Wednesday, March 23, 2011

“Keajaiban Natal dibulan Ramadhan”

            Namaku Christmas ayu Septiarini, yang berarti Natal Cantik dibulan September, aku lahir dibulan ini. Orang tuaku berkata aku adalah keajaiban natal untuk mereka. Namun ini bagi mereka, tidak bagiku.

Sejumput harapan adalah keindahan ketika harapan itu menjadi sebuah kenyataan. Dan sebuah keajaiban  menjadi pesona ketika kita tau untuk apa keajaiban itu.

            Aku adalah natal yang tidak percaya pada keajaiban. Sebesar apapun keajaiban itu pada dasarnya adalah rancangan dari yang kuasa bukan karena permohonan kita.

Ini hidupku dengan kedua orang tua yang telah lama bercerai namun disatukan ketika mereka tengah sakit. Mereka bercerai ketika aku berumur 5 tahun. Kala itu ego menjadi tuan mereka dan berakhirlah aku dipangkuan waliku, Zacky.
Bukan pada nenekku atau kerabat orang tuaku, namun pada waliku yang bersumpah tak akan pernah menikah karena pernah tersakiti oleh cinta dan dia trauma akan hal itu. Tanpa pasangan bagi manusia adalah rasa sepi dan depresi sendiri, begitulah ia waliku. Ia menjadi depresi sendiri dan menyibukkan dirinya kepada pekerjaannya. Terhanyut oleh hiruk pikuk kehidupan duniawi.

Beranjaknya umur masih belum membuatku dapat mencerna apa yang terjadi. Kurangnya kasih sayang dari orang tua kandung sempat membuatku frustasi dan terpojok terlebih ketika mereka orang-orang yang lebih beruntung daripadaku mengataiku anak buangan. Itu sungguh ironi yang menyakitkan.

Bermain asyik sendiri tanpa teman, bercanda dalam kehampaan adalah kegiatan sehari-hariku. Bukan saja aku dijauhi karena dianggap gila tapi juga karena orang tuaku sendiri membuangku. Sampai umurku 7 tahun aku dipertemukan kepada ayahku yang terkena penyakit stroke,
aku yang tak pernah melihatmu yah…aku yang tak pernah kau peluk yah… dan kini kau datang padaku untuk merawatmu karena keluargamu terlalu membenci dirimu yang tamak pada kekayaan? Namun bakti anak adalah menghormati orang tuanya, maka dengan kesungguhan hati dan bantuan waliku yang depresi kami merawatnya.

Ayahku stroke ringan, badan kirinya yang lumpuh. Ia bisa saja sembuh dengan terapi yang teratur dan terjadwal, tapi apalah pekerjaan waliku, hanya seorang pegawai kantoran yang gajinya hanya cukup untuk biaya sehari-hari dan sekolahku yang cukup besar walau aku bersekolah di Negeri. Ini membuat kami tak kuasa untuk melakukannya. Mahalnya harga kesehatan sekarang membuat kami hanya merawat sekedarnya saja.
“yah…ayah…kenapa ketika kau datang semua buruk? Haruskah demikian? Aku mengeluh dan mengesah, dengarkah kau dikala tidurmu lelap kini?”
Aku mengeluh bukan karena aku berat menjalani semua ini disaat umurku baru 7 tahun, tapi aku ingin ayahku bangun dari kursi rodanya dan menyongsong memeluk aku…bisakah itu terjadi?

15 tahun…semua terkendali dan aman, aku tumbuh menjadi seorang remaja pendiam, bergerak dalam kemisteriusan, tumbuh dalam kesinisan dan luka cinta. Kini aku duduk dikelas 1 SMA, saat semua yang kusentuh adalah baru dan kukenal adalah asing. Terdiam duduk dipojokan, merenung dan tanpa teman duduk. Mereka takut padaku karena sikapku yang begitu dingin.
“Christmas…ijinlah dan pulang cepat hari ini. Ada seseorang yang ingin dan harus kautemui juga”, ucap Zack, wali yang tak mau menyandang gelar apapun dariku, baik itu paman ataupun kakak…
“baik..”, satu jawaban dan selesai…ada apa lagi sekarang? Ayahku kurasa ia baik-baik saja setelah menjalani 8 tahun terkena penyakit abadi itu.
Perasaanku kosong dan pandanganku selalu hampa. Aku menjalani hidup tanpa pernah tau apa itu hidup sebenarnya. Apakah aku ini sebenarnya hidup pun aku tak mengerti, karena semua yang kujalani dan yang bersangkutan tentang hidupku sendiri tak pernah kutahu…

Kenapa orang tuaku bercerai?

Kenapa aku dititipkan pada waliku, bukan pada kerabat orang tuaku?

Kenapa tak ada cinta dari waliku?

Kenapa ia bisa terluka oleh cinta?

Kemana kerabat keluarga orang tuaku, tak mencari cucunyakah mereka?

Kenapa ayahku datang disaat ia sakit, ketika sehat kemana sajakah ia?
Rumah, 17.00…
“kenapa setelat ini?” tanya Zack padaku, yang kini merangkul tas.

“aku membantu guruku”, jawabku,

“tasmu?” tanya ia kembali, dan aku memperlihatkan tali ranselku, terputus…

“nanti saja kita bahas, ayo ada yang mau bertemu denganmu…”, aku pun mengikutinya kearah kamar ayahku. Ada apa?

“Mawar, ini dia…”, ujar Zack pada seorang perempuan, rambutnya panjang terurai,

“ah…cantiknya”, ucapnya padaku, ah…dia yang sangat cantik, pikirku. Mukanya sangat babyface dengan bingkai rambut ikal itu dia kelihatan seperti boneka, dan gaun berwarna merah maroon itu membuat kulit putih dan mulusnya menjadi bersinar.
“ini aku bibimu…”, bibi? Benarkah ia bibiku?
Setelah 15 tahun aku hidup dan kini ia kembali padaku dan menyatakan dia bibiku? Yang benar saja. Anak bodoh mana yang mau percaya…setelah dicampakkan orang tuanya dan aku diasuh oleh bukan kerabatnya, malah waliku yang bahkan tak mau menceritakan siapa keluargaku, ia seenaknya mengaku-aku?
“bagaimana sayang? Sekarang ayo kita pulang…”, ujar orang yang berkata bibi itu padaku, reflek aku bergerak menjauh,
“pergi kau…”, ucapku tegas dengan mata tersirat amarah, lalu pergi…
It’s so suck…
“Christ…jangan begitu pada bibimu…!! Christ mau kemana kau???!!!”
Aku berlari sekencangnya, menjauh dari rumah itu, mencoba lari dari kenyataan dan keterpurukan dalam hidup. Adakah mereka yang lebih malang nasibnya daripadaku didunia ini? Rasanya aku ingin tertawakan hidup ini, hidup yang rasanya tak pernah berpihak padaku…

Kini aku benar-benar sendiri dalam kesendirianku, apakah ini yang kuinginkan? Oh Tuhan, apakah engkau ada atau hanya imaji manusia yang mengharapkan sesuatu untuk dipegang menjadi hidup? Oh Tuhan, apakah benar engkau hidup, namun aku tak percaya kau……TUHAN ITU TIDAK ADA, JIKA IA ADA MAKA KINI IA TERTAWA MELIHAT AKU YANG SENGSARA!!!

Aku berpegang pada keputusasaan tanpa pernah menemukan pintu keluarnya.
“Mawar, maafkanlah anakmu itu..”, ujar Zack pada gadis itu,

“tidak, harusnya akulah yang minta maaf padanya, aku yang tak pernah memberitahunya kenapa semua ini bisa terjadi. Aku yang tiba-tiba datang dan menyuruhnya ikut. Tentulah sekarang walau kujelaskan apapun itu faktanya, kenyataan yang ada adalah dia akan tetap membenciku dan seluruh yang berkaitan denganku…”,

“jangan begitu, kuyakin dia akan menerimamu walau kini engkau buta dan terkena kanker hati. Hidupmu tinggal sebentar lagi. Aku yakin dia dapat menerimamu seperti dia menerima ayahnya yang sekarang..”, sanggah Zack,

“tidak Zack, biarkan yang ada tetaplah ada, dan biarkan misteri tetaplah menjadi misteri. Karena memang jikalau harus begitu membuat dia tetap bertahan hidup…”,  ujar wanita itu dan kini merebaklah tangis wanita yang sedari tadi ia tahan..
Kejadian itu sudah berlalu sejak 8 tahun yang lalu, dan ayahku masih sama seperti dulu, layaknya zombie, ia hidup namun tak pernah ada sinar penghidupan yang menunjukkan ia akan sembuh.
Semua sudah terlupa dan kulupakan, bagaimana dulu ayahku datang dan bagaimana ia yang mengaku bibiku terus datang sampai setahun kemudian berhenti mengunjungi kami. Waliku kini sudah pergi kealam sana. Yang sehat yang cepat mati, pikirku ketika waliku meninggal. Ia yang begitu angkuh dan mengagungkan betapa hinanya cinta, ia yang tersakiti oleh cinta dan dilukai cinta, mati begitu saja ditangan cinta itu sendiri. Tepat 3 tahun yang lalu, ia kembali bertemu dengan wanita cinta matinya, namun wanita itu kini menggandeng seorang gadis cilik yang selalu tersenyum. Dan aku tau itu bukan anak dari Zack dan aku yakin itu, namun apa yang tegas kupikirkan dan wanita itu katakan sesungguhnya adalah yang bertolak belakang.
“hay Zack, ini anakmu, ini anakku, ini anak kita berdua…”, ucapnya membuatku tertegun dan Zack diam,

“anakku?” tanya Zack pada wanita itu,

“ya, sayang. Ini anak kita…”, tegas wanita itu membuatku ingin berlari kedapur dan mengambil pisau yang baru saja kuasah lalu menghujam jantungnya. Mana mungkin anak sebesar 5 tahun itu anaknya, karena aku disini, aku disini setia mendampingi Zack…setia? Apa yang terjadi padaku? Ada apa ini? Kenapa aku dengan Zack? Ada apa dengan hatiku ini?
Kejadian yang berlangsung cepat dan kesadaran yang begitu terburu-buru. Ini belum dapat kuterima. Aku menyadari sesuatu yang selama ini tak kusadari.

Kejadian Zack dengan cinta matinya dan aku dengan hatiku yang perih menyadarkanku akan perasaanku pada Zack, ia yang kini beranjak semakin tua. Rupanya selama inilah yang kurasakan padanya…haruskah aku begini? Aku tak mau disakiti cinta, cinta itu setan dan cinta itu bullshit…namun aku mau Zack, aku mau ia tak pernah tinggalkan aku!!!
“mengertilah, dia anakku? Dan aku harus bertanggung jawab…”, ujar Zack padaku yang mengurung diri dikamar karena keputusannya yang menurutku sangat tak masuk akal. Ia mau menikahi wanita yang jelas-jelas hanya memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri, walau aku sendiri tak tau apa itu kepentingannya.

“Christmas, ayolah keluar…jangan buat Zack dan ayahmu sedih…”, sahut Zack lagi, dengan langkah berat aku pun keluar,

“kau mau tanggung jawab pada orang yang bukan anakmu, dia itu wanita murahan”, teriakku, ‘praaakkk’ Zack menamparku, ini kali pertama ia menamparku dan itu demi wanita?

“itu kenyataan!! Kau sendiri tau dia bukan anakmu, apa cintamu sendiri yang membutakanmu!! Tapi kan kau sendiri tak pernah mengerti Cinta!!” kini aku berteriak dengan deraian air mata,

“jangan katakan itu tentangnya, apa maumu!” geram Zack padaku,

“apa mauku? KAU DIA TAK PERNAH MENCINTA, YANG BENAR ADALAH AKU DAN KAU, KITA SALING CINTA!!” teriakku membuatnya termangu, dan segalanya terkumpul menjadi satu, kebingungan yang sangat dalam melandanya. Ia sendiri tak percaya pada pendengarannya,

“kau mencintaiku?”, bisiknya membuatku berlari keluar rumah…

Apa yang kulakukan, apa yang kukatakan, aku melakukan apa, ini kebodohan terbesarku……

Segala teriakan dan tangisan juga pernyataanku tak urung membuatnya mengendurkan tekadnya untuk menikahi wanita murahan yang kuyakin hanya ingin membuat status pada anaknya saja. Mereka menikah hanya pengakuan Negara saja, tanpa peresmian dalam tempat ibadah, karena pernikahan campur agama ini membuat mereka tetap keukeuh untuk memeluk agama masing-masing secara rakus. Kalo tak mau pindah agama kenapa bersikeras menikah? Karena ini tak akan lama…

Benar saja, hidup itu singkat tanpa diduga. Ketika panjang ya jadi syukur ketika pendek ya jadi musibah.
“apa???!!! Itu tak mungkin, baik aku akan segera kesana…”, siang itu, wanita yang bernama Aslami itu dibuat bingung dan kelimpungan oleh telfon dari handphonenya…

“em, Christmas…maukah kau jagakan Aslamia untukku?”, tanya Aslami padaku yang sedang duduk disebelah ayahku. Ibunya Aslami dan anaknya Aslamiah, seperti anak kembar aja. Aku hanya mengangguk tanpa memandangnya.
Anak itu, Aslamia, berumur 8 tahun. Dengan wajah yang terus tersenyum membuatku jengkel dan dongkol. Karena kau, aku harus kehilangan Zack. Ingin rasanya aku memendam kepalamu dalam bak kamar mandi sampai tak ada kehidupan lagi dalam jiwamu yang masih rapuh itu.

‘’kriiinggg…kriingg’’ suara telfon memecahkan keheningan dalam rumah ini, membuatku dengan malas-malasan mengangkatnya.
“hem..”, ucapku tanpa mengatakan hallo,

“rumah saudara pak Zack dan Bu Aslami?” ujar seorang perempuan dari ujung sana, membuatku kembali berdeham,

“bisakah anda ke Mitra Hospital sekarang juga. Ini menyangkut tentang kecelakaan mereka berdua…”, kecelakaan?? Ada apa ini,

“baiklah…”, ujarku. Ada apa lagi sekarang, bisakah hidupku tenang sedikit tanpa bencana apapun?

“hey, Mia. Diamlah disini dan jaga punyaku”, ucapku judes sambil menunjuk ayahku, membuatnya mengangguk. Aku bergegas ke Rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh dari rumahku.

“saya kerabat dari saudara Zack dan Aslami”, ucapku pada resepsionis yang kemudian memanggil seorang perawat, ia mengantarku entah kemana.

“Ruang Mayat” mereka meninggal?

“mereka telah meninggal..”, ujar perawat itu membuatku menaikkan alisku, keduanya? Secepat ini?

“apa yang terjadi?” tanyaku,

“mereka kecelakaan dalam lokasi yang berbeda. Pak Zack meninggal dalam kecelakaan mobil didaerah tol barat dan bu Aslami meninggal karena penodongan didaerah Perumnas…”, 
apa? Untuk apa seorang Aslami ke perumnas dan seorang Zack ke tol barat dengan mobil, dia tak punya mobil jadi itu mobil siapa? Begitu banyak pertanyaan dikepala kecil ini, suatu pertanyaan yang belum terjawab setelah sekarang itu semua berlalu.

Aslamia kecil kini tinggal dan hidup bersamaku dan ayahku. Aku yang kini ganti bekerja, menghidupi Mia kecil dengan kehidupan sekolahnya dan ayahku yang sekali lagi masih berkutat dengan penyakitnya. Mia tak kupindahtangankan karena ternyata kedua orang tuanya dengan seenaknya melimpahkan kepengurusan Mia kepadaku sebagai walinya. Wali yang bahkan aku sendiri tak pernah menyadarinya. Kini aku pun menyandang gelar S1 dibidang Akutansi dan bekerja di Kedubes Brunei.
“Christmas kenapa aku tak boleh memanggilmu bibi?” tanya Mia padaku disore itu membuatku tak kunjung meliriknya.

“bukan urusanmu”, jawabku,

“maukah kamu kupanggil bibi?” tanyanya lagi,

“diam…”, ucapku lalu pergi. meninggalkan Mia kecil yang dikerubungi sedih dan derita. Bukankah dulu aku pernah mengalaminya dan itu terasa sangat menyakitkan. Kini kenapa dengan kesadaran penuh aku melakukannya kepada orang lain. Jahatnya diriku…
 -0-
 “kau jahat?” ucap seseorang padaku, ia laki-laki yang sudah sangat kukenal, Aldhy.
“apa urusanmu?” tanyaku kembali, membuatnya kemudian bermuka berfikir.

“aku mengenalmu sejak smp dan baru disini, ditempat kerja kita bisa saling berbincang. Tak merasa anehkah kau?” tanyanya lagi,

“tak…”,
“ayolah, sejak dulu kau selalu murung dan sedih. Kenapa kamu seperti langit gelap tanpa mentari sih? Ubahlah sifatmu, dekat denganmu rasanya seperti dekat dengan sebongkah es batu dari Antartika. Begitu mematikan…”, penjabaran yang cukup menyakitkan bung.

“berhentilah berkicau…”, ucapku lalu pergi. aku membenci semua yang harus kubenci, dan aku membenci pada apa yang tak pernah kusukai.

“aku menyukaimu sejak SMA, aku menyukai betapa pintarnya bunga ini, tapi sikapmu seperti itu meruntuhkan dan mengoyak rasa juga hatiku…”, ucapnya padaku yang hendak beranjak pergi, ia menyatakan cinta kosong…

“aku tak tertarik…”, ucapku lalu melangkah pergi. meninggalkan dia dengan rasanya yang telah terkikis kecewa.

Umurku telah beranjak 24 tahun, dan aku masih belum bisa menerima cinta. Akankah aku jadi seperti waliku?
“cinta cinta…”, bisik seorang lelaki padaku, ia duduk bersamaku ditaman. Dalam jarak berjauhan itu ia hanya diam dan terus berbisik.

“berisik…”, ucapku yang tengah menghabiskan bekal makan siangku.

“kau terganggu? Tak ada manusia yang patut terganggu…”, ujarnya,

“tapi aku terganggu..”,

“itu urusanmu…”

“menyebalkan”,

“kau itu cuman manusia hina, besok juga palingan dah mati”,

“gila”,

“kau itu mainan, sudah saatnya yang kuasa bosan pada hidupmu”

“sok tau”

“hahaha, memangnya kau percaya pada yang diatas? Kau sama gilanya denganku…”

“kau bahkan hanya diam dan diam, kau ini cuman seonggok sampah yang tak bernilai harganya…”,
Ucapan demi ucapan gila itu membuatku hanya diam terpaku.

Dia adalah pujangga sinting menurutku…

Namun itu yang membuatku kembali lagi esoknya ditaman itu…dan ada ia,

Lelaki itu jangkung dengan pakaian kumal namun kulitnya bersih…

“kenapa? Sudah percaya pada Tuhankah engkau sehingga kau kembali?” tanya lelaki itu padaku,

“tidak…”,

“tidak itu jawaban neraka dan surga. Hahaha, ketika menyakini sesuatu itu merupakan pegangan kita bisa saja tidak itu adalah neraka..”,

“lalu?”

“lalu mati…sudah saatnya awan menyibak nestapa dalam balutan keterlukaan hati…”, kata-katanya makin tak kumengerti dan membuatku bingung…

“bibi, sebentar lagi bulan Ramadhan…”, ujar Mia kecil padaku, disaat aku pulang dari kerjaku,

“lalu?” tanyaku,

“aku libur seminggu, pada awal puasa…”, jawabnya imut,

“lalu?” tanyaku kembali,

“emm…bisakah bibi sadar akan keberadaanku dan melihatku seutuhnya?” 
ucapannya membuatku melihatnya, melihat mata bulat dari mahkluk kecil pengganggu ini. Ia begitu polos, dengan jilbab yang selalu dipakainya, ia terlihat semakin imut. Aku baru menyadari mahkluk kecil yang kini tinggal dan mengabdi pada ego yang tumbuh dalam diriku ini sangat setia. Dia kecil, berjilbab, rajin shalat…apalah yang kurang dari kemandiriannya. Bahkan ketika ia terpaksa tinggal dengan aku yang beragama berbeda dengannya? Ketika aku tak memperdulikan bagaimana perkembangan psikisnya? Ketika aku sendiri tak percaya Tuhan namun masih berpegang pada keyakinanku. Keyakinan kosong menurutku…
“bisalah apa yang kulakukan untukmu?” tanyaku sejenak kemudian, membuat wajah bulat itu membentuk senyuman,

“aku ingin les ngaji pada Ustadzah masjid dekat sini, ia juga yang akan mengajarkan bibi mengaji sepertiku…”, ucapannya membuatku tersentak,

“menurutmu apa aku ini?” tanyaku
“bibi itu orang baik yang nyasar dan kebingungan. Dan menurutku pegangan bibi tak kuat sepertiku. Maka Bibi harus mengikutiku. Bersama-sama kita mengaji, pasti mengasyikkan…”, jawabnya sambil tertawa, didalam tubuh kecil itu ada seseorang yang sangat dewasa menyadarkanku akan keberadaanku sendiri.

“Mia…”, ucapku lalu berlutut didepannya, menyejajarkan pandangan,

“kita tinggal di Negara bebas beragama, Mia punya agama dari orang tua Mia, begitu pula dengan Christmas. Christmas bertugas merawat Mia dan membuat Mia tetap dalam jalurnya. Jadi, biarkan Christmas dalam jalur Christ sambil memperhatikan Mia. Mengertikah Mia?” jelasku, cukup pusing menemukan kata-kata penjelas yang tepat untuk anak seumuran dia.

“baiklah, kalo begitu buktikan pada Mia lebih dahulu, bagaimana Agama Christ dapat menjadi kebaikan bagi Christ sendiri…”, ucap Mia begitu tegas lalu pergi.
Aku menangis dalam gelap, baru kusadari aku telah kehilangan Agamaku, agama yang menyakini Tuhan, telah hilang dariku imanku sendiri, dan tanpa kusadari aku telah lama tertelan kegelapan itu…bahkan doa-doa yang dulu sempat kuhafal sebelum aku berkata Tuhan adalah imaji saja sudah kulupakan..
“ayah, lihat betapa bejat anakmu sekarang ini. Yang sudah tak punya agama dan belum meyakini kebenaran agama itu sendiri. Ya Tuhan apa yang harus kulakukan…?” ucapku, haaah sudah lama aku sendiri tak menyebut nama Tuhanku…
Malam yang beranjak kelam membuatku melangkahkan kaki kekamar Zack yang kini diubah menjadi kamar Mia, kamar berwarna pink cerah dengan gorden yang dihiasi hasta karya Mia. Mia sedang tak ada, dia menginap dipesantren dekat rumah sini, untuk memperdalam ilmu ngajinya. Seorang anak yang tak begitu saja langsung merasa jatuh dan merana, tidak sepertiku…Mia Oh Mia…

 -0-
 “ajarkanmu doa Bapa Kami?” ucap Aldhy seperti tak percaya pada pendengarannya sendiri atas apa yang kukatakan,
“kurang jelaskah?” tanyaku padanya,

“ya tapi…ketika komuni pertamamu, lalu krismamu? Kau sangat hafal dan bahkan semua doa kurasa kau sanggup sekali?”, ujar Aldhy padaku, membuatku hanya tersenyum sinis, aku sendiri bahkan tak mengerti kenapa aku bisa meminta pertolongan ini padanya.

“hem, jangan tersenyum sinis begitu. Dengan senang hati aku akan mengajarkanmu…heem, bagaimana ketika sepulangnya kantor nanti kita mampir dulu disuatu tempat?” tanya Aldhy, membuatku harus berfikir seribu kali, perawat ayahku sedang mau cuti hari ini, sepulangnya aku dari bekerja ia akan langsung pergi kekampungnya.

“aku tak bisa meninggalkan ayahku..”, jawabku singkat membuatnya lalu menggaruk kepalanya,
‘’kriingg..’’ ringtone hpku berbunyi, ada telfon masuk… dari Mia, ada apa dengan dia?
“aoo…bibi?” ujarnya ceria, memangnya sudah seminggu ya dia dipesantren?

“ya ada apa?” ucapku,

“tak merindukanku kah bibi barang sebentar saja. Aku sudah pulang, nih sudah seminggu. Namun aku tak dapat menemukan kunci rumah dimana-mana”, ujarnya menggerutu, dasar bocah ini, dan tanpa kusadari aku tersenyum.

“kusimpan dibawah pot…”, jawabku,

“iich…potnya kan buanyak, yang mana?” tanyanya lagi membuatku ingin tertawa, dia itu bawel banget…

“ya dipot warna ungu lah…”, ucapku disertai cekikan, karena pot dirumah itu ungu semua dengan hijau sebagai bercaknya.
“becanda deeh, dah mau kebelet ini…”, ujarnya geregetan,

“iya..iya, di pot Ungu dengan bercak polkadot. Oh iya, bibi mau keluar dulu mungkin sampai larut. Tolong jagakan Ayah ya…”, ucapku pada Mia yang disertai,

“siap Bozz…”,

“kau tersenyum?” ujar Aldhy sesudah aku menutup telfon dari Mia, membuatku menaikkan alis,

“memangnya tak boleh?” ucapku sambil tersenyum,

“lebih cantik deh, hehehe…jadi gimana ayahmu?” tanya Aldhy padaku,

“Mia dapat menjaganya..”, jawabku,

“Puji Tuhan, niat baik selalu disambut baik…”, jawab Aldhy membuatku tersenyum.
Jadilah sepulangnya kantor aku dan Aldhy mampir kesuatu tempat, gereja…Rumah Tuhan yang bertahun-tahun tak kukunjungi, aku merindukanmu Tuhan, walau aku belum menyadari apa saja sebenarnya yang kau lakukan untukku.
“ayoo…pasti kamu sudah lama tak kemari, kebetulan hari ini ada misa Jumat pertama. Ini misa perdanamu sekembalinya ke jalan Tuhan…”, ucap Aldhy membuatku tersenyum, haruskah aku kembali secepat ini disaat aku sendiri masih meragukan keberadaannya?
Misa yang dihadiri oleh segelintir orang itu malah membuat semua khusyuk dengan doanya dan pujiannya, membuatku sebenarnya risih, sekembalinya aku malah membuatku tambah canggung. Namun, untunglah adanya Aldhy membuat canggung dan risihku hilang sedikit…
“misa jumat pertama itu memang agak sepi, namun ya begitulah hidup. Kadang meluangkan waktu rasanya sulit tapi ya tetap semua harus disyukuri…”, ujar Aldhy yang sebenarnya agak membuatku bingung,

“kalo emang yang datang sedikit gitu, mending gak usah diselenggarain aja kali..”, celetukku sinis,

“eitz, ini pengabdian. Sedikit apapun yang datang mereka adalah yang rindu akan keberadaan Tuhan. Walau yang datang cuman 5 orang saja, Misa harus tetap dilaksanakan…”, jawab Aldhy sambil tersenyum, kami berbincang didepan ruangan yang disebut Sangkristi, ruangan tempat ganti pakaian Pastur dan para arakannya.

“masuklah…”, ucap Pastur yang ternyata belum mengganti bajunya, menyuruhku masuk.

“masuklah, tenang saja. Gak bakal digigit kok..”, ujar Aldhy sambil tertawa, dan dengan langkah yang sangat canggung aku masuk kedalam ruangan yang ternyata kecil namun muat beberapa orang, ruangan itu dipenuhi dengan jubah dan beberapa perlengkapan Misa.
“jadi apa yang harus saya lakukan?” ucapku canggung dan gemetar,

“kemarilah domba yang tersesat, berlututlah dihadapanku…dan buatlah pengakuan dosa terlebih dahulu padaku…”, ujar pastur itu,  aku pun menuruti sebagaimana yang dikatakannya,

“bisakah engkau bimbing aku?” tanyaku dan jadilah aku dibimbing olehnya. Pengakuan dosa yang cukup singkat karena aku tak mengerti apa yang harus kukatakan…

“kembalilah kemari kalau kamu telah siap menyerahkan dirimu sepenuhnya pada imanmu, keyakinanmu, agamamu, dan pada Tuhanmu…dan ketika kamu siap menerima kehidupan yang baru dalam naungannya… imanmu menyelamatkanmu”, ujar pastur itu sambil tersenyum lebar padaku, membuatku merasa diterima.

“sudahkah? Ayo kita ke Goa Maria…”, ajak Aldhy membuatku mengiyakan lalu mengikutinya, menuju kesebuah Gua Maria yang cukup sederhana dengan kolam ikan dibawahnya…
“kita akan mulai dengan penghafalan doa-doa dan maknanya, aku memang tau sedikit tapi aku punya buku panduan yang menjelaskan tentang maknanya…”, ujar Aldhy dijalan, kami sedang dalam perjalanan pulang menaiki motor Aldhy,

“baiklah…”, ujarku dan kami terus diam sampai tiba dirumahku.
-0-
  “assalamualaikum ka Christmas…”, sapa Mia padaku, ia baru saja pulang setibanya aku dirumah, dengan membawa mukena dan al-quran,
“darimana selarut ini, ini sudah jam 10 malam…”, tanyaku,

“ini bulan ramadhan, tadi abis tarawih ada pelajaran mengaji dan pengajian bareng. Tenang aja tadi aku bareng Shinta kok, tetangga sebelah”, ujar Mia padaku, membuatku mengingat Ramadhan itu ada tarawih ya?
“eh, ada paman Aldhy. Assalamualaikum paman…”, ujar Mia,

“walaikumsalam perwakilan dari Christmas dan walaikumsalam dari Paman Aldhy Mia cantik…”, ujar Aldhy sambil tersenyum,

“masa salam diwakilkan…hahaha, ada ada aja Paman…”, sahut Mia sambil tertawa,

“biar pahala salamnya bibi Christmas jadi ke Paman Aldhy. Hehehe…”, jawab Aldhy sambil tersenyum,

“masuklah dan tidur, nanti pagi kamu Sahur kan?” suruhku, ia pun masuk,

“tak apakah kita ucapkan salam itu?” tanyaku pada Aldhy, namun belum sempat terjawab, Mia keluar lagi,

“berdua itu haram, ada setannya, bukan muhrim. Cewek cowok belum berikat. Mending ngobrolnya besok aja pagi atau siang agar tidak menimbulkan fitnah…”, ujar Mia pada kami berdua, membuat kami berdua tertawa lalu bergegas mengucapkan sayonara,

“yang kecil lebih mengerti tentang agama niih…”, celetuk Aldhy pada Mia yang masih berdiri didepan pintu,

“ibunya membesarkannya dengan baik dan sangat bernuansa islami sepertinya…”, ucapku sambil memandangnya.
Si kecil yang hafal betul pada kebiasaan islamnya dan sangat patuh pada ajarannya, tak terkekangkah ia pada agamanya sendiri yang menurutku banyak aturan itu??
“kamu gak terkekang apa dengan agama yang begitu merepotkan dengan banyak larangan seperti itu?” ucapku kala itu disaat sahur,

“hem, ya kak…tidak dong, Islam itu luwes, saat kita melaksanakannya dan mematuhi aturannya maka Hidup akan terasa nikmat dan itu berarti kita hidup dalam jalannya. Namun bukan berarti juga sejalannya hidup Mia dengan patuh aturan tidak bisa salah juga”, ujarnya,

“kok bisa salah juga?”, tanyaku ingin tau,

“ya bisalah ka, manusia itu cacat, karena kelebihan maka ia menjadi terlihat lebih sempurna daripada binatang. Semua ajaran Rasullulah gak semuanya bisa diartikan dengan pas. Bisa aja salah arti, yah kalo bisa sih jangan juga ya…dah gitu kadang mulut gak bisa dijaga walau udah habis-habisan didoain, hehhe…ada aja sentilan nakal dari mulut, kuping atau mata…”, jelas Mia membuatku mengangguk, rasanya aku duduk dengan seseorang yang pandai ilmu. Walau berbeda jalur sebetulnya denganku.
-0-
“sebetulnya cuman nama yang membedakan agama kita dan agamanya. Inti pengajarannya tetap sama, saling mengasihi satu sama lain dan mengasihi yang diatas dan juga perdamaian yang terpenting”, jelas Aldhy padaku dihari minggu itu seusai kami beribadah.

“oh ya lalu soal yang salam itu, tak apa sih sebenarnya kita berucap demikian ya, toh itu bahasa Arab dan karena Islam pusatnya disana menjadi Bahasa Islam. Namun maknanya sama, Asslamualaikum ya artinya syaloom, walaikumsalam ya bisa dibalas syaloom juga…hehhe, ya gitu dah pokoknya…”, ujar Aldhy, memberitahuku apa yang dia tahu, sesama orang awam itu lebih mudah dimengerti rupanya tapi ya gak nambah ilmunya, hehehe…
Semakin kesini, semakin aku mengerti tentang apa itu imanku sendiri… membuat hidupku lebih baik sekarang. Masalah yang dahulu pun rasanya terlupakan begitu saja, juga tentang lelaki berbaju kumal yang kini tak pernah kutemui lagi, entah pembicaraan yang aneh itu malah membuatku berfikir. Ayahku pun sekarang kuajak untuk beranjak dari rumah dan mulai menggereja. Aktif dilingkungan dan gereja membuat hati dan pikiranku senang, begitu pula dengan Mia yang aktif di masjid dan sekolah, mengikuti semua pengajian dan pelajaran agama, mendapatkan nilai memuaskan.

Saat saat seperti ini rasanya hidupku sangat lengkap dan indah tatkala aku masih belum tau siapa ibuku.

“wah bibi terlihat beda…”, celetuk Mia kala itu saat aku, ayahku yang duduk dikursi roda, dan dia menonton tv,

“karena imanku menyelamatkanku sayang…”, ucapku sambil tersenyum,

“jadi, segala yang lalu yang membuat perih telah dilupakan?” tanya Mia lebih lanjut membuatku diam sambil tersenyum,

“entahlah, biar bagaimanapun sekarang yang aku lakukan adalah bersyukur dan berharap makna namaku terwujud”, jawabku,

“makna nama bibi memang apa? Rasanya dari dulu sampai sekarang aku belum tau nama panjangnya Bibi?”

“Christmas Ayu Septiarini, natal cantik dibulan September”,

“waaah, eh, tapi kan Natal perayaan bibi itu adanya dibulan Desember?”

“Kamu tau natal?” tanyaku

“tau, kelahiran Tuhan Yesus kan?” jawabnya,

“yap, dan itu merupakan kebahagiaan bagi seluruh dunia. Mungkin ibu bibi merasakan hal itu juga namun dibulan September. Makanya namanya itu…”, ucapku,

“hoo, oke dah…”,
2 orang yang berbaur menjadi satu, bersatu dalam perbedaan dan saling menerima cerita masing-masing, hidup penuh perdamaian…

Bahkan dirumah ini kini tergantung ayat suci Al-quran yang bersebelahan dengan ayat suci Alkitab, Foto Yesus dan Bunda Maria juga Foto para petinggi islam penginspirasi Mia, Al-quran yang bersanding dengan alkitab dan puji syukur, juz amma yang bersanding dengan buku Rosario, tasbih yang bergandengan dengan Rosario…

Perbedaan itu adalah indah kawan, ketika engkau saling menghormati, kasih adalah jembatan, dan menyayangi adalah landasan hidup.

Hidup begitu indah ketika engkau mensyukuri apa yang ada tanpa pernah mengeluh dan terus merajuk, ketika engkau pasrah dan berserah diri. Cahaya ada didalam hatimu, ketika engkau putus asa dan berpaling darinya cahaya itu akan redup karena dirimu, namun ketika engkau putus asa dan menghadap padanya, maka engkau akan menemukan cahaya itu, walau setitik namun itu adalah pengharapan.

Aku menikah dengan Aldhy secara katolik dan Negara pada umur 27 tahun, disaat aku merasa sudah matang dalam agama dan penghidupan meski lebih banyak lagi yang harus kupelajari. Dan Mia secara resmi kuangkat sebagai anak angkat, dan ayahku kini telah menghadap pada sang khalik setahun sebelum kami menikah. Ia yang tersenyum untuk terakhir kalinya lalu pergi. melayang bebas, tanpa beban…tapi benarkah itu?

Aku merasa ia masih berhutang padaku, dan aku meyakini, hutang itu akan dibayar lunas oleh seseorang yang diutus Tuhan kemari.
“banyak aja ajaran sesat, hii ngerii”, ujar Mia, yang kini berusia 15 Tahun, dan bersekolah di sekolah Al-azhar dengan bantuan beasiswa,

“jangan sampai kamu terjerumus tuh”, celetukku padanya,

“jelaslah, imanku tak kan menyesatkan aku…hehehe, gitu kan bi…”, ujar Mia padaku, dan aku hanya mengangguk.
Hidup bersama sekian lama dengan perbedaan pegangan tak lantas membuat kami menjadi terseret satu sama lain, walau kadang ada hasrat untuk menunaikan ibadah secara kompak, namun itu kami biarkan jadi angin lalu. Aku mengingatkannya untuk terus mengaji dan secara rutin menegurnya menjalankan shalat 5 waktu bila ia lengah, ia pun dengan rajin mengingatkan aku ke gereja. Melengkapi ketika lengkap.

Dan kini kehidupanku semakin  lengkap dengan hadirnya sang bayi pada bulan Ramadhan ini. Ini ramadhan keduaku yang penuh berkah dan penuh keajaiban natal, disaat aku ulang tahun disaat itu pula bulan Ramadhan. Aku sungguh merasakan keajaiban natal dibulan Ramadhan ini… terimakasih Tuhan…

Engkau berikan aku Mia, engkau berikan aku pengharapan pada hidup, engkau bukakan mata hatiku yang selama ini tertutup untuk menjadi berkarya dalam namamu.
“namanya Zita Reymia…”, itu nama untuk anak pertamaku yang berjenis kelamin perempuan, menambah kebahagiaan keluarga kecil ini,

“asik namaku disisipkan…”, ujar Mia riang,

“iya dong, yang menjagaku selama hamil kan Bibi Mia…”, ucapku yang kini menggendong Zita kecil,

“wah jadi aku gak niih?” goda Aldhy, suami tercintaku, membuatku hanya tersenyum,

“kan kalo kamu yang nyumbang…hehhe”, ucapku membuat seruangan itu menjadi tertawa. Keluarga kecil yang terberkatilah kami…
Masalah yang tertunda untuk diselesaikan itu, kini berangsur hilang. Rasanya segalanya yang lalu adalah tidak penting ketika kebahagiaan merayap dalam kehidupanku kini.

1 comment:

  1. Kereeen bagus banget ceritanya.. Aku pikir ini kisah nyata.. 👍👍👍

    ReplyDelete

  • Etika Profesi Akuntansi