Saturday, March 5, 2011

Psikologi Kematian


Mengubah Kematian Menjadi Optimisme

Buku karangan Komaruddin Hidayat ini, layak diperhitungkan sebagai buku yang pantas dibaca, bukan hanya karena makna yang terkandung didalamnya namun juga olahan bahasa dan ulasan yang menakjubkan.
Dimana pengarang mengajak kita untuk memahami arti hidup ini, bagaimana menjadikan hari ini adalah sebuah hari dengan kebanggan luar biasa dan masa lalu menjadi pembelajaran yang sangat berharga. Menjadikan masa depan sebagai sebuah harapan besar dan kematian menjadi sebuah prestasi besar.
Diawali di bagian pertama dengan mendalami makna kelahiran manusia, dilanjutkan dengan pendalaman spiritualitas dan kegelisahan manusia. Pada bagian ketiga kita akan menemukan sebuah pencarian makna sebelum kematian datang sampai pada akhirnya pada bagian keempat kita akan menuju fase puncak dimana dibahas dari kematian menuju kehidupan abadi.

Makna Kelahiran Manusia..

Setiap manusia yang dilahirkan selalu mempunyai makna dan mempunyai jalur kehidupannya sendiri,
Dimana makna itu akan berkembang seiring dengan pertumbuhan sang manusia yang telah terisi kehidupannya. Manusia pun sesungguhnya sadar bahwa ia terlahir untuk mencapai kehidupan abadi, yakni kematian. Maka dari itu perlu disadari oleh tiap manusia, untuk tidak berhenti di satu titik meski tetap berkembang. Disini penulis menekankan, setiap hari adalah syukur, kematian memang tidak bisa diprediksi karena merupakan rancangan dari Sang Khalik, namun sedianya syukur, penyerahan diri, dan pertobatan haruslah dilakukan. Salah satunya adalah dengan merasakan “everday is my birthday”, dimana tiap harinya adalah rasa syukur akan nafas hari ini.
Dalam bagian pertama ini penulis melukiskan bagaimana manusia mendalami makna kehidupannya, dengan bersyukur, berkembang dan mengabadikannya baik melalui tulisan ataupun cerita-cerita guna membangun bangsa yang lebih baik kedepannya.

Spiritualitas dan Kegelisahan Manusia

Setiap orang bila ingin berkembang dan maju harus menerjang banyak ujian dari front yang berbeda dan banyak bentuknya, dimana tiap fase tidaklah sesuai dengan kemampuan kita namun tidak melampaui daya kita dan rintangan itu biasanya diatas kemampuan kita, guna mengembangkan pribadi sebagai pribadi yang lebih matang dan siap dalam menghadapi dunia. Dalam istilah sufi, diri kita terdapat arassy atau singgasan Tuhan, sehingga kalau seseorang bisa menyerap sifat-sifat ilahi ke dalam hatinya, maka ia akan lebih besar ketimbang langit dan bumi.
Namun apa jadinya ketika agama berhenti menjadi acuan dan semua warisan agama menjadi lelucon belaka, maka Auguste Comte secara radikal berkesimpulan bahwa dalam masyarakat saintifikteknokratik, agama tak lagi memiliki posisi yang harus diperhitungkan, bahkan dianggap sebagai sisa-sisa keterbelakangan dari masa lampau. Berbeda dengan Huston Smith yang beranggapan bahwa Agama adalah pintu gerbang yang paling jelas. Melalui pintu gerbang itulah kekuatan kosmos yang tidak terhingga tercurah ke dalam eksistensi manusia. Agama juga diyakini sebagai cahaya tembus kabut dimana makin tinggi kesadaran keberagaman seseorang makin tinggi pula kualitas kemanusiaannya.
Namun dalam masyarakat modern kita akan mengenal sebuah persoalan yang dikenal dengan proses alienasi sebuah persoalan kejiwaan manusia, dimana manusia adalah penyebab munculnya namun juga yang harus menanggung akibatnya dan persoalan alienasi ini sangat berkaitan erat dengan persoalan epistemology. Menyangkut proses alienasi itu manusia pun menjadi haus akan spiritualitas keagamaan yang diyakini sebagai kebebasan dari derita alienasi karena Tuhan adalah Pesona yang Maha hadir (Omnipresent) dan Maha mutlak.
Spiritualitas sendiri bila dilihat bukannya sebagai objek keilmuan, melainkan penghayatan posisinya justru menjadi amat sentral. Dan membantu manusia mencari kedamaian.

Manusia modern, ditekankan adalah manusia yang biasanya bertindak di comfort zone, dimana area ini adalah kenyamanan dan kepuasan dimana manusia yang meninggalinya tidak akan pernah beranjak atau enggan meninggalkan area ini, karena ia sudah merasa aman dan terlindungi, sedangkan manusia hidup berdampingan dengan apa yang kita sebut sebagai kerja keras dan usaha, dengan pelu keringat dan memutar otak namun kadang manusia keluar dari jalurnya dan menekankan kehidupan sebagai keegoan, ini menyebabkan kententraman dunia bukan berada pada genggaman. Untuk menghentikan keegoan ini haruslah kita mencari Tuhan, namun sebelum masuk ke dalam pernyataan carilah Tuhan, penulis menulis dengan cukup lantang carilah dulu cinta, cinta kepada sesama, cinta kepada orang tua dan cinta lainnya, penulis menulis bahwa Tuhan memang tidak dapat disamakan dengan manusia, namun dengan adanya cinta itu manusia diharapkan dapat sadar dan merasakan kenikmatan rasa rindu akan Tuhan.

Pencarian Makna Sebelum Kematian Datang

Apakah benar kehidupan bermakna??
Menurut penulis kehidupan sangat bermakna dimana makna itu berjenjang. Faktor usia, tingkat pendidikan, dan status ekonomi serta nasib akan mempengaruhi dalam memahami dan menghayati makna hidup. Hidup sebagai tindakan bermakna, makna itu bisa kita dapatkan bila kita mengenal akan agama yang kita anut, seperti sudah dikatakan sebelumnya agama adalah jalan yang jelas, dan acuan yang tepat sasaran. Tepat sasaran menuju kehidupan abadi yakni kematian. Merenungkan makna kematian tidak berarti lalu kita pasif. Sebaliknya, justru lebih serius menjalani hidup, mengingat fasilitas umur yang teramat pendek. Makna panjang umur meninggalkan kisah baik untuk menuju kebaikan surgawi.  Giving dan serving oriented diakui sebagai sumber kebahagiaan dan puncak prestasi

Dari kematian menuju kehidupan abadi

Kematian adalah hal yang pasti dan kematian merupakan peristiwa menakutkan, maka kebanyakan orang lebih memilih tidak memikirkannya dan berusaha menghindarinya agar bisa merasakan kebahagiaan setiap saat yang dilaluinya. Namun untuk orang pada umumnya bayang-bayang kematian yang selalu menghantui bukan karena takut akan masuk neraka tapi takut berpisah dengan duniawi, merasa masih belum melakukan apa-apa , takut kehilangan orang-orang yang disayangi, dan takut meninggal secara “dadakan”, lebih baik diawali sakit karena itu bisa saja pertanda akan datangnya kematian, insting kematian atau yang lebih dikenal dengan death instinct dalam psikologi
Padahal kematian seharusnya merupakan idaman, karena itu berarti kita setapak mendekati Tuhan. Dimana kerinduan ini dimulai dengan adanya pendalaman agama dan kerinduan ini akan terbalaskan begitu maut menyambut.

Sumber:
Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian.

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi