Monday, February 21, 2011

BAB 1


BAB I
“ Sistem Perekonomian Indonesia “
Sub Pokok Bahasan:
1. Arti Sistem
2. Perkembangan Sistem Perekonomian di Indonesia

1. Arti Sistem
                Sebuah system pada dasarnya adalah suatu “ organisasi besar “ yang menjalin berbagai subjek (atau objek) serta perangkat kelembagaan dalam suatu tantanan tertentu. Subjek atau objek pembentuk sebuah system dapat berupa orang-orang atau masyarakat, untuk suatu system social atau system kemasyarakatan, mahkluk-mahkluk atau benda alam untuk suatu system kehidupan atau system lingkungan, barang atau alat, untuk suatu system peralatan; data, catatan, atau kumpulan fakta, untuk suatu system informasi; atau bahkan kombinasi dari objek-objek tersebut. Himpunan subjek atau objek itu belum dapat disebut sebagai suatu system apabila tidak ada perangkat kelembagaan.
                Perangkat kelembagaan yang dimaksud meliputi wadah atau tempat subjek (objek) itu berhubungan, cara kerja dan mekanisme yang menjalin hubungan subjek (objek) tadi, serta kaidah atau norma yang mengatur hubungan subjek (objek tersebut agar serasi)
 1.1 Sistem Ekonomi dan Sistem Politik
                System ekonomi sendiri adalah suatu system yang mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan.
                Sebagai bagian dari suprasistem kehidupan, system ekonomi berkaitan erat dengan system-sistem social lain yang berlangsung di dalam masyarakat. Di dunia ini terdapat kecendurungan umum bahwa system ekonomi disebuah Negara “bergandengan tangan” dengan system politik di Negara bersangkutan, ideology ekonomi berjalan seiring dengan ideology politik.
                System ekonomi suatu Negara dikatakan bersifat khas, sehingga bisa dibedakan dari system ekonomi yang berlaku atau diterapkan di Negara lain, berdasarkan beberapa sudut tinjauan seperti:
1. system pemilikan sumber daya atau faktor-faktor produksi,
2. keleluasan masyarakat untuk saling berkompetisi satu sama lain dan untuk menerima imbalan atas prestasi kerjanya,
3. kadar peranan pemerintah dalam mengatur, mengarahkan, dan merencanakan kehidupan bisnis dan perekonomian pada umumnya.
2. Perkembangan Sistem Perekonomian Indonesia
                Secara garis besar, didunia ini pernah dikenal dua macam system ekonomi yang ekstrem, system ekonomi kapitalis dan system ekonomi sosialis.
                System ekonomi kapitalis mengakui pemilikan individu atas sumber daya-sumber daya ekonomi atau faktor-faktor produksi. Setidak-tidaknya terdapat keleluasan yang sangat longgar bagi orang-per orangan dalam atau untuk memiliki sumberdaya. Prinsip “keadilan” yang dianut oleh system kapitalis ialah “setiap orang menerima imbalan berdasarkan prestasi kerjanya”. Campur tangan pemerintah atau Negara sangat minim. Pemerintah lebih berkedudukan sebagai “pengamat” dan “pelindung” pereknomian.
                System ekonomi sosialis adalah sebaliknya. Sumber daya ekonomi atau faktor produksi diklaim sebagai milik Negara. System ini lebih menekankan pada kebersamaan masyarakat dalam menjalankan dan memajukan perekonomian. Imbalan yang diterimakan pada orang perorangan didasarkan pada kebutuhannya, bukan berdasarkan jasa yang dicurahkan. Prinsip “keadilan” yang dianut oleh system ekonomi sosialis adalah “setiap orang menerima imbalan yang sama”. Kadar campur tangan pemerintah sangat tinggi. Justru pemerintalah yang menentukan dan merencanakan tiga persoalan pokok ekonomi [what (apa yang harus diproduksi), how (bagaimana memproduksinya), dan for whom (untuk siapa diproduksi)].
                Dalam terminology teori mikroekonomi, system ekonomi kapitalis menyandarkan diri sepenuhnya pada mekanisme pasar, prinsip laissez faire (persaingan bebas), meyakini kemampuan “the invisible hand”, dimana semuanya tergantung pada pasar.
                Sedangkan pada system ekonomi sosialis adalah sebaliknya, pasar justru harus dikendalikan melalui perencanaan terpusat, dan pemerintah secara aktif ikut bermain dalam system ini. Yang perlu ditekankan pada system ini adalah system ini bukanlah system ekonomi yang tidak memandang peranan capital.
                Diantara kedua ekstrem system ekonomi tersebut, terdapat sebuah system lain yang merupakan “campuran” antara keduanya, dengan berbagai variasi kadar dominasinya, dan juga dengan berbagai macam istilah lainnya. System ekonomi campuran pada umumnya diterapkan oleh Negara-negara berkembang atau Negara-negara di Dunia Ketiga. Beberapa diantaranya cukup konsisten meramu resep campurannya; dalam arti kadar kapitalismenya selalu lebih tinggi (contohnya filiphina), atau bobot sosialismenya senantiasa lebih besar (contohnya India).

sumber: Dumairy (Perekonomian Indonesia)

No comments:

Post a Comment

  • Etika Profesi Akuntansi