Sunday, October 16, 2011

“ Untuk Muel “


Akan selalu ada harmoni untukmu sayang.. dimanapun engkau berada..
Meskipun mata terpejam dan hati berteriak lara, namun engkaulah sedianya akan selalu setia dihati.. sayang ku sayang.. aku mencintaimu lebih dari segalanya bahkan ketika semua mimpi hanya menjadi angan dan terbang menjadi debu..
aku terduduk tegak di halte sore itu, mendung menerjang kota dan kesedihan mengendap dalam dasar hatiku, sayang oh sayang dimanakah engkau berada..
diriku setia menanti disini, menanti seseorang yang entah kembali atau tidak, hanya angin yang sering kudapati disini, bahkan ketika ibuku akhirnya datang dan menyeretku untuk pulang..

Setelah insiden itu aku hampir menangis selama 3 hari penuh dan hampir tak mau makan kalau bukan bunda yang menyuapiku dengan paksa, dan selama seminggu pula aku terombang ambing dalam kehidupan yang nyata dan tak nyata, kalau bukan karena teman-temanku aku tak akan pernah bangkit dari keterpurukanku.
Gagal menikah bukanlah salah satu rencana dalam perjalanan hidupku, dan mungkin juga bukan kalian. Tak ada yang pernah berharap atau bermimpi bahwa suatu pernikahan yang diidamkan akhirnya roboh oleh sebuah komitmen yang ternyata belum tegak berdiri, dan kini akulah yang jadi korban dari kelemahan komitmen itu. Aku ditinggal calon suamiku pada saat pernikahanku hanya berjarak seminggu lagi, dengan alasan yang sangat tragis dia datang kerumahku dan berkata bahwa pernikahan ini tidak bisa dilaksanakan. Dan kalian tau kenapa, mantan pacarnya datang dan calon suamiku secara kejam mengatakan bahwa ia tak bisa menikahiku karena ia akan menikahi mantannya yang telah kembali, ironi ya? Aku hanya bisa diam dan menahan air mataku untuk jatuh, aku tak ingin menangis didepan dia yang paling kucintai dan ternyata kini mengkhianati hatiku. Sakitnya bukan main, bahkan sebilah pisau kurasa tak akan pernah sebanding dengan perasaan hancur ini.
Berbahagialah aku karena orang-orang disampingku selalu ada untuk mendukungku dan selalu ada untuk diriku, hingga akhirnya aku yang tersungkur jatuh dapat berdiri tegak.
Setahun setelah kejadian itu berlalu, semuanya berlangsung baik-baik saja, sampai kuterima sebuah undangan pernikahan di kantorku siang itu, tertulis untuk Christina Ayu, undangannya sama persis dengan undangan pernikahan gagalku, lalu aku membukanya perlahan dan mataku langsung terasa perih, hingga tak sadar air mataku menangis..
Samuel Prawirotomo ( Muel ) dengan Archengela Selviana (Aven)
Mantan calon suamiku akan menikah dengan mantan pacarnya.. astaga kenapa dia mengirimkan ini semua padaku, lalu aku menelusuri jejak undangan itu, tanggal resepsinya juga sama.. mendadak lututku lemas dan isakan tangisku meledak, teman-teman sekantorku yang mengetahui isi undangan itu hanya bisa menenangkanku, rasanya aku seperti tak berharga dan tak berdaya. Setahun berlalu dan aku belum bisa melupakan dia, Muel, mantan calon suamiku yang telah kupacari 4 tahun dan kini setelah satu tahun dia membuatku merengguk pahitnya kegagalan pernikahan, dia akan menikah dengan wanita lain? Pantaskah ini?
Tapi untuk menunjukkan aku telah mengikhlaskannya, aku pun memaksakan diri untuk datang kepesta pernikahannya, dan pilihanku adalah salah seratus persen, pernikahan impianku, dekorasi impianku, benar-benar apa yang kuidamkan bahkan sampai catering yang sama dengan pernikahan gagalku. Ada apa ini, dia ingin apa dariku? Ya Tuhan beginikah jalan hidupku? Aku yang datang bersama bunda, hanya bisa menatap semua ini dengan miris,
            “Christin sayang, kamu mau salaman ama pengantinnya gak nanti?” Tanya bunda pelan-pelan kepadaku sambil mengelus rambutku yang tergerai, aku hanya menggeleng lemah.
            “atau kita pulang aja sekarang?” Tanya bunda lebih lanjut, aku menggeleng
            “jangan ma, kasian pengantinnya..” jawabku sambil tersenyum sedih.
Pernikahan berjalan sangat lancar dan mataku bisa dipastikan terpancang pada pengantin prianya, aku mulai membayangkan harusnya akulah yang berada disebelahnya bukan mantan pacarnya yang telah meninggalkannya.. aku yang telah setia disampingnya 4 tahun belakangan, namun kini aku telah mengecap kepahitan.

Sebuah sungai mengalir, meski batu menghadang ia akan menghantamnya dan memastikan dirinya sendiri mendapatkan jalan menuju sebuah perhentian terakhir.
Dua tahun berlalu semenjak hari pernikahan berbahagia itu, dan aku masih sibuk dengan kegiatan dan kesendirianku, aku mengalami trauma dan bukan itu saja, aku masih merasakan cinta itu hangat bersemi didalam hati yang gundah ini. Sungguh mengenaskan dimana kini ia pasti sedang berbahagia aku malah merujuk pada sendiri dulu. Tapi jujur aku menikmati meski aku juga tak bisa memungkiri ada rasa rindu kepada seseorang yang menyayangiku.
            Sore itu dalam Jakarta yang macet dan aku duduk terdiam di kursi pengemudi sebuah kenangan masa lampau tiba-tiba terlintas dalam fikiranku, dan membuatku tersenyum sendiri.. kenanganku bersama dengan Muel. 4 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalin asmara, begitu banyak kisah yang pastinya akan terajut dan menjadi sebuah cerita panjang tersendiri, namun begitu kisah itu telah sampai kepada titik kegagalan pernikahanku air mataku pun langsung meruak keluar dan membasahi pipiku. Untungnya kemacetan yang berlangsung tak begitu lama, membuatku harus sesegera mungkin menghapus dan berkonsentrasi terhadap jalanan. Menyebalkan kalau harus mengendarai sambil menangis. Namun baru beberapa kilo setelah jalanan lancar
            “aaaaaaaaaa..” ada suara teriakan dan mendadak mobil yang didepanku berhenti, sempat terlihat olehku seorang gadis terlempar, ini menakutkan,
Lalu orang-orang mulai berlarian untuk segera menolong, aku pun menurunkan kaca mobil dan bertanya kepada orang yang lewat disamping mobilku,
            “sudah ada yang menolong?” lelaki itu menggeleng,
            “naikkan ke mobil saya saja”, entah ucapan darimana ini, yang pasti ada hasrat dalam diriku untuk menolongnya, dan ketika gadis itu digotong masuk kedalam mobilku aku terpengarah kaget, aven? Aku menolong seseorang yang telah merebut calon suamiku? Namun ini bukan saatnya untuk berfikiran seperti itu, matanya mengeluarkan darah, apakah dia terkena pecahan kaca..
Aku sesegera mungkin membawanya kerumah sakit terdekat, dan berusaha menghubungi suaminya, namun tak ada respon, astaga dimana dia saat istri tercintanya mengalami kecelakaan begini, namun ketika terhubung dan aku menyuruhnya untuk datang dia segera menutup telfonnya, dan aku bersembunyi, aku tak sampai hati untuk memandangnya.
Muel datang, dia masih tampan seperti dulu namun tampak pucat, dan dia berbalut pakaian rumah sakit? Sakitkah dia? Dia kenapa? Pertanyaan-pertanyaan makin lama makin menumpuk dalam kepalaku, kulihat lagi, pakaiannya sama dengan pakaian pasien disini, dan ada perawat juga yang mengikutinya, aku harus tahu apa yang terjadi padanya.
Aku pun ketempat resepsionis dan bertanya, jawaban yang kuterima pun seperti lemparan seribu pisau menancap ketelingaku..
            “dia terkena penyakit jantung akut, dan harus menemukan pedonor jantung dalam waktu dekat ini”,
Sungguh dia memang lelaki yang membuatku hampir mati namun bukan berarti aku menginginkannya meninggal, ini diluar dari bayanganku.. aku pun mulai merenung dan jatuh kedalam fikiran-fikiran yang membuatku sungguh tak berdaya. Ini sudah tiga tahun semenjak kegagalan pernikahanku dan aku dengan tegas sudah mengikrarkan bahwa aku mengikhlaskannya. Namun kini aku diambang pernyataan bahwa dia sedang diambang kematian dengan wanitanya yang menyentuh kematian? Astaga tegakah aku, tanpa berfikir panjang aku mencoba mengecek mata yang kuketahui retina mata Aven telah rusak dan juga butuh pendonor dan mengecek cocokkah jantungku dengan jantung Muel, dan Tuhan memberkatiku, semua itu cocok. Dan pertanyaannya sekarang siapkah orang-orang yang akan kutinggalkan? Aku diburu waktu dan kepastian. Tuhan bimbinglah aku.. dan keputusan telah dibuat, orang-orang tersayang yang kuberitahu langsung menumpahkan air mata, aku tau ini perbuatan bodoh dan konyol namun aku juga ingin berkata bahwa cinta sejati itu ada dan aku ada untuk menunjukkannya.
Hari itu pun tiba dan operasi dimulai. Selamat tinggal dunia, selamat tinggal orang-orang yang kusayangi dan aku ikhlas sepenuh hatiku.. donorkanlah semua organku yang berfungsi dengan baik demi kebaikan orang lain yang lebih mempunyai harapan daripada aku..

Surat terakhir untuk Muel dari Christina
“aku mencintaimu melebihi ragaku, ketika akhirnya kita hampir sampai kesebuah perikatan suci dan engkau melepaskanku, aku akhirnya  menyadari lebih dari sebelumnya bahwa engkaulah satu-satunya yang dapat menempati hati ini. Ketika aku telah lepas dari ragaku dan jiwaku telah melayang bebas ke angkasa, satu hal yang ingin kupastikan bahwa didunia ini engkau dapat bahagia dan tersenyum lebar dan aku dapat menjadi bagian didalamnya..
Janganlah engkau bersedih, aku belum melakukan apa-apa untuk dunia, dan sering hanyut dalam perasaan yang tak menentu namun dengan ini kuharapkan Tuhan dengan baik hati akan memperhitungkan ini sebagai amalku, hehe.. jaga baik-baik mata dan jantungku ya..
salam manis dari yang manis untuk engkau yang paling manis,
seseorang yang selalu mencintaimu dan pernah berada dihatimu”
Christ Love Muel

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi