Wednesday, March 23, 2011

"Tak Jadi Milikmu"


Ketika angin tak lagi jadi milikmu
Akankah kamu merebutnya kembali?

            Ketika sang ufuk masih mengagumi rembulan pancarkan indahnya malam, ia menghalau mentari untuk terbitkan cahayanya, sampai angin semilir itu katakan padanya ia merindu pada sang mentari. Dan sang ufuk mengalah dan membiarkan mentari temani angin dalam sejuknya pagi itu.
            “fraaaannnssss……”, gadis itu terus saja memanggil nama tu, namun entah kenapa telinga cowok itu tetap saja tidak bergeming dan membiarkan tuannya diam dalam langkahnya,
            “fraaannssss…”, gadis itu tetap memanggilnya, berusaha tanpa kenal menyerah dan membiarkan langkah itu terurai,
            “ya…”, akhirnya lelaki itu berhenti dan menjawab, namun mukanya terlihat pucat dan ia berkeringat,
            “dipanggilin daritadi kok gak disahutin siih, jahat…”, ujarku manja, membuatnya mengelus kepalaku lalu tersenyum,
            “sebentar ya, aku ada urusan. Tunggu aku dikafe tempat biasa kita..”, sahutnya, membuatku mengangguk dalam tanda tanya, ada apa gerangan dengan lelaki belahan jiwaku ini.
            Aku Ruth, kebanyakan orang memanggilku Uthe, kalian pun boleh memanggilku begitu, aku bekerja disalah satu perusahaan terbesar di Jakarta, yang tadi itu Frans, dia sahabat lelakiku, aku mengenalnya ketika pertama kali aku menginjak bangku kuliah dan sampai kerja saat ini, dan jujur saja aku sangat mencintainya dan kurasa dia juga begitu, menyenangkannya bila berfikir seperti itu. Kami belum sempat mengutarakan rasa kami, kurasa Frans menunggu waktu yang tepat untuk menembakku, jadi tak sabar. Oiya Frans itu sahabat, sekaligus direktur perusahaan tempatku bekerja.
            Lama.. aku sudah menunggunya selama 2 jam di tempat kita berjanji namun dia belum menunjukkan tanda-tanda akan muncul, bahkan handphonenya tidak aktif, ada apa dengan dia.. ini membuatku resah dan khawatir.
            “Mbak Ruth ya?” sapa seorang waitress padaku, membuatku menoleh padanya dan mengangguk,
            “ada titipan mbak..”, sahutnya kemdian lalu menyerahkan bunga, coklat dan memo..
“untuk sang mentari dari rembulan..
Malam ini indah namun tetap kamu yang paling indah
Tak semanis coklat
Namun bagiku kamu adalah yang termanis
Bagaikan bunga ini
Kamu adalah yang tercantik”
Pangeran rembulanmu “F”

Sebaris memo itu mampu membuatku terbius dan tersenyum ia sungguh romantis dan mampu membuat jantungku berdegup kencang. Tapi.. kemanakah dia pergi? Jadikah ia menemuiku malam ini? Rasanya tidak, maka kuputuskan untuk pulang dan tersenyum dalam wanginya bunga ini dan manisnya coklat ini.

Ketika sang pagi menjelang maka mentari adalah yang terbahagia, seperti hatiku saat ini, walau tadi malam sang cinta tak datang tapi aku cukup senang terlebih pagi ini ia mengirimiku sebuket bunga mawar yang wanginya membuatku penuh dengan aroma mawar. Tapi aneh, hatiku yang ceria ini tak dibarengi dengan cuaca yang mendadak berubah menjadi kelam, hemm menyebalkan, gak dapet dukungan dari langit niih..
Kantor.. sepertinya kantor sangat ramai hari ini, begitu banyak ucapan selamat berhiaskan bunga cantik, apa ada perusahaan yang baru buka? Tapi kok selamat menempuh hidup yang baru? Atau ada salah satu direktur atau petinggi lainkah yang baru menikah, tapi kok aku gak tahu ya?
“Ruth..”, panggilan yang seperti bisikan itu membuatku menoleh dan mendapati Frans yang sepertinya sedang bersembunyi,
“Frans? Kamu kenapa? Kok keringetan gitu.. trus kok bisik-bisik gitu siih?” tanyaku yang melangkah menghampirinya, belum sampai kepadanya tanganku ditariknya dan kami berjalan menuju tangga darurat, eratannya yang begitu kencang membuat hatiku dag dig dug,
“Frans, ada apa siih?” tanyaku, ia tampak sangat terburu-buru dan lagi nafasnya juga tersengal-sengal,
“Ruth..”, sahutnya, tubuhnya mendekat padaku membuatku terpaksa mundur dan bersender pada tembok, desahan nafasnya kini terdengar jelas ditelingaku,
“aku mencintaimu..”, sepatah kata lalu ia mengecap bibirku, bibir sang perawan yang kusiapkan untuknya, kini seakan terebut tanpa permisi, namun membuat jiwaku bergejolak dan ragaku kegirangan, kecupan mesra itu.. ketika bibir ini ternikmati ia melepaskannya dengan kasar lalu merutuk dan pergi begitu saja.. dia mencintaiku, batinku.. membuatku tersenyum dan membeku, memikirkan hal yang baru kami lakukan membuatku tak dapat berfikir dan tak mengerti apa yang harus kulakukan. Sangat menyenangkan..
            Lantai 8, itulah kantorku.. setibanya disana kudapati para karyawan/ti tengah tersenyum dan seperti merayakan sesuatu, ini bukan pemandangan yang biasa..
            “san, ada apaan?” tanyaku sambil menghampiri Susan, teman yang duduk tepat disebelahku,
            “lho emang loe gak tau the?” jawab Susan yang bertanya balik membuatku menggeleng,
            “si itu nikah..”, sahut Eka sambil tersenyum,
            “itu?” tanyaku
            “si Frans..”, jawab Susan,
            “frans?” tanyaku lagi, menegaskan apakah aku ini salah dengar atau tidak
            “iya, bos kita si Frans dan Imelda, sahabat SMPmu..”, sekejap kata dan rasanya duniaku mau runtuh, aku yang tak percaya menerobos kerumunan lalu mencoba mengintip sejoli yang tengah dikerumuni..
            Ya benar saja, itu Frans sahabat kuliahku, pujaan hatiku, yang tadi pagi menyatakan cintanya padaku dan Imelda sahabat SMPku, sahabat terbaikku. Ini gak adil.. batinku, membuat air mataku terjatuh, hatiku sakit.. perih sekali.. dengan kesadaran yang ada aku mencari jalan keluar, aku ingin pulang dan menumpahkan semuanya dirumah..
            “lho, The kamu nangis?” tanya Susan yang melihatku terdiam begitu melihat Frans dan Imelda,
            “gak, rasanya gue kurang enak badan San, gue mau pulang dulu..”, jawabku lalu berjalan keluar, ingin rasanya langsung berlari dan berlari, menjauh sejauh-jauhnya dari tempat ini dan berharap tak pernah kembali lagi untuk selamanya..
            Sang lelaki, ia Frans, menyadari ada gadis itu, namun dalam beratnya ia hanya bisa memandang tanpa mengerti harus berbuat apa, dalam batinnya ingin rasanya menggenggam tangannya dan bilang jangan pergi.. tapi apalah dayanya, bahkan untuk berfikir saja ia tak dapat melakukannya.
            “ting..tong..”, suara bel, malam-malam begini? Batinku, aku masih larut dalam tangisku, bahkan rasanya semua barang-barangku tak luput dari air mataku, mungkin mataku sudah sangat bengkak karena terasa berat sekali.. ditinggal nikah oleh cinta terpendam apalagi saat ia bilang cinta itu, gak mudah tau, sangat sakit.. suara bel yang maikin lama makin gak sabaran itu membuatku beranjak dari tempatku lalu bergegas membuka pintu sambil mengelap genangan air mataku.
            “frans..”, bisikku ketika ia yang berdiri tepat dihadapanku adalah ia yang melukaiku..
            “Ruth..”, wajahnya sedih teriring sembab, apakah ia habis menangis juga? Menangiskan apa, pasti menangis karena terlalu bahagia..
            “aku gak mau liat muka kamu lagi..”, ucapku dengan suara tertahan, aku menahan emosiku, aku menahan tangisku,
            “aku mencintaimu..”, ujarnya tertahan juga, sial.. kenapa dia mengatakan itu padaku..
            “apa maumu.. jangan mempermainkanku seperti ini…kau jahat Frans…”, sahutku berderai air mata, membuatku mengeluarkan kata-kata yang tak seharusnya,
            “Aku sungguh mencintaimu Ruth..”, sahutnya, kini ia ikut menangis,
            “diaaammm.. aku tak lagi ingin mendengar apa katamu, kau jahat, kau kirimi aku bunga, coklat dan puisimu, kau katakan cinta padaku, menciumku lalu setelahnya kau menikahi gadis lain, ia sahabat SMPku, apa yang harus kulakukan..!!! aku sangat membenciimu Frans, bahkan namamu sungguh tak ingin kusebut..”, kini suara tertahan itu berubah menjadi teriakan,
            “aku mencintaimu, sungguh sungguh mencintaimu..”, hanya kata-kata itu yang keluar dari bibirnya, membuatku terhenyak dan merasakan rasa sedih itu lagi, kenapa dia terus mengulang kata yang sama tanpa berkata yang lain, penjelasan apapun itu..
            “pergi kau PERGII…”, teriakku sambil mendorongnya, doronganku membuatnya terjungkal, kenapa dia? Selemah itukah dia sekarang,
            “aku sangat mencintaimu Ruth..”, bisiknya lalu pingsan..
            “Frans?” sahutku..
            “Frans bangun Frans…”,
Cintaku terhalang oleh takdir…tabir kebenaran akan cinta itu masih tersembunyi dan aku harus bersabar untuk menguaknya…ia yang kusayang ternyata harus selamanya tetap kusayang…
            “Franss..”, bisikku, kini ia tersadar dari lelapnya malam,
            “Ruth kusayang Ruth kucinta..”, ujarnya membuatku tertegun, ada apa ini sebenarnya,
            “sayang..”, ucapku sambil mendekatkan wajahku kewajahnya,
            “ya ciinta..”, jawabnya lalu mengecup bibirku lagi, membuat wajahku merona,
            “istrimu bagaimana?” tanyaku,
            “ia yang tak pernah kucinta, tak pantas kau sebut…” jawabnya
            “jelaskan padaku semuanya…”, ujarku lalu menjauh darinya, membiarkannya yang terbaring menjadi duduk, namun ia tetap diam, aku benci keheningan ini, maka aku mulai beranjak dari tempatku dan bergegas pergi,
            “aku terpaksa menikahinya..”, sahutnya, membuatku membatu,
            “terpaksa untuk menyelamatkan perusahaan, aku mengenalnya dari dulu, namun tak terbersit satu cinta pun untuknya, yang kucintai hanya satu yang kusayangi cuman satu dan itu kamu.. kamu yang setia menungguku, kamu yang setia mencintaiku… hanya kamu satu-satunya..”, kata-katanya membuatku menangis,
            “aku mencintaimu seperti kamu yang mencintaiku dan setia padaku selama ini..”, ujarnya lagi dan memelukku dari belakang. Oh Tuhan apa yang harus kulakukan, haruskah kujalin cinta ini ketika ia sudah menikahi gadis lain, gadis yang tak lain adalah sahabatku sendiri, setega itukah aku?
            “aku tak ingin diduakan..”, celetukku ketika kini kami sedang bermesraan diruang tv rumahku,
            “kamu tak pernah diduakan sayang, karena hatiku itu adanya untukmu”, ujarnya sambil mengelus bibir merahku,
Maka inilah dosa termanisku, tak pernah kulupa dan akan selalu kuingat, dimulainya ia menapaki hidup bersama istrinya disaat itulah juga dia menjalin hubungan denganku. Ia mencintaiku dan bukan yang jadi istrinya kini, itulah faktanya… ia milikku tapi bukan punyaku, itu jugalah faktanya, nyatanya hatinya milikku namun raganya adalah punyanya. Sesama sahabatku yang tak mungkin kulupakan.

“Ya ampun kita udah lama banget ya gak ketemu..”, ujar Imel padaku, membuatku tersenyum,
“yaa, semenjak kamu memutuskan untuk ngelanjutin sma diluar negeri lhoo, berati kamu yang ninggalin aku tuh..”, sahutku tersenyum. Perbincangan sahabat lama itu terus saja berlanjut dan berlanjut…membuat hatiku perih dan batinku tersiksa.
“cowok kamu sekarang siapa?” tanya Imel padaku,
“gak punya, hehe..”, jawabku sambil tersenyum,
“masa cewek secakep kamu gak punya siih, oiya sahabat cowok kamu yang waktu kuliah, yang kamu gila-gilai itu gimana?” pertanyaan yang salah sasaran, membuatku tersenyum,
“dia udah nikah sekarang”, ucapku lalu memandang Frans yang setia disamping Imel dengan kaki bermain dengan kakiku…
Rasanya…perbincangan yang kami lakukan, pertemuan yang kami lakoni membuat aku dan Frans semakin dekat membuat aku dan Imel menjadi lebih dekat dan juga Imel menjadi lebih mencurigaiku..
“rahasia adalah rahasia, bahkan ketika rahasia itu terurai dalam kata dan perbuatan”
Imel tahu, dia tersadar. Ia pun tak bodoh…ia mencurigaiku, ia mencurigai suaminya…Aku dan Frans memang sudah menapaki cinta terdalam, dan tentu saja ia yang setia bersama suaminya menyadari perubahan yang ada pada Frans. Sampai akhirnya ia mengetahui bahwa Frans adalah lelaki yang kugilai-gilai sewaktu kuliah dan akhirnya ia mengetahui hubungan gelapku dengan Frans, maafkan aku sahabat.
           
            “kalian bermain api…”, ujar Imel membuatku dan Frans tersentak, kami sedang menikmati jamuan makan siang itu dirumah Frans dan Imel,
            “maksudmu?” tanyaku
            “jangan pernah berbohong lagi, sakitnya bila terkhianati, kalian tau itu…maka jangan main api lagi dihadapanku..”, jawabnya dengan ketus,
            “apa maksudmu Imel?” tanya Frans lembut,
            “kalian berdua selingkuh…”, Imel berkata dengan sungguh terang membuat kami berdua terdiam,
            “kalian diam kan…itu artinya ya, dan itu artinya kalian mengkhianatiku, suamiku selingkuh dengan sahabatku sendiri…”, lanjutnya,
            “itu fitnah..”, ujarku, suaraku bergetar…
            “perempuan murahan…itu tidak fitnah, aku yang melihatnya sendiri, kau fikir aku buta dan bodoh, tidak peka terhadap suami sendiri?!” teriaknya,
            “jangan pernah katakan dia murahan!” teriak Frans membuatku terdempet diantara keriuhan dan panasnya suasana ini, membuatku terisak tangis,
            “jangan menangis, kau sendiri yang melakukan, apa yang kau tangisi wanita murahan dan kau, sekarang sudah mau mengakuinya suamiku!” Imel sungguh marah, kemarahan yang terpendam dan kini sedang meletup-letup,
            “diam kau, tak pantas orang seperti kau menyebutnya demikian, dan satu lagi ya aku memang mencintai Ruth, tapi aku tak pernah selingkuh, karena sesungguhnya aku tak pernah mencintaimu…”, pernyataan yang membuat Imel terdiam dan kini air mata menggenang dipelupuk matanya,
            “apa maksudmu, tak pernah mencintaiku?”
            “kau Imel, tak pernah kucintai, aku menikahimu agar perusahaanku tetap bertahan, bukankah begitu juga kau menikahiku…”, ujar Frans membuat tubuh Imel terduduk lemas,
            “cukuup…”, isakku pelan,
            “kau tau, aku mencintaimu dari dalamnya hatiku, kita saling mengenal sejak kecil dan aku sudah menyukaimu sejak saat itu, dan ternyata aku mendapatinya seperti ini…”, perkataan itu membuatku terhenyak dan tersadar ini bukan saja kesalahan besar tapi ini juga dosa yang amat kejam. Aku membunuh mereka secara halus,
            “Imel, Frans maafkan aku..”, ucapku lalu berlari keluar, kini hal itu kulakukan lagi, berlari sejauh-jauhnya dan berharap tak kembali.
            “Ruth… jangan pergi”, Frans dengan sigap mengejarku, namun aku terus berlari dan berlari tanpa menyadari sesuatu, bergerak mendekatiku dengan kecepatan tinggi…sebuah mobil menabrakku dengan kencang, membuat tubuhku terpelanting dan terluka oleh pecahan kaca yang berada tepat dekatku, dan sekejap duniaku menjadi gelap dan yang kudengar hanya suara ramai dan suara ambulance, juga suara Imel, maafkan aku Imel.
            “Ruthh…”, teriak Frans, yang kini memeluk tubuhku yang terselimuti darah, Imel yang melihatku hanya diam membeku tanpa mengerti harus mengatakan apa. Melihatku seperti ini menyadarkannya, ia telah hadir dan merusak apa yang dulu sudah terancang.

            Duniaku mulai gelap, rasanya mentari tak akan tersenyum padaku lagi, dan rembulan tak kan pernah kutemui lagi, yang kini menjadi temanku adalah semilir angin juga nyanyian burung dan gemericik air.
            “kau sudah bangun?” itu suara Frans,
            “ada apa, kenapa gelap?” tanyaku
            “sayang, kamu kecelakaan, waktu terpelanting matamu terkena pecahan kaca, membuat retinamu rusak”, jawaban itu cukup menyadarkanku aku tak akan dapat melihat rupa yang kusayang lagi,
            “aku buta…”, dan aku mulai menangis sejadinya,
            “dan kamu keguguran”, timpal Frans lebih lanjut,
            “aku keguguran?” tanyaku gugup
            “kamu hamil 2bulan”, makin jatuh aku pada kesedihanku, sang jabang bayi dari hasil cinta terlarangku telah kutinggalkan dan aku bundanya sama sekali tak menyadari bahwa ada nafas didalam perutku, bodoh. Kenyataan kenyataan ini membuatku sangat depresi dan terus menangis.
Dia, gadis itu, Imelda…melihat kami dalam perih yang tiada tara. Dia pun menangis sejadinya dalam keringnya air mata yang telah ditumpahkannya terus menerus.
“ini takdir…”, ujar Frans pada Imel, Imel yang masih belum kunjung berhenti menangis hanya bisa diam, meski air matanya telah habis ia akan terus menangis, itulah Imel sekarang,
“ini salahku, aku yang hadir diantara kalian berdua, aku yang salah…”, sahut Imel, membuat Frans tak hentinya memandang langit-langit tanpa sekalipun menatap ia, sang istri yang sebentar lagi akan diceraikan olehnya.
“tidak, ini takdir. Sudahlah jangan salahkan dirimu lagi, ini salahku dan salahmu juga salah takdir yang melibas kita semua dengan kejamnya”, Fans mencoba tegar dan bijak, namun itu saja tak cukup untuk menyadarkan Imel untuk berhenti menangis dan mencoba bangkit. Ia hanya pergi dalam heningnya rumah sakit, dalam kelamnya hari itu, dan meninggalkan lelaki yang sepenuhnya ia cintai.
Mentari yang tak lagi tersenyum padaku kini sudah sangat kuikhlaskan, karea sang cahaya tak hentinya menemaniku dalam gelapnya hari, tapi tak kan kubiarkan diriku buta kepada waktu dan musim,
“sayang, aku sudah dapat donor mata…”, sepetik kata dan membuatku melonjak kegirangan,
“benarkah itu, secepat itu? Bagusnya…ayo kita lakukan”, ucapku bahagia
“ya tentu sesegera itu kita lakukan…”,
“dan undang Imel sekalian, ya walau dia mungkin benci aku, tapi setidaknya dia tau kabar gembira ini”, perkataanku itu membuat Frans diam dalam keheningan, tak memberitahunya apa-apa mungkin akan jauh lebih baik, meski nanti dia akan tau.
Alam membuatku tetap hidup dan menikmati pesonanya, ini membuatku terus bersyukur dan henti-hentinya memuja yang kuasa, bukan karna hari ini, aku terselamatkan dan sang pujaan berada bersamaku tapi karena nanti hari-hari yang akan kulalui dan kemarin, hari-hari yang telah terlalui.
Operasi yang berjalan lancar itu terus membuatku tersenyum, 7 bulan dalam kegelapan dan kini terang kembali membuatku tak hentinya memandang ia yang tak bisa kupandang, juga Frans, ia semakin tampan saja.
“kemana Imel?” tanyaku, tak pernah lagi kulihat sosoknya sejak kudapat melihat, Frans hanya terdiam sambil mengupas apel, para kelauarga, sanak saudara dan teman pun hanya diam, kini ruangan ini terselimuti hening.
“mungkin ini saatnya kamu menceritakannya nak Frans, kami semua tinggal diluar saja”, perkataan ayahku itu membuat ruangan menjadi sepi, tinggal aku, dan Frans yang sibuk memotong apel, walau kini potongannya tak lagi beraturan.
“Frans…apa yang terjadi pada Imel?” tanyaku sayup, membuat Frans berhenti namun tetap menunduk,
“Frans ceritakan padaku, ada apa, sejak aku dapat melihat aku tak lagi melihat Imel, tak mungkin kan kalau ia mendonorkan matanya untukku…”, satu ujaran dan membuat Frans menatapku, lalu tersenyum miris,
“ini..”, Frans memberiku sepucuk surat berwana pink beraroma mawar,

Untuk yang tersayang dan yang berbahagia,
Frans, mantan suamiku  yang amat kucintai dan Uthe, sahabat sehidup sematiku yang amat kusayangi.
Salam untuk kalian, ketika kalian membaca surat ini mungkin aku telah tiada atau mungkin aku sedang dalam persidangan terakhir. Semoga pertolongan dariku dan apa yang kulakukan membuatku masuk surga, hehhe…setelah apa yang kulakukan  pada kalian berdua setidaknya ini adalah balasan termanis dan permintaan maafku pada kalian. Apalagi setelah aku tau aku membunuh bayimu, rasanya itu menjadi penyesalan bagiku, dan setelah setahun aku menikah aku belum saja mampu memberikan Frans anak, itu lebih menyedihkan. Kini aku yang berada dalam penghujung hidupku, aku memberikan mataku padamu. Tolong jaga anugrah Tuhan itu dengan sebaik-baiknya, dan jangan biarkan ia rusak lagi ya. Salam dari sahabat dan mantan istri suamimu…

Aku terhenyak dalam tangis, tangisan pertama pada mata baru…
“lalu kemana dia sekarang, setidaknya dia hanya meyerahkan matanya padaku kan…”, ucapku, Frans hanya menunduk,
“ia meninggal…”, aku menangis lebih dan lebih lagi, kenapa kenapa dia meninggal…
“ia menderita penyakit parah dan hidupnya tak lama lagi, ketika hidupnya berakhir ia menyumbangkan matanya padamu dan semua organ sehat pada yang membutuhkan”, penjelasan Frans membuatku membatu,
“kenapa kenapa…”, sahutku dalam isak, membuat Frans meneteskan air matanya,
“aku juga gak tau sayang, tapi inilah kenyataan. Ia mengorbankan dirinya agar kita dapat bersama-sama”, jelas Frans membuatku diam dalam tangis dan peluk suamiku kini.
            Sayang, Imel bunuh diri agar dapat mendonorkan matanya padamu, jantungnya pun didonorkan padamu, karena kamu sayang, jantungmu divonis lemah, batin Frans. Namun
“rahasia adalah rahasia walau ia harus dibawa sampai mati”

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi