numpang diIndonesia, bukan tanpa alasan kami memberinya julukan seperti itu, namun karena kemiripannya dan keramahan juga karena pengetahuan-pengetahuan yang ia miliki, “kami memang anak jalanan tapi bukan berarti kami buta pada dunia”, itulah ucapnya pada kami semua anak jalanan ketika berkumpul, ia selalu mencanangkan betapa berharganya pendidikan dan betapa indah dunia ini, dan bukan hanya seputar kota Jakarta yang penuh sesak dan desak.
Kami dibawanya kesebuah bangunan terlantar, bangunan tak terselesaikan memang cukup banyak diIndonesia umumnya dan Jakarta khususnya.
            “kenapa kita harus kesini? Tak adakah satpam nantinya?” tanyaku penuh was-was, gawat juga kalau kita harus berurusan dengan polisi karena melanggar garis halangan.
            “tidak, satpamnya sahabatku”, jawab Andri pendek, terus saja kami menanjak naik, semakin menanjak naik semakin kami mendengar seseruan dan tawa.
            “oh, Andri sang Obama, siapa kau bawa?” tanya seorang perempuan cantik pada kami, ia dikelilingi oleh segerombolan anak campur, kecil-remaja-dewasa,
            “sahabat yang kehilangan arah”, ujar Andri sembari tersenyum lalu berjalan mendekati wanita itu,
            “ayo kawan, dia adalah bu Melda, sang aktivis peduli kami”, ucap Andri kemudian lalu mengajak kami duduk bersama berlesahan bersama mereka semua.
Ditemani kapur bata merah dan papan tulis yang cukup usang, dengan beralaskan lantai dan angin yang cukup kencang.
            “hei, andri. Kenapa mesti disini?” bisik Agus pada Andri, namun yang dibisikkan hanya menoleh sedikit lalu mengangkat telunjuknya kebibirnya, isyarat diam.
            Pelajaran demi pelajaran, yang diajari pun bukan hanya terpaku pada baca dan tulis tapi juga pada ketatanegaraan dan pengetahuan tentang dunia luar, bukan main pintarnya perempuan ini. Ia banyak menceritakan pada kami tentang isi museum yang banyak terdapat di Jakarta yang tidak pernah dapat kami sentuh walau harganya murah meriah. Bukan karena kami tak ingin namun kami tak bisa. Kami adalah Negara tapi kami seperti tidak memiliki Negara.
            “disini karena aku dan kawan sekalian tak ingin diganggu oleh preman-preman yang kerjanya meminta pajak itu. Yah kau tau sendiri mereka lebih menginginkan uang rampasan daripada kerja sendiri. Semakin miskin dia semakin buta ia pada uang, namun karena tak punya ia bingung. Semakin kaya dia semakin buta ia pada kekuasaan, namun karena ia punya maka ia harus menjadi yang lebih berkuasa”, jelas Andri pada kami berdua seusai belajar dan beranjak pergi. Kami belajar hanya 2 jam, namun kurasa itu cukup lama bagi kami yang belum pernah sekalipun mencicipi bangku sekolah.
            “mau kemana lagi kalian?” tanya Andri pada kami,
            “mencari makan, belum habis makanan yang kami temukan tadi pagi kamtib sudah menguber kami kayak anak ayam”, jawab Agus, Andri pun hanya mengangguk lalu bergegas pergi. Tas lusuh dan buku kotor adalah bawaannya, Andri bekerja sebagai loper Koran juga.
           
            “apa impianmu bung?” tanya seseorang pada temannya, ia duduk tepat disamping kami, sambil merokok mereka bercakap-cakap dan kami hanya meminjam pembicaraan mereka untuk kami dengarkan,
            “entahlah, aku sendiri bingung rasanya. Ingin jadi apa aku, aku hanya melanjutkan apa yang kuingini sekarang tanpa mengerti apa yang didepan sana. Kuliah pun aku hanya mengikuti jalur yang kemungkinan banyak peluang kerjanya…”, jawab sang teman membuat yang bertanya menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan gaya. Tak taukah atau butakah mereka pada hukum yang melarang merokok ditempat umum? Tak beratikah bagi mereka yang punya sebuah peraturan dan perundang-undangan? Kalo begitu untuk apa diciptakan kalo tak ada tindakannya?
            “waaah…memang ya demi kerja dan uang kita bahkan rela mengorbankan keinginan atau cita-cita kita yang dulu. Menguburnya dalam-dalam”, sahut lelaki yang bertanya itu, mereka memperbincangkan tentang impian, impian yang sepenuhnya tak mereka sadari dan pergunakan untuk menyongsong masa depan.
            “dengar tadi kau apa kata dia?” tanya Agus padaku, membuatku hanya mengangguk dan menatap jalanan berkerikil ini, kami hendak menuju statsiun senen, untuk mencari tempat beristirahat.
            “jadi impianmu apa sahabat?” tanya Agus lebih lanjut membuatku mendangak dan menengadah langit,
            “apakah impian itu punyaku juga? Kita hidup sekarang dan menatap kejamnya dunia saja rasanya sudah sangat bagus…”, ucapku,
            “jangan begitu. Kita memang tak seberuntung orang yang bisa menggapai impian itu dengan mudah, tapi bukan berarti kita pun tak bisa..”,
            “maksudmu?” tanyaku,
            “kita harus punya impian. Impianlah yang akan menuntun kita pada kehidupan yang lebih baik”,
            “ayolah, jangan berfilosofi terlalu tinggi begitu…”
            “hehehe, kau ingat kata Obama kan?” tanya Agus padaku, membuatku berfikir sejenak,
            “hem, apakah yang semiskin-miskinnya manusia adalah mereka yang lebih miskin ketika mereka tak punya pengetahuan?” tanyaku, dan Agus hanya mengangguk sembari tersenyum,
            “lalu? Sebenarnya kau ingin bicara apa sih sahabatku?” tanyaku lebih lanjut,
            “pengetahuan adalah sebuah kekayaan, membawamu dalam harkat hidup abadi dan senantiasa mengangkat martabat hidupmu meski miskin…”,
            “jadi maksudmu fisik boleh miskin tapi batiniah dan lahiriah kita kaya begitu?” simpulku yang disertai anggukan dari Agus.
            Begitu banyak orang beruntung yang dapat bersekolah namun mereka dalam kutipan terpaksa karena punya uang, tak bisakah mereka sejenak melihat kami yang dibawah, yang sampai ngiler-ngiler ngeliat sekolah dengan baju apik dan bersendau gurau bersama teman sebaya?
           
“ Si Miskin “
Kami si miskin…
Makan saja sulit,
Ketika mentari menghadang
Kami temui gerombolan masa depan
Berleha-leha terhadap hidupnya
Dan disini kami si miskin
Bermimpi saja enggan
Bercita saja sulit
Iri melihat mereka …
Biarlah kami si miskin tetap berfisik miskin
Namun biarkan jugalah si miskin ini mengenyam pendidikan
Kami si miskin rela mati demi pendidikan…
Karena itulah tengoklah si miskin ini…

            “hush… pergi sana, mandilah sejenak lalu kembali lagi… jangan biarkan badanmu yang kotor menginjak rumah Allah ini…”, usir seorang penjaga musholla pada aku dan Agus, mereka tega sekali pada kami. Walau badan kami memang terlampau kumal dan bau namun inikah perlakuan yang pantas kami dapatkan manakala Agus ingin mengadu pada sang khalik,
            “sabar ya kawan, kita cari masjid yang lain”, ucapku menyabarkannya,
            “kau sendiri kenapa tak pernah gereja?” tanya Agus padaku, membuatku tertunduk,
            “kau tau, gereja disini besar-besar. Adapun kapel yang datang tetaplah yang berpakaian pantas. Aku apa? Hanya seorang pengamen jalanan yang mempunyai satu baju kumal yang diganti bila sudah banyak yang bolong…aku malu…”,
            “ya, begitu jugalah aku. Baru kubeli baju baru seribu ini seminggu lalu dari pasar senen, hasil dari mengamen kita. Dan kini aku tetap terusir karena bauku…”, gerutu Agus yang kemudian mengendus badannya membuatku tertawa.
            Kami si miskin minder karena miskin dan terusir karena miskin, bukan maksud kami untuk mengadu tapi tolonglah berikan kami si miskin kesempatan.

            Jadilah Agus shalat di bangunan tua beralaskan sajadah kumal dan aku yang walau tetap minder namun menggereja disamping kapel, mendengarkan segala sabdanya dari luar dan mencernanya.

            “aku ini hidup bukan untuk dikasihani tapi aku hidup untuk diberi hidup. Negara kami adalah Negara tanpa peduli kami. Sang tikus yang bersebaran dibiarkan duduk dalam tahta kemerdekaan, dan sang semut dibiarkan teronggok rapi dalam sempilan kardus…”, teriakan sang pujangga Era, membuat kami tetap bersembunyi sambil menahan tangis. Ia tertangkap oleh kamtib, habis-habisan ia melawan namun apa dayalah seorang anak kecil berbadan mungil itu. Dengan tubuh kurus bisa apalah dia. Dan kami hanya dapat berdoa dari jauh sambil memandangnya iba. Selamat tinggal Era sahabat dunia kelam. Entahlah apa yang akan dilakukan para bapak-bapak kamtib itu pada anak yatim piatu yang terusir karena tak punya keluarga itu.
            “Era tertangkap…”, ucap Agus pada Obama membuat Obama hanya tersenyum sambil menepuk pundak kami,
            “sabar ya kawan. Doakan saja yang terbaik untuk orang baik macam dia. Sekarang bersiap-siaplah. Jakarta sedang dalam keadaan pembersihan. Bersembunyilah ditempat aman dan jangan sampai terjerumus dalam transaksi jual beli anak…” ujar Obama lalu melenggang pergi dengan sepedanya. Sementara kami harus mencari tempat sembunyi, disela-sela kehidupan.

            “laparkah kalian?” tanya Reki pada kami, ia seorang cowok yang badan dan usianya lebih dari kami, menatap kami yang sedang kelaparan. Memang sudah dua hari kami tidak makan.
            “ya tak usah kau tanya lagi kan harusnya bang. Sudah dua hari perut kami bernyanyi kering…”, ujar Agus pada Reki membuatnya tertawa, aku kurang dan bahkan sangat tidak menyukainya. Ia seorang penjambret kecil yang ulung, berkali-kali tertangkap namun tak pernah jera.
            “ikutlah denganku. Kalo kalian mau makan, aku tau kok caranya. Dan mudah sekali…”, ujar Reki lalu berjalan dan Agus yang kelaparan mengikutinya,
            “agus tak baik kita ikut dia..”, larangku namun Agus tak kunjung mendengarnya membuatku dengan terpaksa mengikutinya.
            “hanya sekali-sekali saja, berhentilah bernyanyi dengan suara jelek kalian…hahaha…”, Reki gila pikirku…
            Ia mengajari kami menjambret ala professional dan ia mengajari kami sedikit bahasa isyarat,
            Sungguhlah kaya bahasa anak jalanan, mulai dari bahasa prokem sampai bahasa isyarat namun bahasa kesopanan bukanlah milik kami…
            “entar aku pura-pura menabraknya dan Agus juga Bejo berdiam disitu. Bejo mengawasi dan Agus menanti aku memberikan dompetnya padamu  lalu setelah diberi cepat pergi. kita bertemu di depan gor stasiun senen. Oke…”, dan anggukan menjadi pilihan kami. Tuntutan perut tak bisa lagi kami tolerir ingin mengamen namun suara kami sudah terlanjur habis terkikis oleh rasa haus.
            Ia mencompet dengan sangat professional meski ia masih kecil…karena pencopetan ini tak berlangsung lama dan sangat sebentar sekali.
            “ini uang untuk kalian… mudah dan gak lama kan? Kalo kalian tertarik hubungi aku dan kita akan datang kesekolah copet. Oke..”, ujar Reki lalu menghilang. Kini dalam tangan kami tergenggam uang sepuluh ribu, besar sekali harga uang ini membuat kami berdua bersuka cita dan bersuka ria. Penuh dengan nyanyian sambil tertawa kami berputar-putar sambil mengibarkan uang sepuluh ribuan itu. Itulah harga sepuluh ribi itu bagi kami, sebuah rejeki dan harta karun walau kami menyadari harga uang itu adalah haram.
            “kenyanglah kita sekarang dan senanglah kita, esok bisa mengamenlah kita dan terus bersenandung…”, ujarku penuh dengan senyum,
            “ya ya ya…bagaimana kalo kita berenang di situ…”, Agus menunjuk kolam renang yang berada dalam kawasan stasiun senen, disana kolam renang milik pemerintah dan harganya sangat murah. Cukup dengan 2000 rupiah kami dapat membasuh tubuh kami…
            Dan jadilah kami disini, bersenang-senang dengan air…dengan baju yang melekat dibadan kami…melepas baju dan membiarkan celana bergantung pada tubuh kami…ketika usai kami berjemur dahulu menunggu sang celana yang bergantung pada tubuh kami kering lalu barulah kami memakai baju dan melanjutkan perjalanan mengamen kami…

            Dalam pengharapan kosong kami bersenandung, menyenandungkan keceriaan. Maaf bila terkadang kami menipu tapi bukanlah maksud kami. Maaf bila terkadang kami khilaf tapi bukanlah maksud kami. Kami hanya kehilangan arah dan pegangan, ketika semua terdesak apalah daya kami? Sungguh bukan keinginan kami untuk bermain api dalam neraka tapi apalah kesanggupan kami. Bekerja halal pun matilah kami bekerja haram dosalah kami. Maaf bila kami sang hina selalu terinjak dan diinjak, tapi berilah kami kesempatan untuk mencicip kemakmuran, bukan maksud kami untuk tidak usaha. Tapi apalah daya kami dengan segala kesanggupan kami…

            “huhuhu… jangan tangkap saya pakkk…”, teriakan dan erangan itu menghiasi siang terik itu, dengan asap kendaraan melebihi daya tampung paru-paru kota mereka menangis dan tarik ulur dengan petugas kamtib,
            “Agus ayo cepat lariii !!!!” teriakku pada Agus yang hanya terdiam terpaku ketika jablay pengasuhnya dinaikan kemobil oleh kamtib,
            “ayoo…”, teriakku sambil menarik tangannya,
            “tadi pengasuhku, jablaylah dia, tapi dia lebih suci daripada ibuku yang membuangku…”, ujar Agus sambil menangis, membuatku iba padanya,
            “cepat larii…”, seruku walau kini kutau air mataku turut menetes…
            “haiii kalian berhenti !!” teriakan dari pak kamtib membuat kami terlonjak kaget dan membuat kaki kami semakin mengebut, beriringan dengan kendaraan kendaraan yang berlalu lalang, kami dikejar-kejar…
            “ayooo menyebrang!!” seruku yang menyebrang terlebih dahulu,
            “aaaa……ckiiit braaaakkk……”, suara hantaman keras itu membuatku segera menengok dan melihat ia sahabatku, Agus…ia saudaraku ia yang kukagumi karena semangatnya, meninggal dalam decitan mobil, ia tertabrak tronton dan terlindas begitu saja, membuatku membatu dan tak mengerti harus berbuat apa,
            “Aguuussss…”, seruku padanya, orang-orang telah mengerumininya, namun apalah dayaku sahabat. Pasti engkau pun tak mau aku tertangkap, maka aku hanya dapat memandangimu dari jauh.

Agus…
sahabatku sejatiku,
dalam kesenangan si miskin
dalam derita si miskin
engkau hadir di dalamnya,
dengan setia tanpa merengek…
dengan syukur tanpa menggerutu.
Kau terima hidupmu
engkau bersyukur pada sang khalik…
Agus saudaraku,
karenamulah aku menjadi sekarang
penuh dengan cinta dan cita
penuh dengan baiknya sifatmu
penuh dengan pengharapan…
engkaulah Agus sang sahabat dalam derita dan suka…

Meniti langkah demi langkah, berat rasanya bila tak ada engkau disampingku. Namun kebersamaan yang lalu adalah semangat kini. Agus engkau sahabatku terbaik.
Aku melanjutkan hidupku tanpanya, menjadi lebih baik dan penuh sukacita.
Walau tetap menjadi anak recehan hidup dari dendangan nyanyian dan bertahan dengan tawa aku tetap mensyukurinya.
Segalanya akan menjadi baik ketika kita mau mencari apapun kebaikan itu dan tidak diam dan menunggu kebaikan menghampiri kita.
Inilah kisah sang anak recehan walau bertebaran tangismu inilah hidup kami dijadikan alas oleh sang pemimpin…
Inilah kisah sang anak recehan walau kami tak dapat cinta tapi kami punya cinta
Inilah kisah sang anak recehan maka tengoklah kami dan tersenyumlah untuk kami, maka semangat kami akan bertambah…
Terima kasih untuk kalian yang mau sedikit menunduk untuk kami anak recehan, anak bangsa masa depan Negara…








“ Cinta untuk Anak Recehan “

Siapakah kami?
Hanya manusia yang kebetulan kurang beruntung
Siapakah kami?
Hanya manusia yang berjejer dipinggiran
Menahan terik mentari
Menahan dinginnya rembulan
Siapakah kami?
Kami adalah sang pecinta recehan,
Hidup hanya berpegang pada keyakinan
Hidup hanya berpegang pada segenggam uang logam
Kami yang terasingkan
Kami yang terusir dan
Kami yang terhina
Diinjak dan selalu terinjak
Namun kami adalah bagian darinya
Kami sebuah Negara
Kami diakui namun kami tetap menjadi yang terpinggirkan
Tak ada cinta bagi kami
Namun kami punya cinta
Cinta kami padamu
Cinta kami pada negeri ini
Negeri inilah tempat kami berteduh
Dalam dendangan genderang
Dalam suara tawa
Dalam nyanyian sumbang
Berikanlah kami cinta sekedarnya
Hanya untuk bertahan hidup dalam dunia yang fana
Menuju surga keabadiaan…

“Keajaiban Natal dibulan Ramadhan”

            Namaku Christmas ayu Septiarini, yang berarti Natal Cantik dibulan September, aku lahir dibulan ini. Orang tuaku berkata aku adalah keajaiban natal untuk mereka. Namun ini bagi mereka, tidak bagiku.

Sejumput harapan adalah keindahan ketika harapan itu menjadi sebuah kenyataan. Dan sebuah keajaiban  menjadi pesona ketika kita tau untuk apa keajaiban itu.

            Aku adalah natal yang tidak percaya pada keajaiban. Sebesar apapun keajaiban itu pada dasarnya adalah rancangan dari yang kuasa bukan karena permohonan kita.

“Ketika tak lagi jadi wajar”




            Cintaku bukan seonggok barang rongsokan, cintaku bukan hal buruk dan terlarang, cintaku bukan karena paksaan, cintaku bukan karena aku tidak normal, tapi cintaku adalah yang terbaik yang kupunya, itulah nyatanya sekarang.
            “kau lesbi…”, celetuk lelaki itu pada gadis yang dituju, membuat sang gadis menoleh dan tersenyum lalu menjawab,
            “urusanmu dimana?kau menyukaiku…”, tegasnya omongan gadis itu membuat lelaki itu terdiam sejenak, lalu cemberut.
            “bilang aja kali, gak usah ragu gak usah malu. Gue juga suka loe kok…”, ujar gadis itu membuat wajah lelaki itu memerah, perubahan itu disertai tawa dari gadis itu membuat lelaki itu menunduk dan kembali cemberut.
            “jadi gimana…”, ucapku membuat Hendra hanya tersenyum,
            “tuh kan bener, kalo suka kenapa sih suka ngatain aku terus?” tanyaku pada Hendra.
            “untuk cari perhatian kamu dong bebz, hari ini kita jadian ya…”, sepenggal kalimat dan kami jadian.
            Itu adalah kejadian beberapa tahun silam dan sampai sekarang hubungan kami masih direstui oleh yang diatas. Aku dan Hendra, sepasang kekasih yang menjadi idaman dan irian dari orang lain. Sungguh mesra walau kini kami hampir memasuki masa tiga tahun, bukan waktu yang pendek dan perjalanannya menjadi kenangan tersendiri.
            “ayank…kita makan diluar ya malam ini, sekalian aku mau ngenalin kamu kesahabat aku”, ujar Hendra siang itu melalui telfon seluler,
            “okeh, dimana?” tanyaku yang langsung menyambutnya dengan gembira,
            “hem, ntar aja aku kasih tau. Sekalian aku jemput kamu dikantor kamu”, jawab Hendra.
            “okeh ciinta”, sahutku
            “dah sayang, love you”,
            “love you too”, dan pembicaraan terputus. Jarang sekali Hendra bilang mau mengenalkan sahabatnya, karena memang dari awal ia sudah mengenalkan semua sahabatnya padaku. Rupanya ada yang terlewat ya.
            Siang itu di Kafe senotaria…
            “mana temen kamu?” tanyaku gak sabaran,
            “yang sabar atuh sayang, ya udah kamu mending makan duluan, daripada ntar maag kamu kumat”,
            “gak ahk, gak enak. Masa ntar kalian baru makan aku udah kenyang”, sahutku
            “ya gak, ntar kita makan kamu cemal cemil aja ya..”, perkataan Hendra membuatku manut lalu segera menghabiskan makanan yang telah tersuguh dihadapanku. Sampai makananku habis, yang ditunggu tak kunjung muncul.
            “wah, sebentar lagi udah habis jam istirahat kita. Ya udahlah yuk, mungkin orangnya gak jadi dateng dan berhalangan buat ngasih tau kita”, ucap Hendra
            “temen kamu payah, bikin janji gampang ngebatalin”, celetukku membuat Hendra tertawa,
            “ya namanya juga orang, gak sepenuhnya bisa dipegang kan…”, sabarnya pacarku, inilah yang kusuka dan kusayang dia. Selalu berfikiran positif, walau kuakui kadang ia menjadi sangat pemarah.
            3kali membatalkan janji, wah ini sih udah gak beres. Kalo sekali kumaklumi, dua kali membuatku bertanya-tanya, nah kalo tiga kali kenapa sih dengan sahabatnya.
            “aku udah gak mau ada yang kelima”, gerutuku membuat Hendra hanya tersenyum dan mengiyakan, sesampainya di kafe itu, betul saja ia belum datang. Kenapa sih kalo dateng duluan kayaknya anti banget. Begitu kami duduk dan aku mulai makan, karena takut dia tidak akan datang lagi, tapi ketika aku akan menghabiskan makananku datang sesosok cowok jangkung,
            “Mr. Hendra…”, ucapnya membuatku terhenti makan dan menatap lelaki itu lebih seksama,
            “hahaha, Jason. Dasar kau ini”, sahut Hendra, oh jadi lelaki nan jangkung ini yang kita nanti nanti.
            “oh ya, kenalkan ini Risa, belahan jiwaku…”, kenal Hendra padaku membuatku berdiri dan mencanangkan tangan sebagai tanda perkenalan, dan rupanya itu disambut cukup hangat.
            “wah rupanya kami membuat kalian telalu lama menunggu ya, sampai makanannya hampir habis”, ungkap Jason pada piringku yang hampir ludes, membuatku malu abis dan hanya tersipu malu.
            “kami? Kau datang bersama seseorang sobat?” tanya Hendra pada sahabatnya,
            “ya begitulah…”, jawab Jason,
            “hem, aku permisi dulu ya kekamar mandi…”, ucapku menyela pembicaraan asik mereka dan setelah diizinkan aku segera bergegas kekamar mandi.
            Huuft, sahabatnya kali ini agak aneh. Tapi aneh dimananya ya…batinku, lalu masuk kamar mandi,
            “Hilda…”, bisikku, membuat sang empunya nama menolehku lalu sama tertegunnya,
            “risa…”, untuk apa wanita ini ada disini, menyebalkan.
            “ngapain loe disini?” tanya Hilda  padaku,
            “harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu”, sahutku ketus lalu beranjak keluar, namun belum sempat kusentuh gagang pintu itu, Hilda menarikku,
            “kau takkan bisa kabur dari takdir kita berdua”, ucapnya, genggaman tangannya membuatku kesakitan, ia sungguh-sungguh mengucapkan itu.
            “lepasin, masa bodo kamu ngomong apa…”, ujarku lalu menarik lenganku dan pergi keluar. Perih…perih eratan dan kukunya, berdenyut sakit di tanganku.
            “tanganmu kenapa sayang?” tanya Hendra padaku, karena melihat lenganku memerah,
            “ini, tadi ada orang salah narik lengan, mana nariknya pake tenaga lagi”, alasan itu begitu saja meluncur dari mulutku membuatku sendiri menjadi kaget,
            “wah kayaknya kukunya panjang  juga tuh”, timpal Jason, membuat Hendra meneliti lebih dalam lalu mengangguk-angguk.
            “maaf sayang, membuatmu dan sahabatmu menunggu…”, hilda, aku mendongak dan memastikan itu suaranya dan benarlah itu suaranya, ia cipika cipiki dengan Jason lalu bersalaman dengan Hendra, mengenalkan dirinya, juga kepadaku. Ya memang harusnya begini. Kita sama sama berpura-pura tak saling mengenal.
            “jika kau bawa pacarmu, aku pun bawa tunanganku”, ujar Jason membuatku tertegun, Hilda tunangannya?
            “wah, keren banget…besok kita nyusulnya gak usah tunangan ya yank, kita langsung nikah aja”, sahut Hendra membuatku tersenyum.
Untunglah acara ini gak bertahan lama karna aku dan Hendra harus balik kekantor, meninggalkan mereka berdua disana.
            “ayankku Rika, kamu kenapa sih?” tanya Hendra padaku, karena tak biasanya aku melamun,
            “gak papa kok…”, ucapku,
            “masih kerasa sakit ya lengannya?” tanya Hendra lagi,
            “iya nii, malah makin merah…”, aduku membuat Hendra tertawa,
            “ooh masih sakit ya cayang, uthu uthu…”, ucapan Hendra membuatku tertawa.

Aku masih belum bisa menghilangkan fikiranku terhadap Hilda, untuk apa dia disini, kenapa dia muncul lagi, kenapa dia dalam keadaan tunangan, sudah sembuhkah dia. Begitu banyak pertanyaan membuat otakku hampir meledak. Aku harus segera menemuinya. Segera…
Harapan itu pun tersambut. Hendra dan Jason, kedua sahabat lama. Selalu berkumpul bersama disetiap kesempatan yang ada, dan ini membuatku harus terus bertemu dengan Hilda.

“qta hrus bertemu. Ini penting”, itulah sepenggal sms dariku untuk Hilda,
“sure beib, we must meet. I’m so miss u”, dan itu balasannya, bisakah dia sedikit normal denganku?
“dikafe biasa, jam 8 pagi”, janjiku, namun rupanya itu tak tersambut olehnya,
“no, I want we meet in nikko hotel. My stayhome. 7pm”, dan sial aku harus menurutinya sebelum masalah yang lalu terulang kembali dan menjalar dihari esok, itu akan menyebalkan.

Nikko hotel, 7pm.
“I’m here…”, ucapku membuat Hilda tersenyum,
“aku amat merindukanmu sayang”, ujar Hilda lalu mencoba memeluk tubuhku, dengan sigap aku langsung menghindar, ini salah.
“kita gak tercipta untuk bersama, dan memang tercipta untuk tidak bersama. Jadi, jauhi aku dan Hendra. Walau aku tau kamu adalah tunangan Jason”, sahutku, bermuka masam,
“ayolah, aku kembali hanya untukmu. Jangan biarkan kembalinya aku ini dan penantianmu akan diriku menjadi sia-sia. Aku sungguh cinta mati padamu Rika…”, ini membuatku mual dan muak.
“kita sudah punya kehidupan masing-masing, kamu punya Jason dan aku punya Hendra yang ini amat kusayang. Jadi, jangan pernah menggangguku lagi”,
“apa kamu takut akan keberadaanmu sendiri? Jason itu hanya tunangan dan lagipula dia itu gay. Kalaupun kamu menikah dengan Hendra, kita berhubungan pun tak apa”, Hilda gila,
“aku Lesbi itu dulu, sekarang aku sudah normal. Kau tau NORMAL!!”  suaraku naik beberapa oktaf membuat Hilda tersenyum lalu berusaha memeluk tubuhku. Kekuatannya tak pernah berubah dari dulu, seperti lelaki, penyayang dan pelindung. Sesuatu yang dulu tak bisa kudapatkan dari siapapun. Namun itu dulu kini aku sudah berubah, walau percuma berontak tapi aku tak boleh mengadakan kontak fisik dengannya.
“lepaskan aku…”, ucapku memberontak, membuat dia malah mengikatku.
“itu kisah kita dulu, sekarang aku mau bersama mas Hendra”, secarik kalimat dan aku mulai menitikkan air mata, kami berdua pun jatuh terduduk, Hilda memelukku dengan mesra dan mengelus kepalaku,
“sayang, jangan pernah ingkari rasamu. Aku amat mencintaimu, takkan ada apapun yang bisa menghalangi kita”, Hilda membisikkan kalimat itu ditelingaku dan mengeratkan pelukannya.
Oh, Tuhan apa yang kulakukan apa yang kuperbuat…aku tak ingin menjadi seperti dulu. Pecinta wanita, Tuhan sadarkan aku, aku ini wanita kodratku adalah bersama seorang pria yang memang tercipta untukku.
“lepaskan aku…”, aku berontak dan kali ini berhasil, aku mendorongnya menjauh dari tubuhku.
“ingat ini, dulu kita memang bersama, tapi itu salah, salah semua. Kau tau kodrat kita adalah bersama pria. Dan kamu bukan pria bahkan walau kamu mengubah jenis kelaminmu. Kau tidaklah lebih dari seorang wanita”, ucapku membuatnya hanya diam dalam keheningan
“kodrat? Tau apa kau tentang kodrat, justru karena para lelaki bajingan itulah hidup kita tak ada artinya, ayahmu lelaki juga bukan tapi dia tak urungnya seperti macan liar, bukan saja menerkam bahkan mencabik-cabik gadismu. Siapa yang menyelamatkanmu? Lelaki? Bukan tapi aku seorang wanita yang sepenuh hati mencintaimu”, sekali berkata dan membuatku terhempas, namun aku takkan jatuh kejurang yang sama, akan sia-sia pengharapan dan perjuanganku.
“jangan pernah ganggu aku lagi…”, sahutku lalu beranjak pergi,
“pergilah, dan kupastikan kau akan kembali untukku”, itulah sebaris kalimat darinya sebelum akhirnya aku merasakan apa yang dia maksud.
Semua masa laluku harus kubongkar dihadapan mas Hendra, walau ia tak akan menyukai ini, tapi inilah yang harus kulakukan. Jujur adalah baiknya hidup…
“mas Hendra, kutunggu kamu malam ini di kafe biasa”, smsku pada Hendra. Dan ketika sore beranjak terganti malam, bukan hanya saja mentalku yang harus kusiapkan, tapi semuanya harus kumatangkan. Aku harus menerima apapun itu resikonya.

“sepucuk cinta untuk satu hati…
Aku adalah manusia yang tak sempurna
Dan cintaku adalah sepotong hati yang tak sempurna juga
Namun sayang
Aku dan cintaku bisalah sempurna
ketika kamu bidadari hatiku melengkapinya”

Hendra meminangku…hatiku teriris sakit, sayang aku ingin menyampaikan kenyataan padamu. Kenapa kamu begini, disaat yang sungguh sangat tidak tepat. Membuat hatiku menangis dan mataku menggulirkan air. Aku harus apa, bersedih atau gembira? Aku bingung. Apakah ketika ini semua baik adanya dan aku menyampaikan kebenaran. Akankah dia yang kusayang dapat memakluminya?
“jawablah sayang.. ketika kamu memakai itu dijari manis kamu, tandanya kamu mengijinkan pertunangan ini namun kalo kamu memberikannya padaku, kita masih butuh waktu”, ungkap Hendra dengan sangat halus. Mana mungkin aku menolak pinangan ini, pinangan yang kutunggu-tunggu setelah sekian lama. Tapi apa yag harus kulakukan menerimanyakah? Aku sungguh bingung. Hatiku tak mampu untuk menolaknya namun fikiranku masih belum saja menerimanya. Apa yang akan kukatakan tentang masa laluku ketika nanti keadaan memaksaku?
“ini mas, aku belum bisa nerima pinangan kamu..”, ini keputusanku dan sudah kuduga wajah Hendra sungguh kaget,
“kukira ini yang kamu tunggu-tunggu dariku?”, sahut Hendra,
“terlalu buang-buang waktu..”, ujarku sambil tersenyum
“maksudnya?”
“kita akan langsung menikah”, ucapku membuat Hendra tersenyum riang, senang bukan kepalang.
Maaf entahlah mungkinkah kita akan menikah, tapi setidaknya ini mengulur waktu sampai aku bisa berkata sebenarnya padamu mas…

“iya, emangnya mantan temen lesbimu gak ngasih tau itu apa?” ujar Jason pada Hilda dikala itu, membuat Hilda tertegun dan menarik satu alisnya,
“udah mulai macem-macem dia…”, sahut Hilda ngebuat Jason tersenyum
“berhentilah mengganggunya dan jalani saja hidupmu. Dia kan balik kejalan yang baik kok”,
“hei, gay.. tau bagaimana rasanya kehilangan teman priamu itu?” ancam Hilda membuat Jason bergidik dan diam.
“akan kubuat Rika kembali padaku. Apapun itu bentuknya”,

Apa yang Hilda katakan dan janjikan adalah harga mati yang harus ditepati. Kesalahan adalah mati, itu pedomannya dari dulu. Itu jugalah yang menyebabkan keadaanku sungguh sangat tidak menguntungkan. Apalagi ketika pertemuan rutin Jason-Hendra  yang sebenarnya sangat menyiksaku itu harus terulang lagi, kuyakin ini ulah Hilda.
“oh, hahaha. Itu sangat lucu, apalagi kalau ternyata Rika menjadi lesbi, apa sih yang akan kamu lakukan Hendra?” tanya Hilda, entah ada setan apa lewat, membuatnya bertanya gila seperti itu,
“Rika lesbi?” ulang Hendra
“ia..”, Hilda memastikan,
“jangan sampe dong, hehe..”, ujar Hendra menatapku lalu memeluk bahuku, merubah drastic wajah Hilda dari senyum menjadi membatu, ia dipenuhi emosi kini.
“kalo ia, bagaimana?” pertanyaan penasaran itu merubah suasana agak panas,
“ama siapa dulu lesbiannya…”, canda Hendra berharap bisa merubah suasana,
“ama aku”, tegas Hilda, membuat Hendra hanya terdiam,
“jawab..”,
“ya, mungkin akan kutinggalkan dia. Kan aku gak mau cuman jadi kedok kewajaran aja”, sepatah kalimat dan membuatku terjatuh, aku menunduk dan hampir menangis. Apa yang akan kujelaskan padanya nanti.
“maaf, aku ke kamar mandi dulu..”, ucapku mendadak, membuat Hendra hanya terdiam dan mengangguk. Aku tak kuat lagi menahan rahasia ini.
“dia lesbi..”, celetuk Hilda lagi
“apaan si da, cukup deh ngomongnya”, protes Hendra, merasa suasana ini menjadi makin aneh.
“dan kamu sampai sekarang belum tau kenyataannya. Sungguh bodoh. Dia itu lesbi dan aku adalah teman lesbinya”, ini tindakan bunuh diri, Hilda tau itu, tapi dia tak kan pernah mau ambil resiko lebih jauh. Melepas Rika sang cinta mati kepada Hendra.
“Jason cewek kamu kenapa sih?” sahut Hendra, mencari pertolongan.
“dia Jason, seorang homo. Dan aku Hilda seorang lesbi. Tak pernahkah dulu kau heran kenapa Rika selalu dikatai lesbi, tak pernahkah kau heran Rika secantik itu namun tak pernah punya pacar selain kau pacar lelaki pertamanya, tak pernahkah kau heran bila dimana pun ia berada rasanya tak ada kecanggungan terhadap lelaki tapi ada bila berhadapan dengan wanita? Tak herankah kamu lirikan ia pada wanita jelas-jelas berbeda?” Hilda berkata seperti itu sambil tersenyum, ia telah gila, gila karena cinta. Dan Hendra hanya terpaku mendengar lontaran-lontaran itu.
“maaf agak lama..”, ucapku sekembalinya dari kamar mandi, menghapus air mata karena sakit dari hati itu rupanya gak mudah. Tapi semua diam? Ada apa ini.
“sayang, sudahlah katakan semuanya. Kamu itu lesbi dan hanya mencintaiku seorang”, ujar Hilda membuatku terperangah, dia gila.
“jujur, kamu lesbikan sayang..”, Hilda tersenyum, membuatku hanya bisa diam,
“Hilda..”, geramku
“jujur, apa bener yang diomongin Hilda itu?” bisik Hendra dengan amarah tertahan, melihatku terdiam saja, tanpa mengelak sedikitpun.
“jujur..”,
“ya aku memang lesbi..”, sepenggal kata dan membuat Hendra diam, ia hampir sulit mencerna semua kata-kata itu.
“damn…ini gila”, Hendra langsung bermuka garang, menyesal dan beribu-ribu rasa lainnya,
“tapi.. itu dulu, aku punya cerita lain..”, sergapku berharap kali ini dia mendengarkanku,
“bahkan aku tak pernah tau cewek yang begitu kusayang bermain api, dengan seorang cewek lagi. Kau seperti mencabik-cabik harga diriku”, tegas Hendra lalu segera beranjak pergi,
“kau memutuskan persahabatanku kali ini da..”, ujar Jason lalu meyalakan rokok,
“kau gila Hilda…”, teriakku lalu mengejar Hendra, meninggalkan kedua manusia abnormal itu.
“Hendra..Hendra dengerin aku dulu…”, ujarku, namun tak sedikitpun Hendra menghentikan langkah panjangnya, bahkan ia mempercepatnya.
“Hendra kumohon, aku punya penjelasan untuk semua ini”, dan Hendra tak kunjung menghentikan langkahnya, dia sudah terkuasai oleh emosi, bahkan akalnya telah terselimuti murka.
“aw..”, aku terjatuh, hak sepatuku patah, mendengar rintihan itu membuat Hendra berhenti dan berbalik, namun tak menghampiriku,
“gila, pantas saja kau menolak pinanganku. Kau selingkuh dengan cewek, kau lesbii!” teriak Hendra, membuatku menangis sejadinya, setelah meneriakkan itu ia bergegas masuk kemobil, lalu menstarter mobilnya dan beranjak pergi, dengan sisa tenaga dan kekuatanku. Tak kan semudah itu aku menyerahkan cintaku pada nasib, ia harus kudapatkan lagi. Karena sungguhlah dia yang amat kusayang.
“hendra, aku cinta kamu..”, teriakku sambil berlalu, berlari dengan kaki melawan mobil bermesin dengan empat kaki, rasanya kayak tindakan bodoh, apalagi setelah keluar dari basement dan hujan deras mengguyur wilayah ini, rasanya langit turut merasakan apa yang kurasakan. Aku terus mengejar mobil Hendra, walau kini kakiku lecet-lecet, dan seluruh badanku basah semua. Pasti dia kembali kerumahnya, itulah yang kupikirkan,
“aku mencintaimu Hendra..”, kata itulah yang terus kuucapkan, bahkan ketika kepala ini lelah dan akhirnya badan ini tak kuat untuk melangkah dan melawan hujan. Hendra aku sungguh mencintaimu…

Harum  aroma melati teh dan pewangi yang sangat kukenal membangunkanku dari tidurku. Ini seperti bau Hendra.
“Hendra…sayangku”, igoku membuat Hendra hanya melirikku,
“bangunlah dan minum teh itu”, ujar Hendra membuatku melebarkan mata dan bangun, bajuku sudah terganti dengan yang baru, kemeja Hendra.
“kenapa kau menolongku?” pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari bibirku,
“ya biar gimana pun, setelah pengkhianatan dan kebohongan apapun itu bentuknya, aku kan pernah mencintaimu lebih dari kata setengah mati..”, ungkap Hendra sambil mengaduk tehnya, teh ini sepertinya baru dibuat karena masih mengepul,
“minumlah, keburu dingin..”, basa basi Hendra, mencoba dingin namun tak mampu,
“masa laluku adalah derita, tak menyenangkan namun sebuah kepingan memori”, ucapku, membuat Hendra yang asik mengaduk berhenti, namun tetap memandang tehnya sendiri.
“ayahku adalah pemabuk berat, ibuku adalah penjudi kelas kakap, dan kakakku adalah pekerja yang handal. Menghabiskan harta demi kesenangan duniawi. Sungguh ini bukanlah hal yang bagus untuk diceritakan apalagi dikenang. Bahkan sebatang tebu bisa menjadi gula yang pahit”, ucapku,
“namun ibuku adalah seorang ibu yang hebat, disaat seharusnya dia adalah setan, namun dia menyayangiku dan kakak perempuan dengan kasih seorang ibu. Dan ayahku tetaplah menjadi bajingan disaat ia harus tetap seperti itu. Memukuli kami semua”, air mataku mulai jatuh, namun cerita ini tak boleh berhenti sampai disini.
“bahkan ia menyukaiku, anaknya sendiri, dan kakakku menyukai ayahku. Disaat hidup ini haruslah wajar hidupku menjadi penuh dengan ketidakwajaran. Semua complex dan menjadi diluar akal sehat”,
“kakakku yang menyukai ayah rela bekerja diluar kendali bahkan menjual diri demi minuman keras yang ayah tenggak setiap harinya, sampai dia mati karena penyakit kelamin. Kakakku menyukai ayahku karena ayahku terlihat sangat jantan dihadapannya, entahlah apa sebetulnya yang ada diotaknya, sungguh sebenarnya sulit kumengerti”, semakin aku menitikkan air mata, membuat Hendra pindah kesampingku dan membantuku menyeka air mata ini,
“penderitaan kakakku dibarengi oleh ibu, ayah yang tak lagi mendapatkan sumber uang, dia yang buta oleh miras, dan ibu yang tak pernah menang judi, membuatnya menjual ibuku, istrinya sendiri dan menjadi lebih pemarah, ibu meninggal karena ia sakit, banyak pikiran. Meninggalnya ibu diiringi oleh meninggalnya kakak, membuatku shock. Disaat shock itulah seorang Hilda datang padaku dan menghiburku. Dikala aku duka dia datang, rasanya dia adalah dewi penyelamatku”, aku menegak teh itu perlahan, menyegarkan sang kerongkongan untuk kembali bercerita,
“tapi aku tak tau, kalau sebenarnya ada maksud akan semua itu, aku tak tau kalau dia lesbi, karena keluarganya yang berantakan. Ia menananmkan pada diriku lelaki adalah haram. Dan itu diperkuat ketika ayah berusaha memperkosaku…”, aku terhenti kembali karena air mata ini sulit untuk kutahan, Hendra memeluk bahuku, ia mengerti tak mudah mengatakan apa yang menjadi aib.
“namun itu tak terjadi karna Hilda datang dan menolongku. Dan aku hidup bersamanya, disaat itulah entah mengapa aku menjalin hubungan dengannya. Selama 3 tahun, namun sepertinya Tuhan masih sayang padaku, ketika ibuku datang melalui mimpi lalu memeluk tubuhku dan berkata, cintailah apa yang seharusnya kamu cintai, dan aku tersadar, aku ini salah. Aku melawan kodratku”, Hendra mengelus kepalaku dan membiarkan aku bersender didadanya yang bidang,
“secara halus aku berkata padanya, memang sulit, melupakannya pun sulit, 3 tahun bukan waktu yang singkat, namun ketika aku tak melakukan tindakan nyata. Orang-orang yang kusayang dan telah meninggal datang kemimpiku. Akhirnya aku kabur, bekerja sambil sekolah kulakukan dengan keras. Dan semenjak aku bisa berdiri sendiri itulah Hilda tak pernah menampakkan dirinya lagi, bahkan ketika aku bekerja sampai aku memilikimu. Ya walau kini dia hadir bersama kita, namun aku tak lagi mencintainya. Karena aku tau, aku adalah wanita diciptakan bersama seorang pria”, dan aku berhenti lalu menghela nafas.
“ayahmu bagaimana?” tanya Hendra kemudian, membuatku menggeleng,
“entahlah, aku tak pernah menjenguknya dan memang tak pernah berencana menjenguknya”,
“hidupmu begitu sulit, maaf ya aku sungguh egois. Tentu masa lalumu tidak dapat kuterima begitu saja saat ini. Namun kesungguhan hatimu adalah nyata bahwa kamu bisa menjadi yang terbaik untukku”, ujar Hendra membuatku tersenyum, dan tanpa tersadar tertidur dipelukannya.

Pagi yang begitu indah dan menawan, hari ini sungguh dapat kulewati karena rasanya sangat ringan,
“ke KUA yuk..”, ucap Hendra padaku dipagi itu, membuatku tersenyum,
“buru-buru amat?” sahutku sambil mendekati Hendra dan duduk dipangkuannya,
“biarin, kita ke KUA dulu abis itu baru umumin acara pernikahan dan pestanya gituu, ngertiii kan?”
“ih dikata gak butuh biaya kali”,
“hemm, semua udah siap kok. Dan direncanakan, waktu aku pinang kamu itu, aku udah nyiapin semuanya. Hari ini juga jadwal kita buat pergi ke KUA. Ayo aku udah pilih walinya juga”, wah sayangku ini memang penuh dengan kejutan yang menyenangkan.
Jadilah kami menikah hari itu secara resmi dan diakui oleh Negara. Entahlah apa yang dipikirkan Hendra namun sungguh ini amat menyenangkanku, semoga ini terus dapat berlanjut sampai akhir hayatku.
“jadi kapan kita merayakan pestanya? Semua kerabatku hanya tau aku sudah dipinah olehmu lho”, ujarku gembira membuat Hendra tersenyum.
“tenang aja sayang, semua udah aku siapin. Udah dari undangan, souvenir, catering. Dan yang paling utama tempat pestanya nanti dan kemana kita honeymoon”, ucap Hendra genit padaku. Lelaki idaman semua wanita, penuh dengan kejutan dan kejutan, terlebih kejutannya adalah yang sangat menyenangkan. I L U Hendra.
Malam demi malam, namun kok belum ada tanda-tanda pestanya dimulai ya? Aduh jadi penasaran nii.
“yank, pakai nii. Aku ngeri banget kamu udah makin gendut. Hehehe”, ujar Hendra malam itu, ia membawa gaun pengantin yang sangat cantik.
“wah jadi gak mau ambil resiko gak muat en mubazir nih?” tanyaku sambil tertawa,
“iya dong, kamu emang terlihat cantik pakai apapun. Tapi aku gak mau kamu gak nyaman, bila nantinya kegedean atau kekecilan”,
“kayaknya sebentar lagi niih pestanya”, sahutku sambil tersenyum, dan bergegas mengambil baju pengantin yang dipegang Hendra lalu segera menggantinya.
Pas dan sangat cantik. Aku sungguh menyukai ini, warnanya putih dengan sulur hijau, simple namun megah.
“sayang…udah belum? Lama banget, aku udah gak sabar nih”, teriak Hendra dari luar kamar,
“tunggu aja diruang tamu, kalo kamu tunggu disitu aku gak mau keluar”, balasku dan Hendra segera menurutinya dan aku pun keluar, segera menuju ruang tamu.
Ahk, rupanya Hendra juga memakai tuksedonya, tampannya suami pujaanku ini,
“astaga, cantik nian istriku ini…”, ungkap Hendra terlonjak kaget,
“suamiku juga ganteng sekali…”, sahutku sambil tersenyum, dan jadilah kami saling puji memuji, lucu banget.
“DORR DORR…”, gedoran pintu itu membuat kami diam seketika,
“siapa sih, gak tau apa ini rumah punya bel?” gerutuku kesal,
“ya udah aku yang bukain aja ya…”, sahut Hendra beranjak pergi,
“tunggu, masa pakai baju begini?” tanyaku,
“surprise…”, jawab Hendra padaku, membuatku berfikir, jangan-jangan itu orang suruhan Hendra lagii,
“aku aja yang buka yank…”, sambarku lalu melangkah panjang kepintu utama, membuat Hendra hanya terkekeh. Kena deh istriku, dikira aku akan memberikan pernikahannya malam ini kali, batin Hendra.
“ya…siapa ya”, sahutku riang begitu sampai didepan pintu, namun tertegun adalah milikku ketika dia yang seharusnya tak boleh disini, ada disini.
“Hilda?” bisikku,
“kamu cantik sekali sayang…”, ujar Hilda yang terkejut tatkala aku memakai gaun pengantin,
“siapa sayang?” tanya Hendra, dan ia pun terlonjak kaget, Hilda ada disini.
“hoo…jadi kalian akan menikah tanpa mengundangku?” tanya Hilda sinis, membuatku sesungguhnya sangat bergidik,
“em, bukan begitu”, elakku,
“kalau begitu ijinkan aku masuklah..”, pinta Hilda dengan ramah berbalut dingin, aku memandang Hendra yang berkata ya sudahlah kita juga tak kan bisa mengusirnya.
“tenang aku sudah sembuh kok, aku akan menikahi Jason yang sekarang juga sudah sembuh”, ungkap Hilda, membuatku menaikkan alis, tak mungkin rasanya.
“iya, itu benar. Nih buktinya”, tiba-tiba Jason datang dan menunjukkan cincin tanda nikah itu, karena tak mengerti juga bagaimana menolaknya, aku pun mengijinkannya masuk.
“jangan ganti pakaian, kamu terlihat sangat cantik memakai baju itu…”, ujar Hilda ketika aku bergegas menjauh darinya, aku pun berhenti dan berdiri dekat suamiku yang kini duduk berhadapan Jason dan Hilda yang sudah duduk berdampingan dikursi ruang tamu.
“jadi kalian akan menikah?” tanya Hilda, Hendra hanya mengangguk.
“kau yakin Ria sudah mencintaimu sepenuhnya?” tanya Hilda kembali,
“ya, aku yakin sepenuh hati Ria mencintaiku”, jawab Hendra sambil tersipu malu,
“DIA TIDAK MENCINTAIMU…”, Hilda tiba-tiba berteriak lalu membanting vas bunga yang terpajang dimeja ruang tamu, membuat kami semua sangat kaget dan menjauh dari Hilda.
“dia itu milikku yang amat kusayang, tak ada yang bisa merebutnya dari tanganku, hatiku…”, geram Hilda, membuatku sangat ketakutan,
“kesetiaanku selama ini tak kan kuganti dengan pengkhianatan, kamu Ria pasti masih mencintaiku, akan kubuktikan itu”, Hilda sudah mulai menggila, dia menunduk dalam-dalam dan suaranya tertahan penuh dengan emosi.
“Hilda, aku tak lagi mencintaimu…”, ucapku membuatnya melihatku dengan tatapan yang sangat tajam,
“begitukah?” tanyanya, lalu mengeluarkan pisau yang sepertinya sudah ia siapkan,
“Hilda, dapat darimana kau pisau itu?” teriak Jason membuat Hilda tersenyum misterius,
“bukan urusanmu lelaki laknat, aku tak bisa memilikimu Ria, berarti harganya adalah mati”, ungkap Hilda lalu menjilat pisau itu, ia psikopat…
“jangan Hilda, kita bisa merubah apa yang telah terjadi dimasa lalu”, ucapku, membuat Hilda lalu menangis .. lalu tertawa,
“MATIIII….”, ujarnya dan dengan cepat aku menghardik tangannya.
Sungguh bukan karena aku masih mencintaimu dan belum rela kehilangan nyawamu, namun dulu kupernah merajut kasih dan asa denganmu walau itu adalah terlarang. Kini ketika aku berubah, aku ingin orang yang pernah kucintai pun turut berubah dan mengecap betapa indahnya dunia ini.
“jangan kumohon…”, sahutku beriring tangis,
“Ria, lepasin dia. Biarin dia mati, Ria lepasin dia”, ujar Hendra, ya sayang aku tau kamu takut aku terluka, tapi dia Hilda. Bagaimanapun dia pernah menolongku, bahkan ketika pertolongan itu mempertaruhkan nyawa.
“apa gunanya aku kalu aku tanpa kamu…”, bisiknya lalu melepaskan genggamanku pada tangannya dan mencoba dengan keras menghujam jantungnya, namun sungguh aku tak ingin kau mati. Dengan tenaga yang aku punya aku menghalaunya. Dan nasib berkata lain…akulah yang kini harus siap menghadap surgawi,
“Riaaaa…”, teriak Hendra, ketika pisau itu akhirnya menghujam perutku dan aku bersimpuh darah.
“riiiaaa…”, bisik Hilda, kini dia berurai air mata,
“pergi kau setan, jangan dekati istriku lagi”, teriak Hendra lalu mendorong Hilda menjauh dari Ria, Jason langsung menelfon ambulance dan menyeret Hilda menjauh dari Ria. Jason tak ingin Hilda melukai lebih dari ini.
“sayang, selamat hari pesta pernikahan”, bisikku, aku tersadar suaraku makin lemah, begitu juga dengan tubuhku.
“sayang besok kita akan menikah dipantai Kuta, Bali. Dan honeymoon di kapal pesiar yang mengelilingi samudra 2 benua. Sayang jangan tinggalkan aku. Semua sudah kusiapkan, ini baju contoh, kamu cantik dengan baju contoh. Baju pengantinmu lebih megah daripada ini dan kamu belum memakainya”, Hendra terus saja berbicara seperti itu. Membuatku ingin menangis rasanya,
“ini juga bagus kok, maafin aku ya, aku ngebuat baju pengantinku sendiri penuh dengan darah…”, ucapku,
“Ria…riaaa…sayangku”, Hilda shock dan ia terus berteriak seperti itu, membuat Jason harus memeluknya, menakutkan bila ia berlaku lebih lanjut.
“gak papa sayang. Kamu harus sembuh secepatnya”, ucap Hendra,
“ya sayang. Aku mencintaimu”, itu adalah kata terakhir sebelum akhirnya aku terlelap dalam gelap.

“aku sungguh tak menyangka seperti ini Hen”, ungkap Jason menemani Hendra didepan ruang icu. Hilda pun turut ikut walau kini ia terlihat seperti orang gila.
“kukira dia benar benar berubah”, ujar Hendra sambil memandang lantai,
“ya, kukira juga. Orang yang kucintai ini telah berubah. Namun malah kebalikannya. Dia masih bersikeras mencintai Ria”, Jason lalu mengelus kepala Hilda,
“sayang, sesungguhnya aku tak pernah gay. Aku mencintaimu sedari kecil. Untuk ria kau adalah dewi penyelamatnya namun bagiku kau adalah sang belahan hati yang hilang”
“aku menjadi gay agar aku bisa mendekatimu, karena aku tau kamu adalah lesbi. Aku mencoba merubahmu namun rupanya sulit. Hilda aku sungguh mencintaimu”, ujar Jason lalu menempelkan dahinya pada dahi Hilda membuat Hilda terdiam. Ia mencoba mencerna apapun itu yang dikatakan Jason.
“sudah kuduga kamu gak gay son.. ya sekarang aku hanya berharap ada keajaiban untuk cintaku dan untuk cintamu. Agar kita berdua dapat hidup dengan baik”, ungkap Hendra yang kini menatap pintu icu.
Lama .. lama .. sedetik bagaikan setahun, dan sejam bagaikan seabad.
“tiing…”, lampu merah pada ruang icu padam, berarti operasi telah selesai. Tak lama seorang dokter keluar, ia tak menunjukkan apapun itu yang baik.
“bagaimana dok keadaannya?” serbu Hendra, membuat sang dokter menggeleng,
“kamu Hendra?” tanya dokter itu, dan Hendra mengangguk,
“ayo masuk”, dan Hendra pun masuk, melihatku lemas tak berdaya membuat ia sangat bersedih.
“sayang..”, panggil Hendra padaku,
“aku mencintaimu Hendra, ketika aku pergi, carilah yang lain. Yang lebih baik, ketika dia sangat mencintaimu, itulah cinta untukmu sayang”, ujarku lemah, membuat Hendra menangis,
“kamu gak akan kemana-mana sayang, kamu akan selalu ada buat aku, kamu ada disisiku”, ujar Hendra, membuatku tersenyum,
“sayang ciumlah aku”, pintaku dan Hendra langsung mengecupku.
Kecupan terakhir untuk nafas terakhir, meski begini adanya tapi jujur aku sangat bahagia. Dan kini setelah Tuhan tau aku telah terpuaskan didunia ini, ia memanggilku.
“Riiaaaa…”, satu teriakan putus asa untuk satu pertanda dan sungguh Jason tau apa artinya itu.
“Hilda…Ria meninggal, Hilda?” Hilda menghilang, tadi dia duduk tepat disebelah Jason dan kini dia menghilang kemana dia? Jason langsung mencari Hilda. Ia punya firasat buruk dan ia tak ingin itu terjadi pada Hilda. Ia harus segera mencegahnya.
“ada orang bunuh diri, jatuh dari atap rumah sakit…”, teriak orang-orang dan hamburan mereka keluar membuat Jason harus segera tersadar inilah jalan yang yang dipilih Hilda.
“Hilda…”, bisik Jason lalu menerobos kerumunan itu dan memeluk Hilda yang kini telah bersimbah darah. Mungkin ia masih bisa terselamatkan, pikir Jason lalu membopong Hilda keruang icu, bersikeras untuk mencoba menolong Hilda, setipis apapun harapan itu.
“benar-benar tak bisa diselamatkan tuan…”, ujar dokter ketika ia memberesi semuanya dan mencoba menyelamatkan Hilda yang sudah tak ada harapan lagi.
Kenyataan ini membuatnya sungguh terhenyak,
“kak Jason?” tanya seorang anak kecil pada Jason,
“ya..”, jawab Jason pendek,
surat untukmu dari kakak yang bunuh diri”, perkataan itu membuat Jason langsung merebut surat itu dan segera membacanya.

“teruntuk kekasih yang setia, Jason…
Aneh ya mungkin surat ini diberikan oleh anak kecil, dan terlebih aku udah gak ada lagi. Dia adalah teman curhatku ketika Ria tidur. Aku ini psikopat dan pecinta yang bodoh. Mengejar yang berubah dan mendiamkan yang terubah. Pengorbananmu sama sekali tak kuanggap, cintamu malah terabaikan dan kesetiaanmu malah tak kuhiraukan. Aku ini bodoh. Sungguh banyak dosa yang kubuat, menghancurkan Ria dan dirimu juga Hendra. Tolong sampaikan maafku pada mereka terlebih pada Ria ketika dia tersadar nanti. Aku mencintaimu juga Jason. L U Jason.”

Surat yang singkat namun menyenangkan, batin Jason. Dan Hilda malah gak tau sama sekali Ria akan menemaninya didunia sana. Seperti ia dulu menemaninya.
Kedua lelaki setia .. kedua sahabat .. yang kehilangan cintanya secara bersamaan.

Apa yang ada terkadang adalah yang terabaikan
Ketika kamu berusaha melakukan yang terbaik untuk mendapatkan yang terbaik
Kamu mengacuhkan apa yang ada disekelilingmu
Dan tak menghargainya.
Seringlah menengok, mendangak, dan menunduk
Maka kamu akan menemui keajaiban hidup

12.12.1986-12.12.2010